ENCIKEFFENDYNEWS.com

Photo kenangan ketika berada di Ma’had PPKP Ribathul Khail Timbau Tenggarong – Kutai (1978), 48 tahun yang lalu dan sebahagian sudah ada yang tiada, menghadap Sang Pencipta. Photo  tidak pernah berubah, bahkan ketika orang-orang di dalamnya telah berubah. Satu photo memiliki ribuan cerita, menyimpan momen yang tak mungkin bisa terulang kembali. Kamera adalah tombol jeda untuk sang waktu, mengabadikan detik yang berharga menjadi kenangan selamanya. Kenangan manis mungkin memudar perlahan di dalam ingatan, tetapi sebuah photo akan menjaganya tetap hidup selamanya. Setiap lembar photo adalah bukti bahwa sebuah tawa dan kebahagiaan pernah ada di sana. Subhanallah !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Berphoto dilukisan pegunungan yang begitu indah. Goresan kuas di atas kanvas mungkin tak bersuara, namun lukisan gunung selalu sanggup membisikkan ketenangan yang megah ke dalam jiwa. Di antara gradasi warna dan lekuk tebing yang terlukis, ada pesan tersirat tentang ketabahan, untuk tetap berdiri kokoh meski diterpa berbagai musim. Menatap lukisan pegunungan adalah cara sederhana memindahkan keagungan alam ke dalam ruangan, menggeledah lelah dan menghadirkan kedamaian. Setiap lapisan warna pada kanvas gunung mengajarkan kita bahwa keindahan yang megah tidak pernah tercipta dalam sekali usapan, melainkan lewat proses yang sabar. Kanvas itu memang diam, tetapi bayangan puncaknya menembus batas ruangan, mengajak pikiran kita berkelana jauh menuju puncak-puncak harapan. Allahu Akbar walillahilhamd !   *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.COM

Pantai tak pernah terburu-buru, namun ombaknya selalu sampai ke tepian. Begitulah cara terbaik menjalani hidup, tenang, konsisten dan penuh keyakinan. Suara deru ombak adalah musik paling jujur—ia mengajari kita cara merelakan hal-hal yang harus pergi dan menyambut apa yang baru. Di tepi pantai, kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan alam, namun betapa besarnya ruang yang ada untuk bersyukur. Jejak kaki di pasir pantai mungkin terhapus oleh ombak, tetapi ketenangan yang ditinggalkannya akan bertahan lama di dalam dada. Angin laut tidak hanya membawa aroma garam, tetapi juga membawa pergi sisa-sisa lelah yang menumpuk di kepala. Berdiri di tepi pantai mengajarkan satu hal yang paling indah dalam hidup sering kali tidak membutuhkan kata-kata. Allahu Akbar !  *   (EA).