ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sama seperti tubuh yang butuh check up berkala, hati pun perlu diperiksa, apakah masih peka merasakan penyesalan atau sudah kebal oleh tumpukan kesombongan. Diagnosa paling berbahaya bukan penyakit yang merusak fisik, melainkan hati yang mati rasa hingga tak lagi mampu merasakan manisnya kebaikan. Hasil ‘laboratorium’ ruhani tidak diukur dari angka kolesterol atau tekanan darah, melainkan dari seberapa bersih niat dan seberapa tulus keikhlasan di dalam dada. Luangkan waktu untuk mendengarkan ‘detak’ keimanan; jangan tunggu sampai terjadi ‘serangan’ penyesalan baru kita sibuk mencari obatnya. Resep terbaik untuk hati yang lesu bukanlah pujian manusia, melainkan dosis keikhlasan yang ditambah dan racunan prasangka yang dibuang. Sering kali kita tanggap pada rasa sakit di fisik, namun abai pada ‘demam’ iri dan ‘infeksi’ dengki yang perlahan menggerogoti jiwa. Pemeriksaan ruhani tidak butuh stetoskop atau sinar-X; cukup hadirkan kesunyian, lalu tanyakan pada nurani, untuk siapa sebenarnya semua amal ini dikerjakan? !   * (EA).