ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sama seperti tubuh yang butuh check up berkala, hati pun perlu diperiksa, apakah masih peka merasakan penyesalan atau sudah kebal oleh tumpukan kesombongan. Diagnosa paling berbahaya bukan penyakit yang merusak fisik, melainkan hati yang mati rasa hingga tak lagi mampu merasakan manisnya kebaikan. Hasil ‘laboratorium’ ruhani tidak diukur dari angka kolesterol atau tekanan darah, melainkan dari seberapa bersih niat dan seberapa tulus keikhlasan di dalam dada. Luangkan waktu untuk mendengarkan ‘detak’ keimanan; jangan tunggu sampai terjadi ‘serangan’ penyesalan baru kita sibuk mencari obatnya. Resep terbaik untuk hati yang lesu bukanlah pujian manusia, melainkan dosis keikhlasan yang ditambah dan racunan prasangka yang dibuang. Sering kali kita tanggap pada rasa sakit di fisik, namun abai pada ‘demam’ iri dan ‘infeksi’ dengki yang perlahan menggerogoti jiwa. Pemeriksaan ruhani tidak butuh stetoskop atau sinar-X; cukup hadirkan kesunyian, lalu tanyakan pada nurani, untuk siapa sebenarnya semua amal ini dikerjakan? !   * (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Alhadulillah,  selesai juga buku Ngaji Diri ini di edit dan insya Allah sudah siap dipublish ke masyarakat, moga bermanfaat. Ngaji diri itu bukan tentang melihat seberapa banyak yang sudah kita pahami, tapi menyadari seberapa banyak yang masih perlu kita perbaiki. Puncak ilmu tertinggi adalah ketika seseorang sibuk memperbaiki dirinya sendiri, hingga tak ada lagi waktu untuk menghakimi cela orang lain. Cermin paling jernih bukan kaca di dinding, melainkan cermin nurani tempat kita berani menatap kekurangan diri tanpa topeng kebanggaan. Sebelum sibuk membaca tanda-tanda zaman, bacalah dulu lembaran hati sendiri, sebab perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju ke dalam diri. Sebab guru terbaik bukan selalu orang yang pandai bicara, melainkan sunyi yang memaksa kita jujur pada kekurangan sendiri. Menundukkan ego jauh lebih rumit daripada menaklukkan kata-kata; di sinilah ngaji diri diuji, bukan di bibir tapi di kedalaman hati. *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Masjid bukan sekadar bangunan dari batu dan pualam, melainkan rumah ketenangan di bumi, tempat hiruk-pikuk dunia mereda dan keheningan jiwa menemukan Tuhannya. Di dalam mihrab masjid, lelahnya raga melebur menjadi sujud dan sempitnya dunia terasa lapang seluas ampunan-Nya. Langkah kaki menuju masjid adalah langkah meninggalkan beban dunia untuk sejenak bertamu di istana Sang Maha Pengasih. Sebuah masjid yang makmur bukan diukur dari megahnya kubah, melainkan dari hidupnya hati para jamaah yang memenuhi shafnya. Tempat terbaik untuk mengadu keluh kesah bukanlah di keramaian dunia, melainkan di atas sajadah masjid pada sepi sepertiga malam. Masjid adalah tempat paling jujur di dunia, raja dan rakyat berdiri berdampingan dalam satu shaf, menunduk merendah di hadapan Yang Maha A’la. Masya Allah !  *  (EA).