ENCIKEFFENDYNEWS.com

ISTIGHFAR & REZEKI ENCIKEFFENDYNEWS.com     Istighfar secara bahasa bermakna memohon ampun kepada Allah SWT. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, ia dapat segera memohon ampun kepada Allah dengan membaca istighfar. Mengingat setiap manusia tidak pernah lepas dari salah dan dosa, maka istighfar semestinya dilakukan setiap saat dan sesering mungkin.

Rasulullah SAW sendiri yang terjaga dari salah dan dosa (ma’sum) tidak pernah lupa membaca istighfar. Kata beliau, ”Sesungguhnya terdapat kesalahan atas kalbuku, sehingga aku membaca istighfar sebanyak seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim). Meski demikian, istighfar tidak akan berarti apa-apa jika perbuatan dosa tersebut diulang kembali. Di sinilah pentingnya mengiringi istighfar dengan bertobat.

Tobat secara bahasa bermakna kembali. Yaitu, kembali kepada jalan yang benar. Tobat seseorang baru sempurna jika disertai dengan dua hal. Pertama, perbuatan dosa atau maksiat yang pernah dilakukan dijauhi dan tidak diulang kembali. Kedua, menyesali perbuatan dosa atau maksiat tersebut dengan diiringi tekad tidak akan melakukannya lagi.
Bukan hanya itu. Istighfar ternyata juga ada hubungannya dengan rezeki dan urusan lain dalam hidup. Sabda Rasulullah SAW, ”Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah akan melapangkan setiap kesusahannya, memberi jalan keluar setiap kesukarannya, dan memberi rezeki tanpa diduga-duga. (HR Abu Dawud dan Nasa’i).
Dalam salah satu ayat-Nya, Allah SWT berfirman, ”Maka aku (Nabi Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anak, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai’.” (QS 71: 10-12).

Dalam menafsirkan ayat ini, ahli tafsir Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa istighfar dan tobat seseorang kepada Allah akan menjadi jalan datangnya rezeki, turunnya hujan yang membawa keberkahan, bertambahnya keturunan, dan melimpah ruahnya hasil bumi.

Pada dasarnya, orang yang beristighfar sedang mengakui kesalahan yang mengotori jiwanya. Ketika ia memohon ampun dan bertobat, noda itu akan terhapus dari hatinya. Hati yang bersih akan mudah melakukan kebaikan, termasuk mencari rezeki. Hati yang bersih akan mendorong seseorang untuk mendapatkan rezeki yang baik dan halal. Dari rezeki yang halal itulah turun keberkahan Allah SWT.

Sebaliknya, hati yang dihiasi dosa, akan mendorong pemiliknya melakukan kejahatan. Ia tidak akan sungkan melakukan perbuatan kotor dan tidak halal. Dengan demikian, dosa dalam hati seseorang jika tidak segera dihapus dengan istighfar dan bertobat, akan menimbulkan dosa baru lainnya.

Pada akhirnya pribadi yang kotor oleh dosa akan jauh dari keberkahan rezeki Allah sebagaimana sabda Nabi SAW, ”Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Berkaitan dengan hadis ini, Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan, ”Jika ketakwaan merupakan penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkannya dapat menimbulkan kefakiran. Tidak ada satu pun yang dapat memudahkan rezeki Allah kecuali dengan meninggalkan maksiat.” Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

“Bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang orang yang beriman agar kamu sekalian berbahagia.” (QS. An-Nuur : 31)

Datanglah ke bandara jika anda ingin melihat kebahagiaan, demikian anjuran film Love Actually. Anda juga bisa datang ke stadion olahraga, pesta ulang tahun, pesta pernikahan, juga ke mal untuk melihat kebahagiaan.
Ribuan orang berpelukan tiap hari di bandara, terutama diruang tunggu kedatangan penumpang. Disanalah orang orang bertemu dan melepas rindu. Ada anak kecil yang memeluk hangat pamannya yang datang berkunjung. Ada pula sepasang orang tua yang bergembira anaknya tiba dengan gelar kesarjanaannya setelah menuntut ilmu di luar negeri. Ada pula serombongan tua-muda yang menjemput kerabatnya sehabis menunaikan ibadah haji.

Selain bertemu kembali dengan orang yang dicintai, momen kebahagiaan tampak setiap kali keinginan diraih. Di stadion olahraga misalnya, seorang atlet yang meraih medali atau piala tak akan kepalang gembiranya. Mereka meloncat, bergulingan, berteriak, serta menebar senyum dan tawa ke semua orang. Penonton akan menambah marak momen kebahagiaan itu dengan bernyanyi gembira.
Kita akrab dengan momen momen itu. Allah swt Sang Pengasih dan Penyayang menganugerahkan jutaan momen kebahagiaan direntang hidup manusia. Tapi pernahkah kita berpikir tentang momen penting dimana justru Allah swt lah yang   berbahagia
Simaklah ilustrasi ini. Di tengah gurun tandus yang setiap butir pasirnya menguapkan hawa panas, tampak seorang musafir berlari kebingungan kesana kemari. Matanya menatap jauh. Keringatnya sedari tadi sudah kering. Panas matahari membuat kulit bibirnya terkelupas.
Musafir itu mulai berpikir tentang akhir hidupnya. Kematian akan menjemput karena unta yang membawa semua perbekalannya tak kuasa ia temukan. Di saat itulah samar samar matanya menangkap bayangan berjalan. ia songsong bayangan itu. Semakin dekat semakin dekat. Seperti terbius ia lalu berlari kencang dan memekik senang. Untanya ditemukan!

Demikianlah ilustrasi indah yang diutarakan Nabi saw menggambarkan kebahagiaan Allah swt. Kebahagiaan yang bukan hanya besar kadarnya tapi juga mengharukan. Allah swt berbahagia setiap kali hambanya memanjatkan taubat. Setiap taubat yang melintasi langit dan menyentuh Arasy-Nya. Dia sambut dengan kegembiraan seorang musafir yang bertemu kembali dengan untanya dipadang pasir. “Sungguh! Allah gembira menerima taubat hambaNya, melebihi kegembiraan seorang di antara kamu sekalian yang menemukan kembali untanya yang hilang ditengah tengah padang sahara,” ujar Nabi saw sebagaimana riwayat Bukhari – Muslim dari Anas bin Malik.



Seorang sufi menghabiskan hampir seluruh hidupnya agar dapat merasakan kehadiran Alloh swt di dunia dan akhirat. Impian mereka tak hanya di wilayah ruhani tapi juga materi. para sufi menginginkan melihat wajah Allah swt di surga kelak. Dan hanya kepada hambaNya yang bertaubatlah Allah swt akan memperlihatkan wajahNya sebab si hamba telah membuatNya berbahagia.

Ada tiga syarat yang disepakati ulama agar taubat seseorang diterima. Pertama, orang itu harus langsung menghentikan dosa itu, seperti seorang pemuda yang meninggalkan perempuan cantik yang telah ada di ranjangnya. Kedua, menyesal sepenuhnya. Penyesalan ini harus memenuhi ruang hatinya secara paripurna. Ketiga, berketetapan hati tak akan mengulanginya. itulah komitmen paska taubat. Jika perbuatan dosa itu diulangi lagi, taubat gugur karenanya. Ketiga syarat itu menjadi standar derajat taubat tertinggi yaitu Taubatan Nasuha.
Kebahagiaan Allah swt tentulah bukan kebahagiaan satu arah. Dialah Tuhan yang menyambut hamba yang berjalan ke arahNya dengan berlari. Karenanya, seorang hamba yang bertaubat akan memperoleh anugerah kebahagiaan tak terkira dari Allah swt. kutipan surah An Nuur di atas menjadi  garansinya. Kita bertaubat dan kita jugalah yang akan berbahagia. Tak perlulah dirinci kebahagiaan macam apa yang akan diraih. Kita tak akan mampu membayangkannya.

Potensi taubat seseorang berada dalam ruang yang amat luas. jangan pernah takut taubat kita tak akan diterima, demikian petuah para ulama. Pintu taubat adalah pintu yang maha besar. Selamanya pintu itu berada dalam kondisi siaga menerima taubat kapan dan dari manapun. Sabda Nabi saw : “Pintu itu senantiasa terbuka menerima taubat. Tidak akan ditutup sampai matahari terbit dari sebelah barat (kiamat).” (HR At-Turmudzi)
Maka jika hari ini ada seorang berjalan ke pintu taubat itu dengan segenap hatinya, itulah hari ketika Allah swt berbahagia. wallahu ‘alam bishshawab.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ayat di atas dengan jelas memerintahkan agar orang-orang yang beriman mengambil langkah antisipatif terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi di hari mendatang, baik untuk urusan dunianya dimana dia hidup dan berkarya, maupun urusan akhirat dimana semua yang hidup harus mempertanggung- jawabkan misi dan tugas yang diembannya selama di dunia. Dari hasil muhasabahnya, maka dia akan mempersiapkan langkah  yang tepat untuk menghadapinya. Langkah yang salah tidak akan dilakukan lagi dan diperbaiki, sedang yang sudah benar akan terus ditingkatkan.

4.            Mu’aaqabah.

                Dalam ajaran Islam, orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah punya salah dan dosa, justru orang yang baik itu adalah orang yang mempunyai kesalahan tetapi dia mau mengakuinya dan kemudian dia bertaubat dengan tekad dan janji tidak akan mengulangi perbuatan yang salah tersebut. Di dalam sebuah hadits mutawatir dijelaskan:”Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah (berdosa) itu adalah orang yang bertaubat”.(HR.Muttafaq ‘alaih).

Dan tidak cukup hanya dengan bertaubat saja, malah orang tersebut berusaha menghapus kesalahannya dengan melakukan amal-amal yang utama meskipun terasa berat. Misalnya dengan menginfaqkan sebagian hartanya disebabkan meninggalkan shalat berjama’ah. Inilah yang disebut dengan mu’aqabah, yakni memberi sanksi terhadap dirinya  sendiri karena melakukan kelalaian dan untuk mendapatkan ampunan serta redha Allah SWT.

5.            Mujaahadah.

               Yakni niat yang tulus dan tekad yang kuat dalam menjalani hidup, optimal dalam bekerja dan berjuang untuk dunianya dan untuk akhiratnya. Di era globalisasi ini memang dituntut agar manusia mampu mengembangkan potensi dirinya disertai etos kerja yang tinggi, agar dia tetap eksis dalam percaturan hidup yang penuh tantangan ini,  namun demikian  tetap pula konsisten pada ajaran agamanya.

Kita memang diperintahkan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan akhirat, namun kita diingatkan agar tidak melupakan urusan kita di dunia ini, karena dunia adalah jembatan untuk kita sampai ke akhirat.  Allah SWT menegaskan masalah ini dengan firman-Nya: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…..”. (Al-Qashash : 77).

     Kita lihat dari ayat di atas betapa Islam adalah agama yang dinamis, agama yang rasional, yang selalu menganjurkan umatnya untuk selalu terbuka,  maju, dan berhasil untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

            Demikianlah cara kita dalam menata hidup bernuansa Islam, atau boleh juga kita sebuat manajemen hidup Islami yang diperintahkan Allah SWT untuk kita jalani, agar tercapai hasanah fiddun-ya dan hasanah fil aakhirah. Mudah-mudahan dengan latihan puasa yang sedang kita jalani ini, Allah SWT memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita untuk dapat menerapkannya dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari terutama dalam  menyongsong hari-hari mendatang yang lebih baik dan bermanfa’at, dan semoga  kita dimasukkan oleh Allah Rabbul ‘Aalamiin ke dalam golongan hamba-hamba-Nya shaleh dan  pandai bersyukur. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.