ENCIKEFFENDYNEWS.com

KTIQ bukan sekadar merangkai kata, melainkan mengasah ketajaman ilmu untuk membumikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam setiap gagasan. Setiap coretan tinta dalam TC adalah bentuk ikhtiar. Jangan pernah ragu pada tulisan karena ide yang besar berawal dari keberanian untuk menuangkannya. Menulis KTIQ adalah proses mendisiplinkan pikiran. Di TC inilah mentalitas peneliti yang beradab dan berdasar Al-Qur’an dibentuk. TC mungkin melelahkan, revisi mungkin berulang, tetapi di sinilah kualitas karya dan kedewasaan berpikir kita diuji. Hasil akhir adalah bonus, namun proses belajar, diskusi hangat dan ikatan kebersamaan di TC adalah keabadian yang sesungguhnya. Setiap masukan dari pembina adalah pahatan yang siap mengubah gagasan mentah menjadi karya yang bernas dan berbobot. Masya Allah !   *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Photo kenangan (1986) lebih kurang 40 tahun yang lalu waktu berada di pintu masuk Bahrul Mayyit (Laut Mati) Jordan – laut dengan kadar garam tertinggi di dunia. Di tempat terendah di bumi, kita justru bisa belajar cara untuk tetap mengapung dan tak tenggelam oleh beban hidup. Laut Mati mengajarkan bahwa ada keindahan dan ketenangan yang luar biasa, bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun.Tak ada kehidupan di dalamnya, tapi kejernihan dan rasa asinnya mampu menyembuhkan serta menenangkan jiwa yang lelah. Seperti airnya yang pekat, kadang kita perlu menahan beratnya ujian agar bisa mengapung di atas ketidakmungkinan. Dunia boleh menarik kita ke titik paling bawah, tapi di Laut Mati Jordan, di situlah kita sadar bahwa kita sanggup bertahan. Masya Alllah, Lahaula wala quwata illa billah !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Photo kenangan (1985) waktu berada di  Madinah Jamiyah (Asrama) di bawah naungan dinding kuno Damascus University, kita tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga menenun kenangan yang tak lapuk oleh waktu. Kamar asrama boleh jadi sederhana, namun di sinilah mimpi-mimpi besar dibicarakan hingga larut malam bersama aroma ahwi syami ( kopi Syam ). Setiap sudut lorong asrama Damascus menyimpan jejak tawa, peluk hangat persahabatan dan perjuangan menjadi dewasa jauh dari tanah air. Photo ini mungkin hanya selembar kertas, tetapi di dalamnya ada riak tawa dan kehangatan bersama yang kita bangun di tanah Syam. Waktu boleh berlalu dan kota bisa berubah, namun persaudaraan yang lahir di asrama Damascus University akan selalu abadi dalam ingatan. Subhanallah !  *  (EA),