ENCIKEFFENDYNEWS.com
Mendidik (at-tarbiyah) adalah kegiatan memberi contoh, tuntunan, petunjuk, dan keteladanan agar dalam diri yang dididik terjadi perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupannya. Dalam mendidik, aspek yang dominan untuk dikembangkan adalah aspek afektif (sikap dan nilai). Sehingga, dalam hal ini berbeda dengan mengajar (at-ta’lim), di mana aspek yang dominan untuk dikembangkan adalah aspek kognitif (pengetahuan); dan melatih (at-tadrib), di mana aspek yang dominan untuk dikembangkan adalah aspek psikomotorik (keterampilan).
Al-amtsal, jamak dari al-matsal (perumpamaan), merupakan salah satu metode mendidik yang ideal. Alquran banyak menggunakan al-amtsal dalam memudahkan pengertian suatu masalah. Allah SWT. berfirman, ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261).
Begitu juga dengan As-Sunnah, sebagaimana hadis riwayat Ath-Thabrani, ”Perumpamaan orang yang mengajar kebaikan kepada orang banyak tapi ia lupa akan dirinya, bagaikan lampu yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya sendiri.”
Terkait dengan al-matsal, Muhammad Abduh berkata dalam Tafsir al-Manar, al-amtsal secara etimologi adalah syibhun (sama) dan syabihun (serupa). Sedangkan dalam pengertian istilah umum, al-matsal adalah perumpamaan, yaitu suatu frase yang digunakan untuk menceritakan peristiwa tertentu yang serupa dan sama dengan yang sedang dialaminya. Apabila frase itu hanya dimaksudkan untuk menerangkan peristiwa tertentu saja disebut kisah atau cerita.
Dalam Alquran, penggunaan al-amtsal didahului dengan adl-dlarb (membuat). Allah SWT berfirman, ”Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.” (QS Al-Haj: 73). Hal itu menandakan adanya unsur kesengajaan untuk menarik perhatian. Dengan demikian, seolah-olah perumpamaan itu dibuat untuk menyentuh hati pendengarnya sehingga betul-betul terkesan dalam sanubarinya.
Selanjutnya, Muhammad Abduh menambahkan bahwa al-amtsal juga bisa mempengaruhi pendengarnya untuk mengambil pesan-pesan kebenaran dalam kisah tersebut. Ini artinya sebuah kisah memiliki pengaruh psikologis karena dapat menjelaskan keremangan makna universal dan menyentuhkannya ke dalam jiwa pendengarnya.
Di samping sebagai metode mendidik yang ideal, dan merinci suatu pesan yang global, perumpamaan juga merupakan salah satu sisi bukti kehebatan Alquran ditinjau dari segi balaghah (retorika)-nya. Wallahu a’lam bish-shawab.

