ENCIKEFFENDYNEWS.com – Musyawarah Wilayah IV (Muswil IV) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kepulauan Riau di Aula PIH Batam mengangkat thema : Penguatan peran, fungsi dan tugas DMI dalam memakmurkan dan dimakmurkan masjid (senin, 13 -14 /11), dihadiri para pengurus Masjid Kabupaten/Kota se-Provinsi Kepri.
Acara ini ditaja sebagai upaya sikap maksimalis pengurus dalam memakmurkan masjid sekaligus mencari metodologi agar masyarakat minded terhadap masjid. Allah sudah menggariskan bahwa : orang-orang yang beriman-lah yang dapat memakmurkan masjid dan masjid merupakan asas pondasi keislaman kita kepada Allah swt.
Muswil kali ini bukan hanya memilih komposisi dan personalia DMI Kepri 2021 -2026 tapi juga menyusun strategi program kerja dan upaya real dalam memakmurkan masjid. Acara dibuka Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad, SE, MM dengan penuh hidmat dan kekeluargaan kebersamaan dalam muswil ini. Syabas ! untuk pengurus DMI Kepri, semoga dapat mewujudkan cita-cita dalam thema yang telah dikemukakan pada muswil ini, aamiin. (EA)*
Meskipun begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau, Batak, dan Dayak yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra serta sebagian pesisir barat Sumatra dan pantai barat Kalimantan, yang mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).
Nama “Malayu” berasal dari Kerajaan Malayu yang pernah ada di kawasan Sungai Batang Hari, Jambi. Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu akhirnya takluk dan menjadi bawahan Kerajaan Sriwijaya. Pemakaian istilah Melayu-pun meluas hingga ke luar Sumatra, mengikuti teritorial imperium Sriwijaya yang berkembang hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
Berdasarkan prasasti Keping Tembaga Laguna, pedagang Melayu telah berdagang ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga turut serta membawa adat budaya dan Bahasa Melayu pada kawasan tersebut. Bahasa Melayu akhirnya menjadi lingua franca menggantikan Bahasa Sanskerta. Era kejayaan Sriwijaya merupakan masa emas bagi peradaban Melayu, termasuk pada masa wangsa Sailendra di Jawa, kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Dharmasraya sampai pada abad ke-14, dan terus berkembang pada masa Kesultanan Malaka sebelum kerajaan ini ditaklukan oleh kekuatan tentara Portugis pada tahun 1511.
Masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-12, diserap baik-baik oleh masyarakat Melayu. Islamisasi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat jelata, namun telah menjadi corak pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Perak, Kesultanan Pahang, Kesultanan Brunei, Kesultanan Langkat, Kesultanan Deli, dan Kesultanan Siak, bahkan kerajaan Karo Aru pun memiliki raja dengan gelar Melayu. Kedatangan Eropa telah menyebabkan orang Melayu tersebar ke seluruh Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di perantauan, mereka banyak memiliki kedudukan dalam suatu kerajaan, seperti syahbandar, ulama, dan hakim.
Dalam perkembangan selanjutnya, hampir seluruh Kepulauan Nusantara mendapatkan pengaruh langsung dari Suku Melayu. Bahasa Melayu yang telah berkembang dan dipakai oleh banyak masyarakat Nusantara, akhirnya dipilih menjadi bahasa nasional di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. (EA)*
ENCIKEFFENDYNEWS.com – Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VII yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta mulai tanggal 4-6 Rabiul Akhir 1443 H/ 9 – 11 November 2021 mengangkat thema “Optimalisasi Fatwa untuk Kemaslahatan Bangsa” . Acara ini dibuka oleh Wakil Presiden secara Virtual, dihadiri oleh seluruh ketua komisi Fatwa MUI provinsi se-Indonesia dan diikuti oleh seluruh anggota komisi fatwa se-Indonesia secara during. Hal ini dilakukan sebagai kepedulian Ulama terhadap dinamika kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.
Ijtima’ ini membicarakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai konstruktivitas yang sesuai dengan tuntutan kekinian sebagai pedoman dalam mengambil sebuah policy yang ditawarkan kepada Ekskutif, Legislatif dan Yudikatif yang dinamis dalam perspektif keagamaan menuju kehidupan berbangsa yang “baldatun thayyibatun warabbun ghafur” insya Allah. (EA)*