ENCIKEFFENDYNEWS.com

Jika diurut, betapa panjangnya rentetan ketidakmampuan kita, yang bukan disebabkan karena faktor luar. Terlebih, karena ketidaksungguhan diri kita. Hasan al-Banna pernah mengatakan, ‘waktu adalah kehidupan’. Itu berarti, bahwa jika kita hidup, sudah seharusnya kehidupan ini kita ‘isi’. Memanfaatkan waktu dengan kesungguhan dalam melakukan kegiatan adalah kuncinya.

Kenapa negara kita yang kaya raya dan besar ini terpuruk? Dengan Singapura yang luasnya tidak lebih dari Jawa Timur saja kalah. Apalagi dengan negara-negara Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Ini karena orang-orang kita tidak lagi melakukan pekerjaan dengan kesungguhan. Menteri Pariwisata kita beberapa waktu lalu dalam seminar di Bali, jadi bahan olokan peserta hanya karena tidak becus berbahasa Inggris. Di Nusa Tenggara Barat dan Timur kasus busung lapar merajalela, padahal tanah air kita terkenal subur. Dulu orang Malaysia belajar di pesantren-pesantren kita. Kini, pendidikan kita, dilirik saja tidak. Awal Juni tahun ini, rombongan Malaysia mempromosikan pendidikannya di Dubai dan Pakistan. Ahli pendidikan kita, akan melawat kemana?

Marilah kita mulai dari yang sederhana saja. Rasulullah SAW pernah bersabda, jika segala sesuatu tidak ditangani oleh ahlinya, tunggulah kehancurannya. Maka dari itu, kita bisa belajar dari yang kecil.

Pertama: kita coba mengidentifikasi potensi dan kemampuan diri sendiri serta memanfaatkannya dengan maksimal. Mengidentifikasi kemampuan diri berarti refleksi diri, melihat kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Kita coba berkaca, apa kemampuan yang nampak menonjol pada diri kita, apakah itu di bidang mesin, kesehatan, administrasi, teknik, pertukangan, perhotelan, perdagangan, elektronik, komunikasi, dan lain-lain. Jika langkah pertama ini tidak tercapai, lakukan langkah kedua.

Kedua: kita perluas hubungan. Membatasi pergaulan berarti menghambat perkembangan potensi. Rasulullah SAW selalu bersama dengan sahabat-sahabat beliau jika kemana-mana pergi. Demikian pula sahabat-sahabat beliau. Menjalin hubungan dengan orang lain berarti membuka pintu potensi baru yang selama ini tertutup. Kita tidak pernah tahu bagaimana nikmatnya bisa berbicara bahasa Arab atau Inggris kalau kita tidak bertemu langsung dengan pembicara aslinya. Kita tidak akan tahu bagaimana mengoperasikan telepon genggam jika kita tidak pernah kenal dengan orang yang mampu menggunakannya. Bila langkah kedua ini tidak berhasil, karena barangkali kita tergolong introvert (tertutup), lakukan langkah ketiga.

bersambung,…