ENCIKEFFENDYNEWS.com

Shufi kota tidak bersembunyi di balik sunyinya gua atau rimba. Hutan mereka adalah kesibukan jalanan dan pertapaan mereka adalah penjagaan hati di tengah keramaian. Menjadi shufi di tengah kota berarti menjadi seperti bunga teratai, akarnya merangkak di dalam lumpur kesibukan, namun bunganya tetap mekar bersih dan harum di atas permukaan. Riuk-pikuk kota tidak mampu bising di dalam dada seorang sufi kota, sebab ia telah menemukan ‘kamar sunyi’ di dalam hatinya sendiri. Shufi kota memegang dunia di tangannya untuk memberi manfaat, tetapi tidak pernah membiarkan dunia masuk dan bertahta di dalam hatinya. Gedung-gedung tinggi mencakar langit, namun kerendahan hati shufi kota tetap menyentuh bumi. Di antara hiruk-piruk pasar dan modernitas, shufi kota bertransaksi dengan manusia menggunakan harta dan bertransaksi dengan Tuhan menggunakan jiwa. Masya Allah !  *   (EA).