ENCIKEFFENDYNEWS.com

Photo ini dikirim oleh sahabat saya Mas Imam, entah darimana dia dapat yang penting photo ini melambangkan nilai persahabatan karena sahabat sejati adalah seseorang yang tahu semua keadaan kita dan dia  tetap  menghargai dari nilai persahabatan itu. Bukanlah persahabatan jika hanya ada tawa di dalamnya, tetapi juga air mata yang dihapus bersama dan pundak untuk bersandar di kala lelah. Teman mendampingi saat kita senang, tetapi sahabat sejati tetap tinggal di sisi kita bahkan ketika seluruh dunia menjauh. Persahabatan yang tulus bagaikan kesehatan yang baik; nilainya baru disadari sepenuhnya setelah kita kehilangannya. Seorang sahabat adalah seseorang yang memberi kebebasan kepada diri kita untuk menjadi diri sendiri. Sahabat sejati tidak pernah terpisahkan, mungkin hanya berbeda jarak, namun tidak pernah di dalam hati.Teman membuat hidup lebih berwarna, tapi sahabat sejati memberi warna yang abadi. Subhanallah ! *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Mahabbah sejati tidak tumbuh dari apa yang kita dapatkan, melainkan dari kesadaran akan betapa besarnya kasih yang telah kita terima tanpa pernah meminta. Cinta kepada Allah adalah cahaya yang menerangi kegelapan jiwa, obat bagi hati yang terluka dan kompas saat arah kehidupan terasa hilang. Ketika hati dipenuhi mahabbah Ilahi, dunia tidak lagi tampak sebagai tempat yang menakutkan, melainkan sebagai panggung keagungan-Nya. Kerinduan terbaik seorang hamba adalah ketenangan saat berbisik dalam sujud, sebab di sanalah mahabbah tak bertepi bertemu dengan kasih yang tak bersyarat. Limpahan mahabbah di dalam dada membuat langkah terasa ringan, jiwa terasa lapang dan rintangan hidup tampak seperti usapan lembut kedewasaan. Jangan mencari mahabbah di luar sebelum kita menanamnya di dalam jiwa sendiri. Hati yang damai adalah sumber dari segala kasih yang terpancar. Subhanallah !   *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Shufi kota tidak bersembunyi di balik sunyinya gua atau rimba. Hutan mereka adalah kesibukan jalanan dan pertapaan mereka adalah penjagaan hati di tengah keramaian. Menjadi shufi di tengah kota berarti menjadi seperti bunga teratai, akarnya merangkak di dalam lumpur kesibukan, namun bunganya tetap mekar bersih dan harum di atas permukaan. Riuk-pikuk kota tidak mampu bising di dalam dada seorang shufi kota, sebab ia telah menemukan ‘kamar sunyi’ di dalam hatinya sendiri. Shufi kota memegang dunia di tangannya untuk memberi manfaat, tetapi tidak pernah membiarkan dunia masuk dan bertahta di dalam hatinya. Gedung-gedung tinggi mencakar langit, namun kerendahan hati shufi kota tetap menyentuh bumi. Di antara hiruk-piruk pasar dan modernitas, shufi kota bertransaksi dengan manusia menggunakan harta dan bertransaksi dengan Tuhan menggunakan jiwa. Masya Allah !  *   (EA).