ENCIKEFFENDYNEWS.com

Kopi pertama pagi ini, hitam, pekat dan tidak pernah berusaha berpura-pura menjadi manis untuk disukai semua orang. Cangkir boleh berbeda, selera bisa tak sama, tapi di hadapan rasa hangatnya, kita selalu menemukan alasan untuk jeda. Seperti seduhan kopi, hal-hal terbaik dalam hidup butuh waktu, proses dan sedikit kepahitan untuk terasa sempurna. Entitas dan sejarah Kopi mengalami masa yang begitu panjang, sepanjang pahitnya kopi mengajarkan kita satu hal, tidak semua yang tidak manis itu buruk bagi jiwa. Setiap cangkir menyimpan ceritanya sendiri—tentang inspirasi yang terbit, percakapan yang jujur atau sekadar ketenangan di tengah hiruk-pikuk. Setiap biji kopi membawa rekam jejak perjalanan Panjang, melintasi samudra, menembus jaman dan menyatukan peradaban dalam satu cangkir. Subhanallah !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Akhirnya selesai juga buku ini walaupun dalam kondisi “not feeling my best”.Islam itu identitas  tapi prasangka  orang lain bukan tanggung jawab kita untuk menjadikannya kenyataan. Menjadi muslim bukan berarti kehilangan keunikan diri, iman menyatukan kita dalam kebaikan, bukan mencetak kita jadi seragam. Jangan menilai isi buku cuma dari sampulnya. Agama mengajarkan kedamaian dan cara menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Muslim itu beragam. Ketaatan ada di hati, karakter terlihat dari aksi, bukan dari stereotip yang dibuat-buat. Mengenal lewat stereotip itu ibarat membaca satu halaman lalu merasa sudah tahu seluruh isi bukunya. Masya Allah !  *  (EA).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Di Samarinda tahun 1984, kita tidak hanya berbagi meja kelas PGAN, tetapi juga menenun cita-cita yang kini menjadi jejak pengabdian.  Puluhan tahun berlalu dari lorong PGAN Samarinda 84, namun rasa persaudaraan dan hangatnya kebersamaan tak pernah tergerus usia. Jarak dan waktu mungkin memisahkan langkah kita, tetapi ikatan alumni PGAN Samarinda ’84 tetap hidup dalam doa dan kenangan. Kita datang dari tempat yang berbeda ke PGAN 1984, belajar bersama, lalu berlayar membawa ilmu untuk menjadi cahaya di jalan masing-masing. Rambut boleh memutih dan usia terus bertambah, tapi semangat kekeluargaan PGAN Samarinda 1984 akan selalu muda di hati kita. Terima kasih telah menjadi bagian terbaik dari masa muda di PGAN Samarinda. Setiap tawa dan perjuangan 1984 adalah warisan kenangan yang tak ternilai. Di PGAN Samarinda tahun 1984 kita menanam benih kebaikan dan hari ini kita tersenyum bersyukur melihat silaturahmi yang terus berbuah lebat. Subhanallah, wallahu akbar ! * (EA).