POHON KEBAJIKAN   ENCIKEFFENDYNEWS.com     Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, bersama beberapa teman sepulang sekolah saya menyempatkan diri mencari bibit tanaman di kebun liar. Biasanya, saya pulang membawa beberapa tanaman untuk kemudian di tanam di halaman depan rumah. Entah itu pohon mangga, jambu, rambutan atau lainnya. Meski dengan rajin saya merawatnya, memagarinya dengan potongan bambu agar tak terusik unggas, menyiraminya setiap pagi dan sore, namun masih saja ada pohon yang mati. Saya pun berkesimpulan, saya harus menanam lebih banyak pohon sehingga lebih besar peluang saya mendapatkan hasilnya nanti. Jadi, meski ada satu dua pohon yang mati saya tak perlu khawatir karena masih ada banyak pohon lain yang saya tanam bisa tumbuh subur.

Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian saya bisa merasakan hasilnya. Pohon mangga yang saya tanam, tumbuh besar dan berbuah. Begitu pula dengan pohon jambu, rambutan dan pepaya. Sungguh saya bahagia menyaksikan hasil dari apa yang pernah saya tanam dahulu. Sungguh merupakan kepuasan tersendiri bisa menikmati manisnya buah-buahan yang saya tanam sendiri.

Tidak puas sampai disitu, saya juga sering meminta izin kepada para tetangga untuk menamam bibit pohon yang saya temui dari hasil pencarian di kebun liar. Pohon mangga, jambu, rambutan dan lainnya. Dan beberapa tahun kemudian, seperti halnya pohon yang saya tanam di halaman rumah sendiri, pohon-pohon di halaman rumah tetangga pun tumbuh subur dan berbuah. Apa yang saya dapat? setiap kali pohon-pohon di rumah tetangga itu berbuah, saya diperkenankan untuk ikut menikmatinya. “Ini kah hasil yang kamu tanam dulu, nak,” ujar mereka.
Ah, alam telah sekian lama mengajarkan kepada manusia, apa pun yang kita tanam, benih apa pun yang kita tebar akan tumbuh sesuai dengan benihnya. Jika pohon mangga yang kita tanam, maka ia akan berbuah mangga. Tak pernah pohon jambu berbuah selain jambu, begitu juga dengan rambutan atau pohon lainnya yang kita tanam. Mengagumkan, kita hanya menanam sebiji mangga di halaman rumah, tapi kemudian kita bisa menikmatinya terus menerus bahkan tidak terbilang jumlahnya.

Alam pun memberikan hikmah, siapa pun manusia yang menebar benih dan menanam pohon kebaikan, maka kelak ia akan menuai teramat banyak kebaikan, meski hanya satu kebaikan yang kita tanam dahulu. Dan ketika tidak hanya di halaman depan rumah saya kebaikan itu saya tanam, melainkan juga di halaman rumah orang lain, tidak hanya orang lain itu yang akan menikmati kebaikan itu, bahkan sampai kapan pun dan kemana pun kita melangkah, kebaikan-kebaikan akan ternikmati. Ini hasil dari apa yang pernah kita tebar sebelumnya.
Seperti halnya kebaikan, setiap manusia yang menebar benih kejahatan pun kelak kan menuai kerugian maupun kejahatan yang sama. Anda pernah menghina orang, jangan kaget jika suatu ketika Anda dipermalukan oleh orang lain. Sebanyak apa pun keburukan yang pernah Anda tebar sebelumnya, pasti kelak Anda kan menuai keburukan di suatu hari. Meski semua itu Anda dapatkan dalam rangka membersihkan diri Anda.
Hmm, kalau lah saya bisa menikmati manisnya buah dari pohon-pohon yang saya tanam dahulu. Pastilah saya bisa menikmati indahnya kebaikan dan keberuntungan yang kelak kan saya terima dari benih kebaikan yang saya tebar dan tanam hari ini. Semakin banyak yang saya tebar, semakin banyak pula yang kan saya peroleh. Maha Suci Allah.

PENGENDALIAN DIRI   ENCIKEFFENDYNEWS.com     Dalam Alquran ditemui empat ayat yang bicara soal pengendalian diri, melalui gubahan kata ‘affa-ya’iffu-‘iffah. Keempat ayat itu dapat dipahami sebagai contoh sifat manusia yang mencapai kemampuan mengendalikan diri.

Pertama, orang miskin yang tidak memperlihatkan kemiskinannya. Mereka berhak menjadi objek sedekah atau zakat, tapi tidak memperalat kemiskinan itu untuk meminta-minta.
”(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah 273).

Kedua, orang yang memelihara anak yatim yang tidak mau ikut menikmati harta anak yatim itu (warisan orang tuanya) di luar kewajaran. Firman-Nya, ”Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka dewasa, dan kalau kamu menganggap mereka telah mengerti, serahkanlah kepada mereka hartanya, dan janganlah kamu makan (harta itu) di luar patut dan tergesa-gesa sebelum mereka menjadi dewasa. Barangsiapa (dari pemelihara itu) yang cukup mampu hendaklah mengendalikan dirinya (dari memakan harta anak yatim yang dipeliharanya), dan siapa yang hidup miskin boleh memakannya menurut sepatutnya. Apabila kamu menyerahkan hartanya kepada anak-anak yatim itu hendaklah kamu panggil saksi, dan Allah cukup mengadakan perhitungan.” (An-Nisaa’ 6).

Ketiga, remaja yang belum mampu menikah tidak sampai berbuat mesum. ”Dan hendaklah memelihara diri orang yang belum sanggup nikah sampai Allah memberikan kekayaan dari kemurahan-Nya ….” (An-Nur 33).
Keempat, perempuan tua yang tidak butuh lagi laki-laki, namun masih menutupi auratnya secara sempurna. ”Dan perempuan-perempuan yang sudah tua yang tidak mengharapkan perkawinan lagi, tidak ada salahnya menanggalkan pakaian (luar), tidak memamerkan perhiasan (terbuka tubuhnya), akan tetapi lebih baik mereka berlaku sopan (mengendalikan diri), dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (An-Nur 60).

Sungguh tidak mengendalikan diri kalau orang yang berkecukupan meminta-minta. Amat tidak mengendalikan diri kalau orang yang berkemampuan memakan harta anak yatim. Dan, termasuk tidak mengendalikan diri si gadis dan wanita muda yang tampil ke tengah umum dengan aurat terbuka. Semua contoh menunjukkan bahwa manusia dituntut mengendalikan diri ketika ia berada pada posisi yang memungkinkan melakukan penyimpangan. Sama seperti seorang yang sedang memangku jabatan dituntut mengendalikan diri agar tidak korupsi. Seorang pedagang yang berpeluang mempermainkan timbangan dan takaran dituntut tidak melakukannya dalam rangka mengendalikan diri. Seorang yang gagah berani diakui mengendalikan diri bila tidak melakukan tindak kekerasan dan penindasan. Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

 

Salah satu kecenderungan (muyul) yang dimiliki oleh setiap manusia –apa pun suku bangsa, kedudukan, jabatan, maupun agamanya– adalah keinginan kuat untuk memiliki dan menguasai materi dalam jumlah yang banyak. Bahkan, kebanyakan manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dikuasainya. Mereka ingin menambah dan menambah terus. Ini sama halnya dengan jabatan atau kekuasaan yang selalu ingin dipertahankan walaupun, misalnya, sudah tidak memiliki kemampuan melaksanakannya ataupun sudah terlalu banyak kesalahan yang pernah dilakukannya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Jika seorang manusia sudah memiliki dua lembah yang penuh berisi dengan harta, maka pasti ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak akan pernah manusia merasa kenyang hingga tanah sudah kena pada perutnya (sudah mati dan berada di alam kubur –pen).”

Hal ini sejalan pula dengan firman Allah SWT dalam surat At-Takatsur ayat 1-4, ”Bermegah-megahan (dengan harta) telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui.”
Keinginan kuat terhadap materi ini akan menjadi penyebab utama rusaknya tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara lebih luas, seperti apa yang kita rasakan sekarang ini, jika tidak disertai dengan kekayaan batin. Kekayaan batin yang mampu mengendalikan dan mengisinya dengan sifat syukur dan qana’ah (rasa puas). Dalam pengertian, ridha terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah kepadanya, yang menyebabkan terminimalisasinya sifat hasud dan dengki serta sifat rakus dan tamak.

Qana’ah yang merupakan sikap batin dan perilaku rohaniah adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis, karena akan melahirkan sikap syukur terhadap segala nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya. Hal ini seperti digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih dalam kitab Al-Jami ash-Shaghir, ”Jadilah engkau orang yang memiliki sifat qana’ah, maka engkau akan menjadi orang yang paling bersyukur kepada Allah SWT.”

Bahkan, dalam hadis lain riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW menyatakan bahwa hakikat kekayaan itu bukanlah semata-mata banyak harta yang dikuasai, akan tetapi terletak pada kekayaan batin yang dimiliki. Orang yang memiliki kekayaan batin tidak akan pernah dikendalikan dan dikuasai oleh materi, jabatan, dan kedudukan, akan tetapi justru hal-hal tersebutlah yang dikendalikan dan dikuasainya.

Semuanya itu hanyalah merupakan alat untuk mengaktualisasikan fungsi kekhalifahannya yang memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat banyak. Alangkah indahnya kekayaan materi yang disertai dengan kekayaan batin dan merugilah orang yang kekayaan materinya tidak didukung oleh kekayaan batin, apalagi jika fakir kedua-duanya. Wallahu a’lam bis-shawab.