ENCIKEFFENDYNEWS.com  –  Sepanggal Hadits dari Rasul saw, ayyu qawmin antum yang bermakna kaum/bangsa seperti apa kamu ini ? Sekilas memberikan gambaran tentang entitas kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Hari ini kita dikejutkan oleh Densus 88 tentang penangkapan dugaan terorisme dari anggota komisi Fatwa MUI Pusat, kitapun lalu berujar ; ayyu qawmin antum ?

Kondisi negara / dunia saat ini sedang mengalami berbagai goncangan dahsyat, dengan berbagai macam situsional yang menggemparkan. Dunia  seperti yang pernah terjadi dalam cerita 1001 malam melambangkan betapa pelik dan rigid dunia saat ini, bukan saja yang bersifat internasional, bahkan dalam internal sendiri begitu susah konstruktif sebagai perbaikan yang lebih dinamis di masa yang akan datang. Dunia sudah tua, membikin pangling penghuninya. Ayyu Qawmin Antum ? Sedikit kita teranyuh dengan ujaran-ujaran yang kadang menyakitkan hati umat ini. Apalagi MUI Pusat yang terindikasi anggota komisinya diduga terlibat terorisme. Semoga di masa yang akan datang tidak akan terulang lagi, aamiin. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Memang manusia seolah tak pernah bisa bersyukur atas apa yang ia miliki dan apa yang sedang ia alami. Yang kaya akan merasa masih miskin, yang miskin tak pernah merasa kaya. Yang senang selalu berkeluh seolah menunggu susah, yang menderita tak pernah membuka mata.

Mari berbicara mengenai rasa syukur. Hari ini, kita menyadari bahwa tak pernah ada sesuatu yang benar-benar bisa memuaskan hati seorang manusia. Entah karena memang hal yang diperolehnya tak sempurna, entah karena memang serakah adalah sifatnya. Tak memiliki harta, ia tak puas. Setelah diberi, tak pernah tercukupi. Dan hari ini kita menyadari, kita pernah dan mungkin masih menjadi bagian dari golongan serakah itu.

Mari lihat seberapa besar seorang manusia bisa mensyukuri. Kala ia senang, berteriak, melonjak, berseru gembira, berhura-hura, lalai, lupa, semua seakan tak ada habisnya. Namun bila hadirlah duka, maka tak lupa ia mengumpat, memaki, mencaci, menyesali, meratapi, seolah ia lah manusia yang paling menderita dan nyaris mati.

Pernahkah kita semua, sekejap saja, sekedar mengucapkan syukur untuk keberkahan yang telah hadir hari ini? Apabila kita lupa untuk melakukannya kemarin, andaikan kita takut untuk menjadi manusia yang lupa diri. Lakukanlah hari ini, saat ini, sekarang juga. Sebab kita tak pernah tahu, kapankah terbersit keserakahan itu lagi. Kapankah setan akan menyelip di sela hati, hingga mengikis habis amal yang telah dengan lelah dilakukan selama ini.

Maka, keluarkan selalu rasa syukur dari hati. Bahwa setiap jengkal kenikmatan yang telah kita peroleh, ataupun ia yang masih mengawang sebagai mimpi, kelak akan sampai juga bila Ia menghendaki. Maka tetaplah menjadi seseorang yang selalu mensyukuri, sebab kita tak pernah tahu sampai kapan kenikmatan itu akan dilalui. Bisa jadi ia cepat pergi, seperti angin yang berhembus dan berhenti tanpa permisi. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com       –       Masjid, merupakan rumah Allah, tempat kita bersujud kepada-Nya. Didirikan sebagai lambang membangun dasar spiritual, asas ketakwaan kita kepada-Nya. Sehingga Allah selalu memberikan motivasi kepada orang yang membangun  masjid, siapa di dunia ini yang membangun sebuah masjid yang mengharapkan keridhaan Allah, ketulusan pengabdian kepada-Nya, maka Allah akan membangun baginya sebuah rumah di syurga. Sehingga kita berlomba-lomba/ umat Islam selalu berusaha membangun masjid sebagai symbol kepatuhan kita kepada-Nya.

Masjidil Haram di Mekkah yang merupakan symbol kebanggaan umat Islam dan terdapat di dalamnya Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam dalam menghadapkan diri kepada-Nya. Demikian juga masjid Nabawi yang maqam Rasul saw terdapat di dalamnya, seorang Rasul yang memberikan uswah/keteladanan dalam membina aqidah dan akhlak umat manusia, memperkenalkan entitas manusia sebagai abid yang mesti taat kepada al-Khaliq rabbul alamin.

Demikian pentingnya peranan masjid dalam Islam, sehingga kaum muslimin berlomba-lomba membangun dan mengelola masjid dengan baik sebagai lambang kepatuhan kita kepada-Nya. Di tempat kita /Indonesia pengelolaan masjid sudah dibagi dalam tipikal masjid sesuai dengan tingkatan daerah masing-masing. Masjid tingkat Nasional namanya masjid Nasional terletak diibukota Negara – Masjid Istiqlal, di povinsi masjid Raya, di kabupaten/kota masjid Agung sedangkan di kecamatan Masjid Besar. Pengelolaannyapun dikelola secara khusus dan professional yaitu Dewan Masjid Indonesia (DMI) sesuai dengan tingkatannya itu, di pusat DPP DMI dengan nakhodanya Bapak H.M. Yusuf Kalla kalau di provinsi, Provinsi Kepulauan Riau yang baru muswil IV DMI terpilih Bapak H.M. Rudi, mudah-mudahan masjid di provinsi ini lebih baik dan lebih maju dari provinsi-provinsi lainnya di Indonesia, semoga ! (EA)*