ENCIKEFFENDYNEWS.COM

Contoh yang beliau berikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tiada tolok bandingnya, sangat berbeda yang kehidupan masyarakat moderen sekarang ini. Bagi orang moderen, berpolitik adalah berebut kekuasaan. Sungguh sangat berbeda dengan Rasulullah saw. Beliau berpolitik untuk menciptakan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur dalam redha Allah SWT. Karena itu beliau menjalankan politiknya dengan bersih, adil dan penuh kasih sayang. Bahkan kepada musuh-musuhnya.

Suatu ketika Rasulullah sedang shalat Fajar berjama’ah di Hudaibiyah. Tiba-tiba datang serombongan orang kafir menyerbu, namun akhirnya tertangkap oleh kaum Muslimin. Tapi Rasulullah saw membebaskan mereka tanpa tebusan apa pun.

Seusai perang badar, Rasulullah saw juga memberikan kema’afan dan kebebasan kepada tawanan perang dengan membayar tebusan, demikian juga pada perang Hunain. Pada saat penaklukan kota Mekkah demikian juga Rasulullah saw memberikan ma’af kepada kafir Quraisy yang pernah menyakiti dan mengusir beliau bersama kaum Muslimin. Beliau memang sangat pema’af.

Di waktu yang lain, Rasulullah saw pernah hampir terbunuh oleh seorang kafir yakni Ghawrats ibnu Harits, tetapi gagal. Namun Rasulullah memberikan kema’afan, sehingga ketika dia pulang kepada kaumnya, Ghawrats bercerita tentang akhlaq nabi saw:”Aku kembali kepada kalian, dan baru bertemu dengan sebaik-baik manusia, yaitu Muhammad Rasulullah”.Abu bakar Shiddiq bercerita bahwa Rasulullah saw pernah berkata:”Barangsiapa  berbuat jahat kepada orang yang di bawah kekuasaannya, maka ia tidak akan masuk surga.”

Begitulah, Rasulullah saw adalah orang yang sangat menghargai manusia dan kemanusiaan. Meskipun berbeda pendapat, berbeda suku bangsa, atau pun berbeda agama, maka ketika Islam sudah eksis di Madinah, beliau justru membangun masyarakat heterogen yang terdiri dari beberbagai suku bangsa dan agama, ada Yahudi, ada Nasrani dan Muslim. Beliau bisa menerima kehadiran non Muslim, asalkan mau bersepakat dalam perjanjian dan persatuan.

Itulah yang kemudian kita kenal sebagai masyarakat Madani. Masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang, tetapi  memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera, berperadaban maju, saling menghargai, saling menghormati, dan mencari redha Allah SWT.

Umat islam berperan sebagai penata kehidupan bangsa dan negara. Dalam kemajemukan yang ada di Indonesia, umat islam dituntut untuk benar-benar pandai menerapkan gagasan islami dan keindonesiaan. Hal ini agar tercipta ketenteraman dan kedamaian.

Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW bahwa umat muslim adalah umat yang terdapat didalamnya kasih sayang, keadilan, kearifan sesuai yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dasar-dasar hubungan antar manusia inilah yang seharusnya dijadikan acuan umat islam dan bahkan bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.

Allah Ta’ala berfirman,  “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.

Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”(HR.Tirmidzi)

Adapun hadits yang mengatakan, “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.

Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan dan keberkahan ini.