ENCIKEFFENDYNEWS.com

Setiap manusia tidak akan pernah terlepas dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setiap manusia pun selalu terkait dengan kebutuhan akan ilmu, peningkatan wawasan, dan cara pandang sebagai penunjang dalam kehidupannya. Dan, ilmu yang sifatnya selalu berkembang menuntut manusia untuk selalu berusaha mendapatkannya.

Rasulullah memberikan tuntunan bahwa kalau kita dapat berbuat sesuatu, dalam memenuhi keperluan hidup dan ilmu, dengan pertimbangan yang cerdas dan tepat, maka kita dapat memperoleh hasil yang optimal. Rasulullah SAW bersabda, ”Berhemat dalam belanja adalah separuh kehidupan, duduk dengan orang banyak adalah separuh akal, dan pertanyaan yang tepat adalah separuh ilmu.” (HR Thabrani).

Hadis di atas memberikan petunjuk kepada kita bahwa kunci dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah dengan hemat dalam berbelanja. Hemat berarti melakukan belanja secara tepat dan tidak berlebihan. Tegasnya, hemat adalah berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Hemat tidak berarti kikir. Hemat merupakan tindakan bijak agar kita tidak terjerumus kepada perilaku yang konsumtif. Orang-orang bijak selalu mengatakan hemat pangkal kaya. Sebagaimana hadis di atas, dengan berhemat berarti kita telah meraih separuh kehidupan.

Hemat merupakan perilaku yang sangat disukai Allah dan rasul-Nya. Allah menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang yang hemat dalam membelanjakan hartanya adalah termasuk perilaku orang-orang yang dikasihi-Nya (ibaadurahmaan).

Allah berfirman, ”Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.’ Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 25: 63-67).

Sedangkan kunci dalam meraih ilmu dan menambah wawasan ada dua cara. Pertama, duduk dengan orang banyak. Duduk dengan orang banyak dalam konteks ini adalah duduk dan berdiskusi dengan komunitas yang mencintai ilmu. Sebaliknya, jika duduk bukan dengan orang-orang yang mencintai ilmu, biasanya berujung pada kesia-siaan dan pergunjingan.

Kedua, bertanya dengan tepat. Pertanyaan yang tepat menunjukkan seberapa besar pemahaman kita. Karenanya, sebagaimana hadis di atas, pertanyaan yang tepat merupakan separuh ilmu. Wallahu a’lam bishawab.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Zikir berarti menyebut sesuatu dengan mulut atau mengingat sesuatu dengan hati. Esensi zikir adalah hadirnya hati dan tadabbur (memikirkan) terhadap apa yang dizikirkan. Apabila esensi ini tercapai, maka qalbu (hati) seseorang akan dipenuhi perasaan dekat dengan Allah yang mengantarkannya kepada mahabbah (kecintaan) yang mendalam pada-Nya.
Islam memerintahkan mukmin banyak berzikir kepada Allah. Sebaiknya, setiap aktivitas merupakan manifestasi dari zikir kepada Allah. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS 33: 41-42).
Allah mengingatkan mukmin agar harta benda, anak, dan berbagai aktivitas kehidupan tidak membuat dirinya lupa mengingat Allah. Firman Allah SWT, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS 63: 9).

Islam melarang mukmin mengikuti cara hidup orang yang melupakan Allah dan tidak mau zikir kepada-Nya. Allah berfirman, ”Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (QS 18: 28).

Orang yang banyak berzikir dengan dihayati dan dipahami secara baik memberikan manfaat positif kepada dirinya. Hati dan jiwa orang itu akan tenteram melalui zikirnya. Allah SWT menjelaskan, ”(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS 13: 28).
Orang yang banyak berzikir mendapat ampunan Allah, pahala, dan balasan yang baik dari-Nya di akhirat. Allah berfirman, ”Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS 33: 35).
Ada beberapa cara zikir kepada Allah. Pertama, zikir secara zahir (dzikir bil lisan), berupa pujian dan doa yang disampaikan secara lisan dan sesuai dengan suara hati, seperti mengucapkan Subhanallah, Walhamdulillah, dan Allahu Akbar.
Kedua, zikir secara tersembunyi (dzikir bil qalb). Yaitu, membebaskan diri dari segala belenggu yang menghalangi komunikasi dengan Allah, selalu bersama Allah dan hati yang tidak pernah absen bermunajat pada-Nya.

Ketiga, zikir hakiki. Yaitu, merasakan kehadiran Allah dalam diri pada situasi dan keadaan bagaimanapun, baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring. Allah berfirman, ”(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS 3: 191). Wallahu a’lam.



ENCIKEFFENDYNEWS.com
Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak ada seorang pun yang berjalan di air kecuali tumitnya pasti basah. Demikian pula orang yang memiliki duniawi, ia tidak bisa selamat dari dosa-dosa.” (HR Baihaqi dari Anas).

Hadits di atas merupakan peringatan bagi kita bahwa dunia, seperti kekayaan/harta, keluarga atau, jabatan yang kita miliki dan kuasai akan menjerumuskan kita kepada kehancuran dan dosa jika tidak pandai dalam menyikapinya. Bahkan, di hari kiamat kelak kekayaan yang tidak dikeluarkan zakat dan sedekahnya akan dikalungkan.

Perhatikan peringatan Allah dalam firman-Nya, ”Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 3: 180).

Paling tidak ada tiga hal yang harus kita lakukan agar kita tidak terlena oleh godaan dunia. Pertama, kita harus menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Dalam kaitan ini Allah menerangkan, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS 57: 20).

Kedua, menyadari bahwa apa pun yang kita miliki merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Adil dan Bijaksana. Kesadaran ini berdampak pada timbulnya sikap untuk selalu menjaga dan menunaikan hak-haknya dari apa yang kita miliki, seperti mengeluarkan zakat dan sedekahnya.

Allah berfirman, ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 9: 103). Ketiga, sederhanalah dalam kehidupan. Kesederhanaan mengajarkan kita untuk selalu dapat mensyukuri setiap karunia yang Allah berikan. Kesederhanaan pun mengajari kita untuk tidak serakah.

Rasulullah menjelaskan keuntungan dari hidup sederhana dalam sabdanya, ”Barang siapa yang sederhana terhadap dunia, maka Allah mengajarkannya sesuatu yang tanpa belajar, dan memberinya petunjuk tanpa hidayah secara langsung dan telah menjadikannya melihat, dan Allah membukakan daripadanya kebutaan.” (HR Abu Na’im dari Ali). Wallahu a’lam bishawab.