ENCIKEFFENDYNEWS.com

Melihat sejarah Islam, Nuzulul Qur’an terjadi sekitar pada 610 masehi, atau saat Rasulullah Saw menerima wahyu pertama dari malaikat Jibril. Wahyu tersebut adalah menandakan pertama dan awal dari turunnya ayat-ayat al-Qur’an sebagai kitab Suci umat muslim seluruh dunia.

Peristiwa itu terjadi di Gua Hira, sekitar kaki Jabal Nur dekat dengan Makkah. Ada beberapa pendapat mengenai awal turunnya wahyu tersebut, ada yang menjelaskan bahwa peristiwa penting tersebut terjadi pada 17 Ramadhan.

Sedangkan menurut ulama lain, peristiwa penting Nuzulul Qur’an terjadi pada 21 Ramadhan sebelum matahari terbit, atau sekitar 10 Agustus 610 M saat Nabi Muhammad berusia 40 tahun, 6 bulan, dan 12 hari sesuai kalender Hijriyah.

Terlepas dari itu semua, Nuzulul Qur’an menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam serta keistimewaan di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, banyak umat muslim memperingati Nuzulul Qur’an dengan beberapa kegiatan, bahkan diisi dengan pengajian atau sejenisnya.

ENCIKEFFENDYNEWS.com
Suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba- tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum.

Kemudian orang Arab badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab badui ini. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahan ku!”

Rasulullah menjawab, ”Sewaktu ada seorang Arab badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.”

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang buruk pula. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

ENCIKEFFENDYNEWS.com       –     Ramadhan bulan yang memberikan pencerahan kepada kita untuk berusaha maksimalis membersihkan diri, baik yang bersifat “li-ishlahidz-dzawahir maupun li-ishlahidh-dhamair”. Ramadhan membimbing manusia menuju jalan kebaikan, kemaslahatan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, juga membimbing manusia untuk mengenal posisi manusia sebagai hamba / Abid dan sebagai khalifah yang berfungsi menghambakan diri kepada  Allah Swt dan menjadi pemimpin di bumi. Untuk mewujudkan fungsi manusia tersebut, maka Allah swt memberi manusia berbagai potensi yaitu potensi jasmani, akal budi, dan nafs. Upaya mengoptimalkan potensi manusia tersebut, dibutuhkan PEMBERSIHAN/TAZKIYAH sebagai sarana untuk membimbing, mengembangkan, mengoptimalkan dan mengarahkan manusia berada pada jalan yang benar sesuai nilai-nilai yang DIKANDUNG dalam Islam.

Bagi kita, nilai-nilai Islam mengarahkan seluruh aktivitas manusia lahir dan batin bermuara pada seluruh gerak langkah dan detak jantung adalah tazkiyah .Ini  satu konsep ditengah-tengah berbagai konsep, akan tetapi merupakan suatu prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengantar semua khazanah fundamental keimanan dan aksi manusia dalam upaya taqarrub kita kepada-Nya.

Prinsip-prinsip TAZKIYAH akan selalu ada pada manusia jika dapat terlaksana secara optimal, karena TAZKIYAH  berfungsi selain mengembangkan kecerdasan rasionalitas manusia, juga mengembangkan kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritulitas. dimensi tazkiyatun- nafs sebagai upaya untuk mengembangkan kecerdasan spiritualitas yang terdapat dalam pesan-pesan ibadah di bulan yang Mubarak ini..

Ada tujuh langkah yang perlu menjadikan suatu kebiasaan/tabi’iyah “ al-ahwal” dalam tazkiyatun-nafs yakni ;

  1. Perbanyak Istighfar
  2. Perbanyak bershalawat kepada Rasul saw
  3. Bersahabat dengan al-Qur’an
  4. Tajdidul Iman/ mereformasi keimanan kita
  5. Perbanyak mengucapkan kalimah thayyibah
  6. Perbanyak berdoa
  7. Belajar banyak bersedekah