ENCIKEFFENDYNEWS.com – Di era pandemi ini masyarakat jenuh juga tinggal di rumah dan itulah manusia, kalau di rumah maunya keluar rumah, yang di gunung maunya ke pantai, yang di pantai maunya ke gunung, sendiri maunya ke tempat teman rame-rame yang rame-rame maunya menyendiri, yang kurus maunya gemuk yang gemuk maunya kurus, manusia-manusia, aneh !
Begitulah kehidupan kita manusia dan itu manusiawi, berbagai aktivitas kita manusia ya memang untuk manusia itu sendiri maka disediakanlah berbagai fasilitas, antara lain tempat wisata dengan berbagai kulinernya, seperti di Tanjung Riau ini /Kampung Tua di Kecamatan Sekupang ini, hanya di bangunkan pelantar oleh Pemerintah Daerah, hingga jadilah objek wisata yang cukup ramai setiap harinya dan manusia memang perlu tempat hiburan sebagai refreshing mental dalam mengitari kehidupan sehari-hari. (EA)*
ENCIKEFFENDYNEWS.com – The setanic adalah istilah “kunyah” sebutan untuk sesiapa saja yang menggoda manusia kepada kemungkran dan senang melakukannya kemudian enjoy bersamanya, dalam istilah awam disebut setan. Memang setan aslinya dalam bahasa arab “Syaithan” kita maklum, sehingga kita sering berucap “audzubillahi minassyaithanirrajim”. Allah selalu mengingatkan kita manusia tentang setan ini. “ ya bani adama alla ta’budus syaithan, innahu lakum aduwun mubin” (wahai manusia hati-hati dengan setan, jangan menyembahnya, sesungguhnya setan musuhmu yang nyata).
Memang setan selalu menggoda kita manusia karena dia termasuk makhluk Allah yang dimurkai lantaran kesombongannya. Sesiapa saja yang memiliki sifat ini, maka dikelompokkan kepada “setan” atau dianggap seperti setan atau paling tidak menyerupainya. (EA)*
Menyimak ayat al-Quran di atas, sebenarnya kita sudah di-“guide” oleh Yang Maha Kuasa untuk selalu menjadi orang yang sesuai antara perkataan dan perbuatan. Tidak satunya kata dan amal akan mendatangkan murka dari Allah SWT. Jadi sebenarnya kita dituntut untuk selalu memperhatikan apakah sudah sesuai antara perkataan dengan amal perbuatan kita.
Bicara itu mudah, tetapi melakukan itu lebih sulit. Dan kebanyakan orang hanya pandai bicara, padahal salah satu kunci sukses adalah dengan melakukan apa yang dikatakan (diimpikan). Menurut Ken Melrose dalam bukunya Making the Grass Greener on Your Side mengatakan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah cukup hanya dengan membaca buku dan menghadiri seminar terkini tanpa mengamalkannya. Namun seorang pemimpin harus jujur pada dirinya, membumi dan “melakukan apa yang dikatakan” (Walk the Talk) setiap hari.
Artinya, kita tidak akan pernah beranjak dari posisi kita saat ini jika kita tidak memahami dan mengamalkan keinginan kita dalam hidup ini. Bercita-cita tinggi namun hanya sebatas mimpi dan angan-angan. Berbicara melangit tapi tak pernah berusaha membumi.
Jadi kuncinya adalah bagaimana mengaktualisasikan mimpi kita menjadi karya nyata sehingga dapat menjadi contoh bagi orang lain dan memiliki daya gugah yang sangat besar. Segeralah berbuat, do a little thing but do it right here, right now, Not tomorrow but today. Karena sesungguhnya kesuksesan adalah hasil dari rangkaian sukses-sukses kecil.
Masih ingat ketika waktu masih kecil kita sering ditanya, “Kalau sudah besar mau jadi apa?” lalu dengan lantangnya kita menjawab, “Saya ingin jadi dokter”. Sebuah mimpi anak kecil yang kemudian ditindak lanjuti dengan bersekolah demi tujuan yang dituju. Mulai dari SD, SMP, SMA, kuliah di fakultas kedokteran sampai akhirnya lulus sebagai sarjana kedokteran. Sebuah formula kesuksesan sebenarnya sudah sama-sama kita ketahui dan pahami.
Sudah saatnya kita memulai dengan mencontoh Rasulullah SAW dengan menjadikan Al-Quran berjalan bersama dengan dirinya, menebar semerbak kebaikan, menjadi tauladan bagi kemanusiaan. Sehingga ketika seorang sahabat bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah, maka ia menjawab, “Akhlak Rasulullah tidak lain adalah Al-Quran!” Dengan kata lain, Rasulullah adalah The Walking and The Living Qur’an, contoh nyata aktualisasi Al-Qur’an! (EA)*