ENCIKEFFENDYNEWS.com

Dan tidak ada batas dari proses belajar, seorang pembelajar sejati, memahami benar, bahwa belajar itu tidak ada ujung seperti air yang mengalir, karena memang ilmu itu tidak berbatas seperti laut yang tidak akan pernah kering. Siapapun, kapan, dan dimana saja .
Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak melalui proses belajar. Ingatkah kita, mengapa kita sampai bisa berbicara lancar? bahkan dengan bahasa yang berbeda, misalnya Bahasa Minang bagi orang Minang, jawa, inggris, arab, atau kita bisa berjalan normal? makan dengan normal, tidur dengan normal?.
Pasti berabe jika kita tidak pernah diajari ngomong, pasti kuwalat jika kita tidak diajari berjalan, makan dan bahkan tidur dengan normal? Bisa kita bayangkan apa jadinya kita kalau kita berjalan seperti kambing, atau kita makan seperti ayam, atau kita tidur seperti kelelawar? Hmm … pasti capek banget. Belajar tentang bahasa ini juga disinggung Allah dalam Alqur’an:

“Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “bukankah sudah Kukatakan padamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al baqarah: 31-33) .
Jangankan manusia, binatang pun belajar bagaimana menggunakan bahasa “sukunya” masing-masing. Kucing akan berbicara dengan bahasa kucing, dan ayam akan berbicara dengan bahasa ayam. Pernah denger ada binatang yang berbicara dengan bahasa berbeda antar suku? Misalnya ayam berbahasa kucing dan sebaliknya?
Dan binatang pun belajar bagaimana menjalani hidupnya, contoh kecil yang ada di sekitar kita, pernah melihat kucing bermain bersama induknya? Disaat kucing beranjak dewasa, dia akan diajari oleh induknya bagaimana mempertahankan diri dari serangan musuh, mulai dari cara mencakar, mengeong, berlari dan melompat dengan gesit.
Dan tidak ada batas dari proses belajar, seorang pembelajar sejati, memahami benar, bahwa belajar itu tidak ada ujung seperti air yang mengalir, karena memang ilmu itu tidak berbatas seperti laut yang tidak akan pernah kering. Siapapun, kapan, dan dimana saja.

Sekolah dan institusi boleh saja membatasi dengan spesialisasi ilmu dan birokrasi nilai, seperti yang ada di sekolah-sekolah formal. Akan tetapi itu tidak akan “ngaruh” untuk seorang pembelajar. Hal ini sudah banyak saya temui di lapangan, betapa banyak teman saya dengan spesialisasi ilmu pada pendidikan formal, juga menguasai ilmu lain, bahkan dia lebih menguasai ilmu yang bukan spesialisasi bidangnya. Ada yang lebih dikenal “ustadznya”, dibanding sarjana pertanian, atau tekniknya, ada yang dia lebih dikenal sebagai penulis dibandingkan keilmuannya di kimia.
Seorang pembelajar sejati berarti juga memahami, betapa waktu dan umur tidak akan pernah membatasinya untuk belajar. Seperti halnya jawaban Imam Hambali yang ditanya sampai kapan engkau akan menuntut ilmu? Dan beliau menjawab “beserta tinta akan ke liang kubur”. Seperti juga dikatakan rasullullah, “Uthlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi”, tuntututlah ilmu itu dari ayunan hingga ke liang lahat.
Seorang pembelajar sejati memahami bahwa sepanjang hidupnya adalah laboratorium. Ketika bertemu dengan kegagalan dia yakin bahwa Allah mengirimkannya agar kesuksesan yang nanti diraihnya terasa lebih manis. Ketika kehilangan menjumpainya maka iapun yakin bahwa Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Ketika ia bekerja, maka sesungguhnya ia sedang belajar. Ketika ia ditimpa musibah, atau diberi kebahagiaan, maka pada hakekatnya ia sedang belajar.
Dan guru adalah seseorang atau sesuatu yang membantu mengajari kita dengan tepat dan benar. Mengapa tidak hanya seseorang? Tetapi juga sesuatu? Karena memang yang mengajarkan kita tidak hanya orang, tetapi juga alam, lingkungan dan kehidupan itu sendiri. Dan disini tidak ada batas lagi antara guru dan murid, siapa guru dan siapa murid, tetapi menyangkut apa hikmah sesuatu yang dipelajari itu. Seperti kucing yang mengajarkan persaudaraan, atau ayam yang lebih dahulu bangun di pagi hari. Dan itu memerlukan kejernihan hati untuk dapat mengambil cahaya ilmu itu.

Mari hidupkan “tradisi pembelajaran”. Masih banyak yang belum kita ketahui, dari alam, lingkungan, kehidupan dan semua ayat-ayat Allah.



ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ucapan ibarat dua sisi dari sebilah pisau. Dengan ucapan, seseorang bisa menjadi mulia dan dihargai. Dengan ucapan pula, ia bisa menjadi hina dan dibenci. Pendek kata, ucapan yang dikeluarkan seseorang akan menentukan nilainya di mata orang lain. Sebuah kata hikmah menyatakan, ”Keselamatan manusia terletak pada penjagaan terhadap lisannya.”

Sebagai agama yang bertujuan memuliakan manusia, Islam memerintahkan setiap manusia selalu membiasakan ucapan yang baik. Artinya, setiap ucapan yang dikeluarkan hendaknya selalu mengandung unsur kebaikan dan kemaslahatan. Dalam Alquran, Allah berfirman, ”Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki pula kepada jalan Allah yang terpuji.” (QS 22: 24).
Dalam Islam, ucapan yang baik bukan sekadar kata-kata dari mulut, tapi juga bentuk sedekah yang bermanfaat untuk keharmonisan hidup bermasyarakat dan kemaslahatan di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda, ”…. Dan ucapan yang mulia itu adalah sedekah.” (HR Bukhari Muslim).

Ucapan yang baik juga merupakan ciri hamba-hamba Allah yang saleh yang nanti akan mendapatkan martabat yang tinggi di surga. Ucapan yang baik adalah salah satu syarat meraih kenikmatan surga yang abadi.

Allah berfirman, ”Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS 25: 63).

Rasulullah SAW menegaskan, ucapan yang baik mempunyai nilai yang sama dengan amal saleh lain yang bersifat materi. Beliau bersabda, ”Jagalah diri kamu sekalian dari siksa neraka walaupun hanya dengan memberikan sebutir kurma. Maka, barang siapa yang tidak mampu, hendaklah ia menggantinya dengan ucapan yang mulia.” (HR Bukhari Muslim).

Kebiasaan mengucapkan kata-kata yang baik, sejatinya menjadi karakter setiap manusia. Ucapan yang baik adalah perwujudan rasa syukur kepada Allah atas nikmat pancaindera yang telah dianugerahkan. Realitas kehidupan masyarakat menunjukkan bahwa konflik, sengketa, dan problematika sosial lainnya tidak sedikit yang terjadi akibat ucapan-ucapan yang melanggar etika dan kesopanan.

Ini membuktikan bahwa ucapan yang baik penting untuk dibudayakan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ucapan yang baik bukan hanya monopoli kegiatan-kegiatan yang bersifat religius. Ucapan yang baik juga harus dikedepankan dalam menyampaikan gagasan atau pendapat, menuntut hak, bermusyawarah, bahkan dalam berdemonstrasi.

Bagi seorang mukmin, ucapan yang baik adalah media untuk mengajak orang lain mengabdi kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan berserah diri kepada-Nya. Itulah sebaik-baik ucapan dalam pandangan Allah. Allah berfirman, ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri’?” (QS 41: 33). Wallahu a’lam.

ENCIKEFENDYNEWS.com

Salah satu ayat yang menjelaskan tentang keberadaan Allah dan pentingnya berdoa dijelaskan dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah ibadah puasa. Firman tersebut adalah, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2: 186).

Ini menunjukkan bahwa Allah dekat dengan setiap hamba-hamba-Nya dan Allah akan mengabulkan doa dari setiap hamba-hamba-Nya, terlebih-lebih pada bulan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan keterangan Rasulullah bahwa salah satu doa yang dikabulkan Allah adalah doa orang-orang yang berpuasa.

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW menegaskan, ”Inilah (Ramadhan) bulan yang ketika engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doa dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah, Rabb-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.” Karenanya, pada sisa Ramadhan ini, mari kita senantiasa terus bermohon dan berdoa kepada Allah. Salah satu doa yang Rasulullah ajarkan adalah, ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari golongan mereka yang empat macam itu.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Doa di atas merupakan doa yang merepresentasikan sifat atau keadaan yang mungkin dialami oleh setiap manusia. Hati yang tidak khusyuk dapat menyebabkan setiap ibadah yang dijalani tidak memberikan dampak pada kondisi keimanan kita. Ruh atau makna dari ibadah yang dilaksanakan tidak dapat diraih atau dipahami. Akibatnya, ibadah yang dilaksanakan hanya bernilai sekadar ritual dan di sisi Allah pun dapat menyebabkan tidak memiliki nilai ibadah.

Allah mencontohkan dalam firman-Nya bahwa shalat yang tidak khusyuk akan mengantarkan seseorang kepada siksa. Allah SWT berfirman, ”Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS 107: 4 – 7). Sebaliknya, khusyuk dalam beribadah merupakan salah satu tanda orang-orang beriman (perhatikan QS 23: 1-2).

Doa yang tidak didengar Allah merupakan kerugian bagi manusia. Doa yang tidak didengar, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (QS 2: 186) di atas, salah satunya disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan kepada Allah. Selain itu, doa yang tidak didengar bisa juga disebabkan oleh ketidakkhusyukan dalam berdoa.

Jiwa yang tidak puas menyebabkan kesengsaraan di dunia yang berkepanjangan. Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat menyebabkan ilmu yang diperoleh tidak berguna bagi dirinya dan tidak membawa kebaikan baginya. Uraian di atas menunjukkan betapa banyak keburukan yang diakibatkan oleh keempat golongan sifat di atas. Karenanya, mari kita berdoa agar kita terhindar dari keempat golongan orang tersebut. Wallahu a’lam bis-shawab.