ENCIKEFFENDYNEWS.com  – Dalam salah satu kitabnya yang terkenal, al-I’thisham (hlm 206), Imam asy-Syatibhi (w 790 H) mengutip sebuah riwayat yang juga disampaikan oleh Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Dur al-Mantsur (jilid 6, hlm 177). ”Dari Ibnu Mas’ud RA, katanya, ‘Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku, tahukah kamu, siapakah orang yang paling cerdas itu?’ Maka kujawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasul menjelaskan, ‘Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling awas melihat kebenaran di kala manusia gemar berselisih paham, meskipun amal perbuatannya minim, meskipun ia hanya bisa merangkak di atas kedua tumit kakinya. Masyarakat bani Israil terpecah ke dalam 72 kelompok. Tiga dari sekian banyak kelompok itu akan selamat, sedangkan sisanya akan celaka’.”

Nabi SAW lalu menjelaskan tiga kelompok tersebut. Pertama, orang yang giat menentang (oposan) raja (penguasa) dan melawannya dengan dasar keyakinan agama Allah dan agama Nabi Isa Ibn Maryam, sehingga mereka semua terbunuh.

Kedua, mereka yang tidak mempunyai nyali untuk menentang dan melawan penguasa waktu itu, namun mereka menegakkan agama Allah di tengah para pemuka masyarakatnya. Kemudian mereka menyeru masyarakatnya agar berpegang pada agama Allah yang dibawa oleh Isa Ibnu Maryam (Islam), sehingga mereka kemudian diciduk penguasa dan dibunuh serta dipotong-potong tubuh mereka dengan gergaji.

Terakhir, kelompok ketiga, adalah mereka yang tidak punya kekuatan melawan raja (penguasa waktu itu) dan tidak juga punya kemampuan untuk mengajak masyarakat dan kaumnya pada agama Allah yang dibawa Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka hanya bisa mengembara di pegunungan dan menjadi paderi di sekitarnya.

Mereka inilah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, ”Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (tidak menikah dan mengurung diri di dalam biara), padahal Kami tidak pernah mewajibkannya kepada mereka, namun (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) guna mencari keridlaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (al-Hadid: 27).

Karena itu, orang-orang mukmin, kata Nabi SAW, adalah orang-orang yang beriman kepadaku dan membenarkan semua yang kubawa, sedangkan orang fasik adalah orang-orang yang membohongkanku dan menentangku.

Dari kisah dan pelajaran yang disampaikan oleh Nabi SAW tentang Bani Israil itu bisa disimpulkan, bahwa orang cerdas adalah orang yang masih mau menggunakan hati nuraninya, di saat kezaliman mendominasi kehidupan manusia. Orang yang cerdas adalah orang yang memiliki nalar dan sikap kritis terhadap segala bentuk ketimpangan dan kezaliman sosial.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Secara umum ajaran agama dapat dibagi menjadi dua: al-awamir (perintah-perintah) dan an-nawahi (larangan-larangan). Kemudian para pakar hukum Islam membagi perintah-perintah itu ke dalam dua kategori, yaitu kategori wajib (al-mafrudhat) dan sunah (al-nawafil). Larangan-larangan juga dibagi dua, yaitu haram dan makruh. Di luar itu, perbuatan manusia dikembalikan pada hukum dasar, yaitu mubah alias boleh-boleh saja.

Agama pada hakikatnya adalah jalan atau perjalanan menuju Allah SWT. Untuk sampai kepada Allah di ujung perjalanan, manusia haruslah menempuh jalan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT itu sendiri, yaitu syariah. Persoalannya, ada orang yang benar-benar mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dan berusaha agar senantiasa berada di jalan-Nya. Sebaliknya, ada orang yang hanya mengaku-ngaku berada di jalan Allah dan merasa dekat dengan-Nya. Padahal, ia jauh dari petunjuk Tuhan dan menyimpang dari jalan-Nya.

Oleh sebab itu, perlu dibuat kriteria atau semacam timbangan sebagai dasar penilaian. Imam Ghazali dalam buku Mizan al-‘Amal menyampaikan dua kriteria dasar sebagai pedoman penilaian. Pertama, kriteria syariah (Alquran dan Sunah). Bagi Ghazali, semua perbuatan manusia, besar maupun kecil, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, harus ditimbang dengan timbangan syariah, karena tidak mungkin seseorang bisa sampai kepada Tuhan dan menggapai ridha-Nya tanpa melalui jalan-Nya (syariat).

Kedua, kriteria kesadaran ketuhanan (khudhur al-qalb ma’a Allah). Kesadaran ini mengandung makna bahwa orang menyadari benar bahwa Allah senantiasa menyertai hidupnya dan mengawasi semua aktivitasnya. Kesadaran ini, dengan sendirinya, membuat seseorang selalu ingat kepada Allah baik di kala sepi maupun di tengah-tengah keramaian. Kesadaran ini merupakan pangkal kebaikan dan pangkal keluhuran budi pekerti. Inilah makna sabda Rasulullah SAW, ”Seseorang tidak akan mencuri atau melakukan tindak kejahatan sedangkan ia mukmin (menyadari kehadiran Tuhan).” (HR Muslim).

Kriteria yang kedua ini merupakan kriteria yang bersifat batin (rohani). Hal ini karena agama pada hakikatnya adalah sikap batin atau komitmen manusia untuk tunduk dan patuh kepada Allah secara total, lahir dan batin. Tanpa sikap batin ini, perilaku lahiriyah belumlah merupakan hal yang sejati dalam agama. Bahkan bisa dipastikan, tanpa sikap batin yang kuat, pengamalan agama sehari-hari tidak mungkin memberikan dampak positif baik secara moral maupun sosial.

Jadi, dua kriteria ini, lahir dan batin, syariat dan hakikat, harus dibangun secara integral dalam kehidupan agama. Penekanan pada salah satunya, seperti dikatakan Imam Malik, hanya akan menimbulkan kepincangan. Katanya, ”Barangsiapa mendalami fikih (syariat) tetapi tidak bertasawuf, maka ia sungguh telah menjadi fasik. Dan, siapa yang bertasawuf tanpa mengerti syariat Islam, maka ia sungguh telah menjadi kafir zindik. Siapa yang mampu menggabungkan keduanya, sungguh ia telah memperoleh kebenaran yang sejati.” Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com     Salah satu kewajiban hamba beriman adalah melakukan aneka macam kebaikan dalam bentuk apa pun, di manapun, dan kapan pun. Pendek kata, setiap waktu bagi orang beriman adalah ladang untuk berbuat kebaikan.

Itulah yang Allah SWT firmankan kepada para nabi-Nya, antara lain, kepada Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub. ”Sesungguhnya Kami telah menjadikan mereka (Ibrahim, Ishak, dan Yakub) sebagai para pemimpin. Mereka memberikan petunjuk kepada umat-umat mereka berdasarkan perintah Kami. Dan, Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Al-Anbiya’: 73).

Rasulullah SAW menyatakan, ”Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR Bukhari).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan lebih detail bentuk-bentuk perbuatan baik orang beriman yang bernilai sedekah. Kata beliau, ”Setiap orang Muslim diharuskan bersedekah.”

Para sahabat bertanya, ”Bagaimanakah jika ia tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan sedekah?”

Rasulullah SAW menjawab, ”Jika demikian, maka segala pekerjaan yang ia lakukan dengan tangannya sendiri dan hasilnya bermanfaat baginya, maka itu bernilai sedekah.”

Para sahabat bertanya lagi, ”Lalu, bagaimanakah jika ia tidak mampu bekerja atau ia tidak melakukan sesuatu?”

Rasulullah SAW kembali menjawab, ”Pertolongannya kepada saudaranya yang sedang tertimpa musibah, itulah sedekah.”

Para sahabat masih bertanya lagi, ”Bagaimanakah jika ia tidak melakukannya pula?”

Untuk kesekian kalinya Rasulullah SAW menjawab, ”Anjuran yang ia lakukan kepada orang lain untuk berbuat kebaikan, itulah sedekah.”

Untuk terakhir kalinya, para sahabat bertanya, ”Jika itu pun tidak ia lakukan?”

Dengan sabar, Rasulullah SAW menjelaskan, ”Ia mengambil sesuatu yang mengganggu perjalanan orang dari jalanan, maka itulah sedekah.” (HR Bukhari).

Di hadis yang lain disebutkan bahwa mengucapkan kata-kata yang baik dan bermanfaat kepada orang lain juga bernilai sedekah. Apalagi sampai melakukannya. Kata Rasulullah SAW, ”Takutlah kalian dengan siksa api neraka, dengan jalan sedekah walau sebesar satu buah kurma. Jika tidak kalian temukan, maka perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR Bukhari).

Kebaikan yang dilakukan dengan tulus ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, pasti akan selalu dibalas kebaikan pula oleh Allah SWT. ”Siapa yang berbuat kebaikan, walaupun sebesar dzarrah, maka pasti akan menuai balasannya yang setimpal.” (Al-Zalzalah: 7).

Dengan demikian, kebaikan adalah investasi beharga untuk setiap orang beriman di akhirat kelak. Allah SWT memerintahkan segenap kaum beriman untuk berlomba-lomba memperbanyak berbuat kebaikan. ”Berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan, karena di manapun kalian berada Allah pasti akan mengumpulkan kalian semua.” (Al-Baqarah: 148). Wallahu a’lam.