ENCIKEFFENDYNEWS.com

Kita manusia biasa, bukan Malaikat dan bukan Rasul, karena itu tidak akan pernah sunyi dari berbuat salah dan khilaf. Karena itulah kita harus senantiasa beristighfar memohonkan ampunan Allah SWT. Rasulullah saw sendiri mengakui bahwa beliau setiap hari bertaubat 100 kali, padahal beliau telah dijamin masuk surga, sebagaimana sabda beliau:”Yaa ayyuhannaasu tuubuu ilallaahi wastaghfiruuhu fa-inniy atuubu fi-lyaumi miata marrotin”, artinya:”Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya. Maka sesungguhnya aku bertaubat sehari seratus kali”. (HR.Muslim)

Tentunya taubat yang dikehendaki di sini adalah taubat sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”. (QS.At-Tahrim: 8)

Malah Allah SWT memberikan dorongan dengan menyatakan kecintaan-Nya kepada orang yang mau bertaubat dan mensucikan dirinya melalui karena Allah itu Maha Pengampun, sebagaimana firman-Nya: “…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS.Al-Baqarah: 222)

Taubat nasuha adalah melepaskan diri dari maksiat atau meninggalkannya, menyesali perbuatan tersebut dan bertekad yang kuat untuk meninggalkan perbuatan itu dan tidak akan mengulanginya lagi. Taubat ini adalah yang berhubungan langsung dengan hak Allah. Sedangkan untuk pelanggaran atau maksiat yang ada hubungannya dengan manusia, maka sedapat meungkin meminta kema’afan kepada orang yang bersangkutan, serta mendo’akan agar dia juga diampuni oleh Allah SWT.

Taubat nasuha akan membuat kita jauh dari segala dosa, karena dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa ada keraguan sedikitpun, dan ini akan memotivasi diri kita untuk senantiasa mengingat Allah dan menjaga diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Dengan taubat yang demikian insya Allah hasanah fiddun-ya wal aakhirah akan tercapai sebagaimana yang dilukiskan dalam ayat 135-136 surat Ali Imran yang disalinkan di awal uraian ini.