ENCIKEFFENDYNEWS.com

Berphoto di lukisan Singapura tempoe doeloe, sangat sederhana. Di setiap goresan kuasnya, ada waktu yang berhenti untuk menjaga ingatan yang tak boleh pudar. Bukan sekadar gambaran pelabuhan dan jalanan tua, tapi napas kehidupan dari jiwa-jiwa yang pernah berjuang di sana. Warna-warni kusam yang bercerita tentang kesederhanaan, sebelum zaman mengubah segalanya menjadi megah. Lukisan tempo doeloe adalah jendela, tempat kita melihat dari mana sebuah kisah besar bermula. Layar kain ini menangkap sunyinya pelabuhan tua, saat lautan masih menjadi satu-satunya penghubung harapan. Di antara sudut sampan dan arsitektur panggung, terpancar kehangatan hidup yang tak tergerus pesatnya zaman. Setiap detailnya bukan sekadar visual, tapi bisikan sejarah tentang kesederhanaan yang kini dirindukan. Waktu boleh terus berjalan, tapi di atas kanvas ini, Singapura akan selalu punya tempat untuk Kembali dalam dinamika yang pesat sesuai dengan perkembangan zaman. Syabas Singapura !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ada lagi satu kuliner Sukajadi “ Kopi Tarempa “. Pahit manis yang pas, persis kaya cerita hidup yang selalu punya cara buat dinikmati. Cangkir hangat, obrolan mengalir dan ketenangan khas Sukajadi yang bikin waktu terasa jalan lebih lambat. Ada tradisi dalam setiap tegukan, bawa kehangatan Tarempa di tengah riuk keseharian. Bukan cuma soal rasa kopi, tapi tentang tempat pulang dan ruang untuk sejenak melepaskan lelah. Di balik pekatnya rasa, ada jeda yang selalu berhasil bikin pikiran tenang lagi. Bukan cuma pelengkap pagi atau sore, tapi alasan buat duduk sebentar dan nyapa diri sendiri. Sederhana rasanya, tapi selalu cukup buat menghangatkan suasana di Sukajadi. Setiap tegukan punya cerita—tentang obrolan yang gak selesai-selesai dan rasa nyaman yang gak pernah berubah. Masya Allah walhamdulillah !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Berphoto di depan lukisan, begitu indah dan menakjubkan ! Sebuah lukisan adalah puisi yang tak bersuara, warna dan garis berbicara langsung kepada jiwa tanpa membutuhkan perantara kata. Pelukis begitu berbakat dalam menyimpai rapi sebuah lukisan. Gambar yang indah tidak pernah memaksa kita untuk paham, ia hanya mengundang kita untuk diam, merenung dan menemukan makna kita sendiri. Lukisan yang jujur tidak sekadar meniru bentuk realita, melainkan menangkap roh dan cahaya yang tersembunyi di dalamnya. Ketika kita memandang sebuah karya, sering kali yang kita temukan bukanlah sekadar bayangan sang seniman, melainkan pantulan dari perasaan kita sendiri. Lahawla wala quwata illa billah !   *  (EA).