ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ada dua istilah yang popular di masyarakat kita ; 1. TaWaDu’ > Tahu Warna Duit dan ke-2. Tawadhu’ > Sikap rendah hati dan tidak sombong (تواضع) Kedua idiom ini perlu kita ketahui dan dalami dalam perspektif kehidupan hari ini. Padi yang berisi akan makin menunduk, makin tinggi ilmu dan keimanan seseorang, makin lembut tutur kata dan rendah hatinya. Tawadhu’ bukanlah merendahkan diri hingga diinjak, melainkan menyadari keagungan Tuhan hingga tak ada lagi tempat untuk merasa lebih dari yang lain. Kemuliaan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi orang lain menengadah pada manusia, tapi seberapa tulus kita merunduk merangkul sesama. Keindahan mahkota tawadu’ justru terlihat ketika seseorang memiliki segalanya untuk sombong, namun memilih untuk tetap membumi. Subhanallah !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sama seperti tubuh yang butuh check up berkala, hati pun perlu diperiksa, apakah masih peka merasakan penyesalan atau sudah kebal oleh tumpukan kesombongan. Diagnosa paling berbahaya bukan penyakit yang merusak fisik, melainkan hati yang mati rasa hingga tak lagi mampu merasakan manisnya kebaikan. Hasil ‘laboratorium’ ruhani tidak diukur dari angka kolesterol atau tekanan darah, melainkan dari seberapa bersih niat dan seberapa tulus keikhlasan di dalam dada. Luangkan waktu untuk mendengarkan ‘detak’ keimanan; jangan tunggu sampai terjadi ‘serangan’ penyesalan baru kita sibuk mencari obatnya. Resep terbaik untuk hati yang lesu bukanlah pujian manusia, melainkan dosis keikhlasan yang ditambah dan racunan prasangka yang dibuang. Sering kali kita tanggap pada rasa sakit di fisik, namun abai pada ‘demam’ iri dan ‘infeksi’ dengki yang perlahan menggerogoti jiwa. Pemeriksaan ruhani tidak butuh stetoskop atau sinar-X; cukup hadirkan kesunyian, lalu tanyakan pada nurani, untuk siapa sebenarnya semua amal ini dikerjakan? !   * (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Alhadulillah,  selesai juga buku Ngaji Diri ini di edit dan insya Allah sudah siap dipublish ke masyarakat, moga bermanfaat. Ngaji diri itu bukan tentang melihat seberapa banyak yang sudah kita pahami, tapi menyadari seberapa banyak yang masih perlu kita perbaiki. Puncak ilmu tertinggi adalah ketika seseorang sibuk memperbaiki dirinya sendiri, hingga tak ada lagi waktu untuk menghakimi cela orang lain. Cermin paling jernih bukan kaca di dinding, melainkan cermin nurani tempat kita berani menatap kekurangan diri tanpa topeng kebanggaan. Sebelum sibuk membaca tanda-tanda zaman, bacalah dulu lembaran hati sendiri, sebab perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju ke dalam diri. Sebab guru terbaik bukan selalu orang yang pandai bicara, melainkan sunyi yang memaksa kita jujur pada kekurangan sendiri. Menundukkan ego jauh lebih rumit daripada menaklukkan kata-kata; di sinilah ngaji diri diuji, bukan di bibir tapi di kedalaman hati. *  (EA).