ENCIKEFFENDYNEWS.COM

Pantai tak pernah terburu-buru, namun ombaknya selalu sampai ke tepian. Begitulah cara terbaik menjalani hidup, tenang, konsisten dan penuh keyakinan. Suara deru ombak adalah musik paling jujur—ia mengajari kita cara merelakan hal-hal yang harus pergi dan menyambut apa yang baru. Di tepi pantai, kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan alam, namun betapa besarnya ruang yang ada untuk bersyukur. Jejak kaki di pasir pantai mungkin terhapus oleh ombak, tetapi ketenangan yang ditinggalkannya akan bertahan lama di dalam dada. Angin laut tidak hanya membawa aroma garam, tetapi juga membawa pergi sisa-sisa lelah yang menumpuk di kepala. Berdiri di tepi pantai mengajarkan satu hal yang paling indah dalam hidup sering kali tidak membutuhkan kata-kata. Allahu Akbar !  *   (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

KTIQ bukan sekadar merangkai kata, melainkan mengasah ketajaman ilmu untuk membumikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam setiap gagasan. Setiap coretan tinta dalam TC adalah bentuk ikhtiar. Jangan pernah ragu pada tulisan karena ide yang besar berawal dari keberanian untuk menuangkannya. Menulis KTIQ adalah proses mendisiplinkan pikiran. Di TC inilah mentalitas peneliti yang beradab dan berdasar Al-Qur’an dibentuk. TC mungkin melelahkan, revisi mungkin berulang, tetapi di sinilah kualitas karya dan kedewasaan berpikir kita diuji. Hasil akhir adalah bonus, namun proses belajar, diskusi hangat dan ikatan kebersamaan di TC adalah keabadian yang sesungguhnya. Setiap masukan dari pembina adalah pahatan yang siap mengubah gagasan mentah menjadi karya yang bernas dan berbobot. Masya Allah !   *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Photo kenangan (1986) lebih kurang 40 tahun yang lalu waktu berada di pintu masuk Bahrul Mayyit (Laut Mati) Jordan – laut dengan kadar garam tertinggi di dunia. Di tempat terendah di bumi, kita justru bisa belajar cara untuk tetap mengapung dan tak tenggelam oleh beban hidup. Laut Mati mengajarkan bahwa ada keindahan dan ketenangan yang luar biasa, bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun.Tak ada kehidupan di dalamnya, tapi kejernihan dan rasa asinnya mampu menyembuhkan serta menenangkan jiwa yang lelah. Seperti airnya yang pekat, kadang kita perlu menahan beratnya ujian agar bisa mengapung di atas ketidakmungkinan. Dunia boleh menarik kita ke titik paling bawah, tapi di Laut Mati Jordan, di situlah kita sadar bahwa kita sanggup bertahan. Masya Alllah, Lahaula wala quwata illa billah !  *  (EA).