ENCIKEFFENDYNEWS.com

TAUHID ORANG MUSLIM ENCIKEFFENDYNEWS.com Dengan bertuhan hanya kepada Allah SWT, yang kekuasaan-Nya memang muthlak dan benar-benar nyata, pada hakikatnya manusia akan mampu meni’mati tingkat kemedekaan yang paling tinggi, yang mungkin tercapai oleh manusia. Inilah yang dituju oleh setiap Muslim di dalam hidupnya. Setiap Muslim yang betul-betul beriman adalah manusia yang paling bebas dari segala macam bentuk keterikatan, kecuali keterikatan yang datang dari Allah Penciptanya.

Ia menghargakan kemerdekaan itu sedemikian tingginya sehingga tanpa ragu-ragu, jika perlu, ia siap mengorbankan hidupnya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan itu. Jika hal ini terjadi, maka ia akan mendapat kehormatan yang paling tinggi dari Allah sendiri. Demikian rupa tinggi kehormatan itu, sehingga ummat Islam dilarang Allah mengatakan orang ini mati, jika ia gugur di dalam mempertahankan haknya ini. Karena walaupun tubuhnya sudah menjadi mayat, namun dalam penilaian Allah SWT orang ini tetap hidup. Apanyakah yanghidup? Tiada lain melainkan KEMANUSIAAN-nya. Bukankah sudah diterangkan di atas, bahwa nilai kemanusiaan seseorang itu sebanding dengan kemerdekaan yang dihayatinya.

Kalau seseorang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaannya, maka pada hakikatnya ia telah mempertahankan nilai kemanusiaannya yang sempurna, karena ia telah meletakkan hak kemerdekaannya, dus kemanusiaannya, lebih penting dari kehidupan jasmaninya. Apalah arti kehidupan jasmaniah jika nilai kemanusiaan sudah tiada. Apalah artinya kehidupan jasmani melulu, jika telah hampa akan nilai kemanusiaan yang mulia. Bukankah kehidupan hampa seperti ini oleh pepatah bangsa kita dinamakan: “bak hidup bercermin bangkai .?” Bunyi pepatah ini selengkapnya ialah: “Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup bercermin bangkai”. Jelas sekali bahwa nilai Islam telah lama meresap ke dalam jiwa bangsa kita, sehingga pepatah kuno ini telah bernafaskan tauhid.

Kemerdekaanlah satu-satunya nilai, yang telah ditaqdirkan Allah berfungsi untuk membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Sungguhlah kehidupan orang yang tidak menghayati kemerdekaan, pada hakikatnya telah menempatkan kehadirannya di dunia yang fana ini serba salah. Dikatakan manusia ia tidak punya nilai kemanusiaan (kemerdekaan), dikatakan bukan manusia tubuh dan bentuknya menggambarkan dia tepat seperti manusia.

Oleh karena itulah, maka mereka yang telah berani membayar nilai kemerdekaannya dengan mengorbankan kelangsungan hidup jasmaniahnya dinilai Allah lebih hidup dari mereka yang sekadar “bercermin bangkai” tadi. Di dalam al-Qur’an mereka yang telah gugur karena mempertahankan kemerdekaannya ini dinamakan “syahid”, karena ia telah berani menjadi “saksi” akan kebenaran ajaran Allah SWT, yang mengatakan bahwa nilai kemanusiaan, yang pada hakikatnya abadi itu lebih penting dari kehidupan jasmaniah yang temporer (sementara atau fana) ini. Allah melarang ummat Islam mengatakan mereka mati, karena pada hakikatnya mereka itu hidup. Apanyakah yang masih hidup, padahal batang tubuhnya sudah tergeletak tak bergerak lagi? Mereka tetap hidup di dalam nilai kemanusiaannya (kemerdekaannya) yang abadi. Dalam ayat Allah SWT dikatakan: “Jangan engkau katakan mereka yang telah terbunuh dalam jalan Allah itu mati, karena sesungguhnya mereka itu hidup, tapi engkau tiada mengerti”. (Q. 2:154)

Kehidupan yang berma’na ialah kehidupan yang bebas dari segala macam keterikatan yang tak perlu. Namun bebas sepenuhnya tidaklah mungkin bagi setiap manusia. Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa setiap orang mesti memerlukan sesuatu yang dipentingkannya. Oleh karena sifat asli manusia itu haniif (cenderung kepada kebaikan/kebenaran), maka sesuatu yang dipentingkan oleh manusia itu senantiasa berupa sesuatu, yang menurut penilaiannya baik/benar. Dengan demikian maka dapat difahami, bahwa yang dipertuhankan manusia itu biasanya sesuatu yang menurut dia benar/baik.

Jadi, tuhan itu selamanya merupakan suatu kebenaran atau kebaikan bagi yang mempertuhankannya, walaupun relatif atau sementara. Di dalam pengalamannya manusia merasa terikat akan tuhan-tuhan ini sebelum tuhan-tuhan ini diperolehnya. Misalnya, orang yang bersedia bekerja keras belajar sampai kurang tidur, bahkan terlupa makan sebelum menempuh ujian untuk mendapatkan ijazah tertentu. Pada saat itu ijazah inilah yang menjadi tuhannya, karena ijazah ini telah mengatur irama hidupnya. Namun setelah ijazah berada di tangan, maka kepentingannya dan nilainya segera jatuh menjadi hampir nol.

Dari contoh ini ternyata bahwa ketuhanan ijazah ini sangat relatif. Ia mencapai nilainya yang tertinggi pada saat menjelang ia akan diperoleh. Sesudah diperoleh, maka nilainya jatuh menjadi hampir kosong. Contoh-contoh lain bisa terlihat dengan mudah di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika ia sudah mendapat ijazah yang dipentingkannya sebelumnya, maka ia mulai memikirkan bagaimana mendapatkan teman hidup atau isteri. Maka jika ia menemukan seorang gadis yang diingininya, maka ia mulai mencintai dan merindukan gadis itu. Kemanapun ia pergi dan dalam keadaan bagaimanapun ia tetap mengenang gadis kekasihnya ini.

Maka gadis inipun mulai mempengaruhi, bahkan kadang kala turut mengatur irama hidupnya. Dengan lain perkataan, gadis ini berubah menjadi tuhannya. Tingat ketuhanan gadis ini pun meningkat menjelang hari perkawinan mereka sampai kira-kira beberapa hari atau beberapa minggu setelah perkawinan itu terjadi. Sesudah itu nilai “ketuhanan” wanita ini biasanya akan menurun juga. Banyak pula pasangan suami isteri telah mulai bertengkar sebelum bulan madu mereka selesai dijalani, bahkan sampai bercerai.

Manusia memang selalu berpindah dari tuhan yang satu ke tuhan yang lain. Ketika manusia sedang lapar, maka makananlah yang mudah menjadi tuhan. Ketika sakit orang akan mempertuhankan kesehatan, walaupun ketika ia sedang sehat hampir tidak pernah menghargai kesehatan yang sedang dialaminya.

Walaupun demikian, manusia tidak mungkin mengatakan: “tidak ada tuhan”, karena mengatakan: “tidak ada tuhan”, samalah dengan mengatakan “tidak ada kebenaran”. Sedangkan mengatakan “tidak ada kebenaran” sama dengan mengatakan “semuanya salah”. Kalau semuanya salah, maka kalimat “semuanya salah” itu pun salah pula. Jadi, kalimat “tidak ada tuhan” itu menafikan dirinya sendiri.

Dari rangkaian logika ini terbukti bahwa kita tak mungkin mengatakan “tidak ada tuhan”, walaupun di dalam kenyataannya, sebagaimana diuraikan dalam alinea di atas, bahwa tuhan-tuhan yang dipentingkan manusia itu sangat relatif nilainya, dan sangat tergantung kepada posisi manusia yang bersangkutan terhadapnya. Itulah kiranya alasan mengapa al-Qur’an tidak punya istilah yang artinya identik (sama benar) dengan “atheist” atau “atheisme” (faham yang menafikan adanya tuhan).

Kalimat “tidak ada tuhan” ini tidak mungkin berdiri sendiri. Kalimat itu tidak logis atau tidak dapat diterima aqal atau nonsense alias tidak bermakna. Kalimat itu hanya bisa bermakna jika ia tidak diakhiri dengan titik. Jika kalimat “tidak ada tuhan” ini diakhiri dengan koma dan ditambah menjadi “tidak ada tuhan, kecuali X”, maka X menjadi satu-satunya Tuhan yang berbeda sifat dan posisinya terhadap tuhan-tuhan lainnya. Ia mau tak mau mestilah mutlak, tidak lagi relatif seperti tuhan-tuhan yang lain itu.

Karena mutlak, maka Ia mestilah unique. Kalau Ia unique, maka mestilah pula Ia berbeda dengan segala yang mungkin terpikirkan dan terbayangkan oleh manusia, walau apapun yang dinamakan X ini. Di dalam ajaran Islam X inilah yang dinamakan Allah. Perkataan Allah di dalam bahasa ‘Arab sudah ada sebelum lahirnya Muhammad SAW. Allah dalam bahasa ‘Arab merupakan satu-satunya kata benda (isim atau noun) yang tak punya jama’. Sedangkan kata ilahun punya “ilaahaini” (dua ilah) dan “alihatun” (tiga atau lebih ilah).

Maka ucapan “Laa ilaaha illa Allah” yang berarti “Tiada tuhan kecuali Allah” merupakan deklarasi kemerdekaan yang paling tinggi (The ultimate declaration of independence), tapi masih mungkin dicapai oleh setiap manusia. Deklarasi inilah yang membebaskan setiap manusia, yang mampu menghayatinya dengan istiqaamah (consistent), dari segala macam bentuk perbudakan dan penjajahan, termasuk penjajahan hawa nafsunya sendiri. Manusia yang menghayati deklarasi ini dengan istiqaamah adalah manusia yang paling sempurna nilai kemanusiaannya. Dalam istilah Islam manusia seperti ini dinamai “insan kamiil” atau insan sempurna. Barangkali pribadi seperti ini pulalah yang dimaksud dengan istilah “manusia seutuhnya” oleh GBHN kita.

Seorang yang telah mampu mencapai tingkat tawhid yang istiqaamah, maka seluruh irama hidupnya diatur oleh kehendak Allah SWT. Rasa lapar baginya merupakan cara Allah berkomunikasi dengan dia. Rasa lapar, yang tiada lain dari pada salah satu instinct, di dalam al-Qur’an dipakai istilah “wahyu”, walaupun mestinya tidak sama dengan tingkat wahyu yang diterima para nabi dan rasul, Lihat (Q. 16:68). Maka rasa lapar ini diartikan manusia yang bertauhid sebagai signal (wahyu) dari Allah agar ia makan demi mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berbakti (mengabdi) kepada Allah. Oleh karena itu, makan baginya bukan sekadar mengatasi rasa lapar, tetapi demi memenuhi perintah Allah, maka pasti akan dimulainya dengan membaca basmallah.

Rasulullah telah menyatakan, bahwa orang yang makan dengan cara ini dinilai telah melakukan ‘ibadah. Demikian pula dengan aktivitas lain. Misalnya, jika ia belajar bukanlah karena ingin mendapat gelar sarjana. Ia belajar karena mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya yang telah mewajibkan setiap Muslim dan Muslimat untuk belajar. Maka jiwa tauhid akan merupakan motivator utama baginya untuk bekerja keras dalam menyelesaikan studinya itu, karena belajar itu dirasakannya sama dengan ‘ibadah lain yang akan mendapat ganjaran dari Allah SWT di dunia dan di akhirat nanti.

Dengan demikian, maka seorang yang istiqaamah dalam tauhidnya merasakan seluruh hidup dan kegiatan hidupnya tiada lain melainkan ‘ibadah yang kontinyu kepada Allah SWT. Manusia seperti ini pasti akan mempunyai sikap dan akhlaq yang lain dari manusia biasa. Ia punya rasa tanggungjawab yang sangat tinggi, jujur, amanah, kreatif, dan berani mengambil resiko, optimis terhadap masa depan, disamping tawakkal ‘ala Allah dalam melakukan setiap tugas yang berupa tantangan bagi kemampuan dirinya.


ENCIKEFFENDYNEWS.com        –        Pimpinan Wilayah DMI Provinsi Kepulaun Riau mengadakan silaturrahmi ke Pimpinan Daerah (PD) DMI Kota Tanjungpinang (Selasa/28/12) DI Aula Asrama Haji Kota Tanjungpinang, juga pengurus PC DMI se-Kota Tanjungpinang.

Pada kesempatan itu Ketua PW DMI Provinsi Kepulauan Riau H. Muhammad Rudi yang juga merupakan Walikota Batam dan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam  memberikan pandangan dan ide-ide konstruktif “bagaimana memakmurkan Masjid dan Masjid memakmurkan ummat, tentu langkah pertama mengiventarisasi problematis yang dihadapi masjid dewasa ini. Juga beliau akan berkunjung ke seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Kepri ini untuk mendengar apa saja yang diperlukan oleh PD DMI Kab/Kota untuk sharing dan mendengar bagaimana upaya planning PD DMI Kab/Kota.

Mudah-mudahan DMI di bawah nakhoda HMR (H. Muhammad Rudi) dinamika masjid dapat lebih Makmur dan tentu dimakmurkan masjid. Syabas ! semoga,….. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com
Rasa takut maupun rasa hormat dan kagum serta rasa ketergantungan yang berlebih-lebihan ini akan mudah dikontrol, bahkan bisa dicegah, jika manusia mau dan mampu memanfa’atkan dua fasilitas lain yang hanya dikaruniakan oleh Allah sebagai ni’mat-Nya yang tertinggi kepada manusia. Oleh karena itu kedua fasilitas ini sangatlah penting artinya bagi manusia. Keduanya dikaruniakan Allah kepada manusia dengan percuma, justru sebagai penunjang karunia-Nya yang berupa kemerdekaan tadi.

Kedua fasililas ini ialah ‘akal dan rasa. Dengan ‘akal ini manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan ni’mat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan ke’adilan.

Ni’mat rasa, jika berkembang subur, juga akan menjadikan manusia mampu menghargai (appreciate) keseimbangan dan keharmonian, bahkan akan meningkatkan watak manusia yang sungguh-sungguh mengembangkannya (baca: mensyukurinya) menjadi manusia pengasih, penyayang, pencinta yang senantiasa rindu dan terikat (committed) kepada kebenaran, keseimbangan, keserasian dan ke’adilan. Kerinduan dan keterikatan (commitment) kepada kebenaran dan ke’adilan ini bisa sedemikian rupa kuatnya, sehingga ia siap berkorban, kalau perlu, untuk memperjuangkan dan mempertahankannya. Inilah pula landasan daripada iman, serta penyebab utama tumbuhnya watak khusyu’ atau ‘asyik (rindu) akan “Kebenaran Mutlak” (Al-Haq).

Oleh karena itu, kedua ni’mat Allah yang paling penting ini wajib disyukuri manusia. Cara mensyukuri keduanya ialah dengan mempergunakan dan mengembangkan kemampuan (potensi) keduanya secara maksimal dan seimbang, dengan mengasah keduanya sampai menjadi alat yang paling ampuh di dalam mempertahankan kemerdekaan tadi. Manusia yang ber’akal cerdas dan sarat ‘ilmu serta berwatak cinta akan ke’adilan dan kebenaran (Ulul ‘ilmi Qaaiman bil-Qisthi, Q.3:18), pasti akan menolak mentah-mentah setiap macam bentuk perbudakan dan penindasan, walaupun bagaimana halusnya bentuk perbudakan itu, karena ia hanya kenal tunduk kepada Yang Mutlak.

Mensyukuri ni’mat ‘akal berarti mengasahnya atau melatihnya untuk memecahkan masalah-masalah ‘ilmu pengetahuan semahir-mahirnya. Mengasah rasa ialah dengan melatihnya menghadapi tantangan-tantangan hidup, mendidiknya menjadi cinta, bahkan rindu akan kebenaran dan ke’adilan, sehingga ia berani dan siap berkorban, jika perlu, apabila ia dihadapkan kepada kenyataan, bahwa kebenaran dan ke’adilan itu sedang terancam atau diperkosa oleh siapapun. Masyarakat yang anggota-anggotanya cerdas, ber’ilmu dan terdidik cinta akan kebenaran dan ke’adilan tidak akan pernah bersikap “nrimo “. Di kalangan masyarakat yang ber’ilmu dan berpendidikan tinggi, manusia-manusia yang kejangkitan penyakit iblis –yang berwatak “kibir” atau sombong– tadi biasanya tidak mendapat pasaran.

Kepada manusia yang berkwalitas cerdas, ber’ilmu dan terdidik cinta dan merasa terikat (committed) akan kebenaran dan ke’adilan inilah, ni’mat Allah yang tertinggi, yakni hidayah iman akan dianugerahkan. Memang, ni’mat hidayah iman, dalam arti kata yang sesungguhnya akan diberikan hanya kepada manusia yang berkwalitas tersebut. Tanpa kwalitas seperti itu Allah tidak pernah menjamin akan mengkaruniakannya. Sedangkan seorang jauhari tidak akan memasangkan intan di atas cincin tembaga, konon pula Allah Yang Maha ‘Arif. Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya: “Barang siapa ditunjuki Allah, ia mendapat petunjuk (hidayah); barangsiapa yang sesat mereka menderita kerugian.” (Q. 7:178).

Ayat ini membuktikan, bahwa nikmat hidayah (iman dan ‘ilmu) tidak pernah diberikan Allah secara percuma (gratis). Perbedaan nikmat iman dan ‘ilmu dengan nikmat kehidupan dan kemerdekaan, justru dalam hal ini. Nikmat kehidupan dan kemerdekaan diberikan percuma oleh Allah kepada setiap orang, bahkan prasarana dan alat bantu untuk mempertahankan dan memperkembangkannya diberikan Allah dengan percuma pula. Prasarana untuk menunjang kehidupan ini ialah instinct dan nafsu. Tanpa kedua penunjang ini manusia tidak akan dapat mempertahankan hidupnya, oleh karena itu nikmat instinct dan nafsu diberikan Allah gratis dan keduanya berkembang bersama dan sebanding dengan tingkat kehidupan itu.

Nikmat kemerdekaan, sebagaimana yang telah diterangkan di atas, ditunjang oleh nikmat akal dan rasa, yang juga dikaruniakan Allah gratis. Namun, jika nikmat akal dan rasa ini dikembangkan (disyukuri) secara sungguh-sungguh dan maksimal, maka keduanya akan bisa menjadi sebab datangnya anugerah Allah yang paling tinggi itu, yang hanya dikaruniakan Allah kepada manusia-manusia terpilih, yaitu orang-orang yang berjuang (berjihad) memanfaatkan keduanya secara optimal, itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “Mereka yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami pasti akan Kami tunjuki (beri hidayah) jalan-jalan Kami; Sungguh, Allah bersama orang yang berbuat baik.” (Q. 29:69)

Jadi untuk mendapatkan petunjuk Allah yang berupa iman dan ‘ilmu secara pasti, manusia perlu berjuang (berjihad), dan karena itu pula perjuangan untuk mencari hidayah (‘iman dan ‘ilmu), yang jika telah diperoleh akan mampu mempertahankan dan meningkatkan nilai kehidupan dan kemerdekaan, adalah bentuk perjuangan yang dinilai paling tinggi oleh Allah, sehingga orang yang sampai gugur dalam perjuangan ini akan diangkat langsung ke dalam surga Jannatunna’im. Perjuangan seperti ini dinamakan perjuangan menempuh jalan Allah (sabili-Llah) dan mereka yang gugur tidak boleh disebutkan mati, karena pada hakikatnya mereka itu tetap hidup sebagai saksi-saksi kemanusiaan (syuhada). Bukanlah nilai kemanusiaan itu tidak akan pernah mati.

Bagi mereka yang enggan berjuang, Allah tidak pernah menjamin akan menganugerahi mereka hidayah iman dan ‘ilmu. Yang dimaksud dengan: “barangsiapa yang sesat” di dalam ayat (Q.7:178) di atas, tiada lain ialah mereka yang tidak dengan sungguh-sungguh mensyukuri (baca: mengembangkan secara maksimal) potensi akal dan rasa mereka. Padahal anugerah yang lain, yang lebih rendah nilainya, misalnya rezeki, tetap dijamin Allah bagi setiap makhluk-Nya yang sudah diberinya kehidupan, bahkan binatang sekalipun. Inilah yang dimaksudkan-Nya dengan ayat-Nya: “Betapa banyaknya binatang yang tiada membawa bekal, namun Allah menjamin rezeki mereka serta rezeki kamu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Q.29:60) Ayat yang hampir sama maksudnya ialah (Q. 11:6), juga menjamin disediakannya rezeki bagi setiap yang diberi-Nya kehidupan. “Tiada yang melata di muka bumi, melainkan tanggungan Allah rezekinya.”  Oleh karena itu, orang yang beriman akan ayat-ayat ini pasti akan menjadi manusia yang berwatak optimis di dalam menghadapi kebutuhan materielnya; ia tidak akan pernah terlalu risau akan rezeki, yang diyakininya pasti akan diperolehnya selama hayat dikandung badan. Yang menjadi fokus perhatiannya di dalam menjalani hidup di dunia ini, ialah bagaimana mempertahankan kemerdekaannya sebagai manusia yang punya harga diri serta bagaimana mempertebal imannya, sehingga betul-betul menjadi manusia bertaqwa yang diredhai Allah Maha Pencipta yang dikasihinya.

Ia merasa tidak perlu menuntut hak-hak istimewa terhadap masyarakat sekitarnya, karena ia yakin bahwa manusia ini sama dan semuanya hamba Allah, dan ia merasa tidak perlu berendah diri terhadap orang lain, karena perbedaan derajat antara manusia di sisi Allah hanyalah diukur oleh mutu ketaqwaan seseorang terhadap Allah SWT. Oleh karena itu pula manusia yang berwatak begini tidak akan pernah bersemangat “nrimo” seperti diterangkan di atas, konon pula berwatak budak terhadap orang lain.

Sebaliknya, manusia seperti ini dalam kesempatan yang bagaimanapun tidak akan menjadi seorang yang otoriter, konon pula seorang tiran, karena ia yakin, bahwa tirani berarti memperkosa hak asasi manusia lain sesama hamba Allah SWT. Dengan kata lain ia yakin, bahwa otoriterisme dan tirani bertentangan dengan kemanusiaan yang ‘adil dan beradab.