ENCIKEFFENDYNEWS.com

Barangkali pekerjaan paling enak selain tidur itu adalah mengeluh. Lho? Iya, soalnya dengan mengeluh, kita akan mengeluarkan semua unek-unek kita, melampiaskan apa yang sedang bercokol di hati kita saat ini. Dan kita akan merasa plong setelah mengeluh itu. Lho itu kan curhat? Beda dong sama mengeluh? Nah, inilah yang kadang saya sendiri tidak bisa membedakan antara curhat, mengeluh, konsultasi, ato… nah ini yang berbahaya, kalo ternyata perbuatan yang dilakukan itu dilandasi oleh ketidaksyukuran kita terhadap apa yang kita dapatkan saat ini, yang bisa membawa kita kepada apa yang disebut kufur nikmat.

Kalau kita curhat, atau konsultasi, menurut ana kita memang sedang berada dalam masalah dan kita dalam kondisi ingin menghadapi masalah itu dan menyelesaikannya serta dilandasi oleh pemahaman bahwa apa yang kita hadapi adalah bagian dari kehidupan, bagian dari skenario Allah terhadap diri kita. Sedangkan kalo mengeluh, menurut saya, itu lebih disebabkan oleh kelemahan mental kita dalam menghadapi hidup, ketidakmampuan kita dalam mengatasi problem yang ada, keinginan agar persoalan itu hilang tanpa ada usaha, bukan menyelesaikannya, dan juga bisa jadi karena ketidaksyukuran kita terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada kita. Dan mengeluh biasanya itu disebabkan oleh masalah-masalah keduniawian. Gak punya mobil lah, gak punya hape keren kayak teman lah, gak punya perabot kayak tetangga lah, dan laen laen.

Siapa yang repot coba kalo gitu? Ya orang yang dikeluhi, kalo yang dikeluhkesahi adalah hal itu-itu saja, yang nampak bukan sebuah ketegaran hidup, tapi keinginan agar hidupnya berubah sekejap mata, tanpa ada usaha. Kita bisa bayangkan, bagaimana kalo tiap hari kita bertemu dengan orang yang omongannya gitu-gitu aja, mengelug terus. Katanya orang surabaya, “Gak onok syukure, ngersulo thok” alias gak pernah bersyukur, mengeluh terus.
Masalahnya kalo yang dikeluhkesahi adalah sama-sama gak bisa menyelesaikan masalah, maka hal itu bisa berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Sehingga, kita yang seharusnya berfikir bagaimana bermanfaat bagi orang lain, mencari penyelesaian masalah orang lain, malah sebaliknya.
Karena itulah, kita harus benar-benar memahami, hakikat dari kehidupan ini. Hakikat bahwa Allah-lah tempat kita bergantung. Hakikat bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Hakikat akan dunia yang fana. Hakikat akan hidup yang sebenarnya. Sehingga kita akan mendapat kebahagiaan yang hakiki, bukan kebahagiaan yang semu.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Pada tahun 2045, Indonesia diprediksi akan menjadi satu dari lima besar kekuatan ekonomi dunia. Hal ini tentu saja hanya akan menjadi angan – angan apabila proses pembangunan bangsa dan negara terhambat. Dibutuhkan keharmonisan antara pembangunan dengan aspek lainnya, terutama aspek agama.

Agama merupakan salah satu aspek yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045, moderasi beragama diperlukan guna menjaga keharmonisan antara hak beragama dan kewajiban berbangsa dan bernegara.

 “Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara.

Moderasi beragama dalam konteks ini berbeda pengertiannya dengan moderasi agama. Agama tentu tidak dapat dimoderasikan karena sudah menjadi ketetapan dari Tuhan, tetapi kita memoderasikan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang kita peluk sesuai dengan kondisi dan situasi sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama.

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa moderasi beragama akan mendangkalkan pemahaman keagamaan. Padahal, moderasi beragama justru mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan yang sesungguhnya. Orang dengan pemahaman agama yang baik akan bersikap ramah kepada orang lain, terlebih dalam menghadapi perbedaan. Singkatnya, Moderasi beragama bukan mencampuradukkan ajaran agama, melainkan menghargai keberagaman agama.

 Indikator moderasi beragama, yaitu toleransi, anti kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan. “Apabila empat indikator tersebut terpenuhi, kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai, dan toleran menuju pada kemajuan..

Terdapat banyak tantangan besar yang harus kita hadapi demi mewujudkan bangsa yang menjunjung moderasi beragama, beberapa di antaranya adalah berkembangnya ekstremisme dalam beragama, berkembangnya tafsir keagamaan yang bersifat subjektif dan diskriminatif serta berkembangnya paham keagamaan yang tidak sejalan dengan paham berbangsa dan bernegara.

 Dalam menyadarkan masyarakat melalui kampanye mengenai moderasi beragama.  Moderasi beragama sejatinya adalah menciptakan insan-insan yang memahami agama secara baik, mendalam, dan mengekspresikannya dengan cara yang baik. Selain itu, sangat penting juga untuk mengintegrasikan moderasi beragama dengan pendidikan karakter di lingkungan masing-masing. “Melalui pendidikan, maka terlahirlah orang-orang yang memiliki ilmu atau berilmu. Sekaligus mereka yang berbudi, memahami tentang bagaimana mengekspresikan keilmuannya dalam kehidupan bermasyarakat, berhati-hati, selalu menekankan aspek keadilan dan keseimbangan, dan ekspresi di dalam kehidupannya adalah mereka yang mencintai ruang-ruang kerukunan dan kedamaian dalam sikap yang toleran yang penuh arif dalam segala hal dan tindakan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Salah satu kewajiban hamba beriman adalah melakukan aneka macam kebaikan dalam bentuk apa pun, di manapun, dan kapan pun. Pendek kata, setiap waktu bagi orang beriman adalah ladang untuk berbuat kebaikan.
Itulah yang Allah SWT firmankan kepada para nabi-Nya, antara lain, kepada Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub. ”Sesungguhnya Kami telah menjadikan mereka (Ibrahim, Ishak, dan Yakub) sebagai para pemimpin. Mereka memberikan petunjuk kepada umat-umat mereka berdasarkan perintah Kami. Dan, Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Al-Anbiya’: 73).
Rasulullah SAW menyatakan, ”Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR Bukhari).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan lebih detail bentuk-bentuk perbuatan baik orang beriman yang bernilai sedekah. Kata beliau, ”Setiap orang Muslim diharuskan bersedekah.”
Para sahabat bertanya, ”Bagaimanakah jika ia tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan sedekah?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Jika demikian, maka segala pekerjaan yang ia lakukan dengan tangannya sendiri dan hasilnya bermanfaat baginya, maka itu bernilai sedekah.”
Para sahabat bertanya lagi, ”Lalu, bagaimanakah jika ia tidak mampu bekerja atau ia tidak melakukan sesuatu?”
Rasulullah SAW kembali menjawab, ”Pertolongannya kepada saudaranya yang sedang tertimpa musibah, itulah sedekah.”
Para sahabat masih bertanya lagi, ”Bagaimanakah jika ia tidak melakukannya pula?”
Untuk kesekian kalinya Rasulullah SAW menjawab, ”Anjuran yang ia lakukan kepada orang lain untuk berbuat kebaikan, itulah sedekah.”
Untuk terakhir kalinya, para sahabat bertanya, ”Jika itu pun tidak ia lakukan?”
Dengan sabar, Rasulullah SAW menjelaskan, ”Ia mengambil sesuatu yang mengganggu perjalanan orang dari jalanan, maka itulah sedekah.” (HR Bukhari).
Di hadis yang lain disebutkan bahwa mengucapkan kata-kata yang baik dan bermanfaat kepada orang lain juga bernilai sedekah. Apalagi sampai melakukannya. Kata Rasulullah SAW, ”Takutlah kalian dengan siksa api neraka, dengan jalan sedekah walau sebesar satu buah kurma. Jika tidak kalian temukan, maka perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR Bukhari).
Kebaikan yang dilakukan dengan tulus ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, pasti akan selalu dibalas kebaikan pula oleh Allah SWT. ”Siapa yang berbuat kebaikan, walaupun sebesar dzarrah, maka pasti akan menuai balasannya yang setimpal.” (Al-Zalzalah: 7).
Dengan demikian, kebaikan adalah investasi beharga untuk setiap orang beriman di akhirat kelak. Allah SWT memerintahkan segenap kaum beriman untuk berlomba-lomba memperbanyak berbuat kebaikan. ”Berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan, karena di manapun kalian berada Allah pasti akan mengumpulkan kalian semua.” (Al-Baqarah: 148). Wallahu a’lam.