ENCIKEFFENDYNEWS.com

 “The smile sending out, will return to you ”  

Berbicara mengenai manajemen sangat asyik dan mengasyikkan, lebih lebih lagi membicarakan tentang manajemen sekolah.

Sekolah dengan berbagai aspek dimensinya memberikan gambaran betapa dahsyat dan seru, unik dan komprehensifnya tuntutan dan cabaran, bak pelangi yang membentang di siang hari, kadang sirna ditelan mentari, kadang tampak ranggi apabila redup ditelan saujana senja.

Kepala sekolah yang merupakan educator, manager, administrator, supervisor yang leader lagi innovator dan sebagai motivator, memberikan gambaran, betapa unik dan komprehensifnya dalam mengelola sebuah institusi yang bernama SEKOLAH.

Sekolah dengan berbagai macam cabaran dalam menata sebuah konsep manajemen SDM dalam menatap masa depan, memerlukan sebuah manajemen yang handal untuk mencapai tujuan dalam mencerdaskan kehidupan pada suatu generasi.

Begitulah kira-kira idealnya sebuah manajemen dalam mengelola sekolah, berbagai seminar, lokakarya, upgrading, diskusi dan apapun namanya, namun yang memegang peranan tetaplah “man” /manusia pengelolanya dan di lembaga sekolah yang tertinggi adalah tentu “kepala sekolah”.

Berbagai buku telah ditulis oleh  para pakar , mengenai kepala tanpa sebab yang sekolah ini, tapi dasar  kepala ya tetap kepala tidak mau  bergeser jadi tangan umpamanya, apalagi jadi kaki, yach paling mau jadi mulut kali ! inipun karena lidah tidak bertulang ‘(barangkali)!

Maka kalau kita perhatikan, berbagai polah dan tingkah kepala ini sehingga kadang unik untuk diselidiki dan dipaparkan sebagai remote-control bagi yang merasa kepala, tapi bagi yang merasa kaki silakan jangan bergoyang kaki apalagi naik ke atas meja yang tangan jangan bertepuk apalagi sebelah tangan, masih banyak cabaran dan tantangan kalian yang tidak kalah dahsyatnya seperti kepala.

Kali ini kepala “seluruh kepala” (mulai kepala paku, kepala RT – hingga kepala yang memegang sesuatu jabatan yang penting di sebut “kepala”) disorot dalam persepsi “manajemen dinosauros”. Kalau kita amati binatang ini emang amat langka, hidup tempo doeloe, badan besar, ekor panjang dan berbagai macam kelebihan lainnya yang merupakan kekunoan yang dimilikinya.

Maka kalau kita simak sebagai berikut :

1. Suka bertingkah aneh-aneh, nggak umum dan menggelikan

2. Kemauannya nggak jelas, sulit dimengerti orang

3. Suka mengancam, menakut-nakuti dan menggertak orang lain

4. Sering marah-marah dan mengamuk tanpa sebab yang jelas.

5. Suka mengejek dan merendahkan orang lain.

 6. Bahkan kalau dapat menghukum orang akan merasa bangga

 7. Tidak mau mainannya diganggu

8. Teritorialnya nggak boleh di masuki orang

9. Egois, mau menang sendiri, kurang memiliki rasa toleransi

 10. Sok disiplin, sok peraturan, nggak ada keluwesan sama sekali

11. Suka cekcok dan berantem sesama “species” |

 12. Tega menekan dan memeras sesama teman

 13. Nggak peka pada perasaan orang lain

14. Sulit diberitahu, ndableg

15. Merasa paling kuat, paling besar dan paling berkuasa tapi kalau kalah cepat lari

16. Anggap enteng orang lain, tidak menghargai sesamanya

17. Merasa paling berjasa, pahlawan, sok penting dan suka pamer

 18. Suka ngambek dan bersikap masa bodoh, tidak bertanggungjawab

19. Berani hanya di kandang sendiri (jago kandang)

20. Badan segede gunung, nyali Cuma sekecil kacang ijo, amit-amit. Maka kalau “kepala-kepala” (baca : seluruh kepala) bersifat seperti di atas, hancurlah bangsa ini, hancurlah apa yang dipimpinnya, maka renungkanlah para kepala sebelum intervensi kaki dan tangan dan lebih berat lagi seluruh anggota (baca : masyarakat keseluruhan).

Untuk menghindari hal-hal tersebut di atas diperlukan langkah-langkah kongkret kepala sebagai berikut ,

1. Berikan perhatian tulus kepada semua pihak, jangan memfokuskan pada diri sendiri.

2. Bersihkan pikiran, bahwa pikiran jernih akan membuat kita lebih objektif

3. Ulurkan bantuan bagi mereka yang memerlukan

4. Kurangi menuntut orang lain untuk berpikir atau bertindak seperti kita

5. Tawar hati akan hilang bila kita mau memberikan kesenangan pada orang lain sekitar kita

6. Berolahragalah secara teratur

7. Selalu otokritik terhadap diri sendiri

8. Berlaku ramahlah walaupun suasana di sekitar kita penuh kegetiran

9. Beribadahlah tepat waktu

Maka kalau setiap kepala dapat mengawal kepribadiannya seperti hal tersebut di atas, barulah benar-benar menjadi KEPALA.

Dan terakhir janganlah menjadi seperti kepala paku, dipukul dulu baru bergerak, nauzdubillah (wallahu a’lam bisshawab). EA*