AMANAT KEHIDUPAN ENCIKEFFENDYNEWS.com     Perjalanan bangsa ini –dan juga bangsa-bangsa lain– selalu memberikan pelajaran bahwa tidak ada satu pun yang abadi. Jabatan dan kekuasaan yang dimiliki seseorang selalu ada batasnya. Orang yang sebelumnya dihormati dan dimuliakan dengan sangat cepat dapat menjadi orang yang hina dan pesakitan. Orang yang kaya pun dapat dengan sangat tiba-tiba menjadi miskin. Begitu juga sebaliknya, orang yang beberapa bulan atau tahun lalu bukan ”siapa-siapa”, bisa jadi kini sudah menjadi ”orang hebat”.

Hal ini sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya, ”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)’.” (QS 3: 26-27).

Demikian pula dengan diri kita. Kita pun berputar dan mengalami pertumbuhan dari asalnya tidak ada menjadi ada dan kemudian kembali kepada-Nya. Dari anak-anak, remaja, dewasa dan menjadi tua. Allah SWT berfirman, ”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS 2: 28).

Dalam ayat lainnya dijelaskan, ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami-(nya).” (QS 40: 67).

Itulah yang disebut sunnatullah. Semuanya berjalan dan berputar sesuai dengan kehendak Yang Kuasa, Allah SWT. Allah yang memberikan amanah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan, Allah pula yang mencabut amanah tersebut.

Dalam konteks ini, maka apa pun yang kita miliki dan bahkan diri kita adalah amanah kehidupan dari Allah. Kita harus menjaga dan menjalankan amanah tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Karenanya, janganlah kita terlena dengan segala apa yang kita miliki, terutama jabatan (kedudukan) dan kekayaan. Sebab, semua itu adalah cobaan dan amanat.

Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS 8: 27). Wallahu a’lam bis-shawab

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Bekerja merupakan kewajiban Muslim yang sehat fisik dan mental. Orang yang bekerja dengan benar, dalam rangka menjalankan perintah dan mengharapkan ridha Allah akan mendapat ganjaran pahala dari-Nya. Sebaliknya, orang yang mengabaikannya mendapat dosa, apabila tidak ada halangan syar’i dalam mewujudkannya.

Kerja merupakan wujud syukur kepada Allah. Orang bekerja berarti telah menggunakan nikmat kesehatan fisik yang diberikan Allah secara baik dan benar. Allah berfirman, “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS 34:13).

Islam menghargai orang yang makan dan minum dari hasil kerja sendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mengonsumsi makanan itu lebih baik daripada mengonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri, sebab Nabi Allah, Daud, mengonsumsi makanan dari hasil kerjanya.” (HR Bukhari). Hadis ini mendorong Muslim bekerja memperoleh kebutuhan hidup menggunakan tangan dan kekuatan fisik. Kemuliaan dan kehormatannya ditentukan oleh kemampuan menggunakan potensi diri untuk bekerja.

Dalam bekerja harus ada rencana yang baik dan matang karena akan menentukan keberhasilan dari kerja tersebut. Rencana dibuat untuk jangka pendek dan panjang. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 59:18).

Muslimin diperintahkan Allah bekerja, tetapi ia tidak mengetahui dan bisa memastikan hasilnya. Ini pula yang mendorongnya bekerja maksimal agar mencapai hasil memuaskan. Allah berfirman, “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 31:34).

Setiap Muslim dituntut bekerja sekuat tenaga dan mengerahkan segala kemampuan. Allah menilai kesungguhannya dalam bekerja. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah di antara kita yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini’.”(QS 39:39).

Kerja merupakan bagian ibadah kepada Allah, sehingga dilakukan dengan cara terbaik. Kerja tidak boleh melalaikan Muslim dari ibadah kepada Allah. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS 62:9).

Setelah bekerja secara maksimal, Muslim dituntut tawakkal, menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakkal penting agar ketika berhasil tidak lupa bersyukur kepada Allah yang menganugerahkan hasil kerja tersebut. Dan ketika gagal, ia tidak putus asa karena hal itu ujian dari Allah agar kita bersabar. Allah berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS 33:3).

Suatu hari, Rasulullah SAW didatangi oleh Uthbah bin Rabi’ah. Ia seorang utusan bangsawan Quraisy yang berniat membujuk Rasulullah agar berhenti berdakwah. Melihat Uthbah bin Rabi’ah datang, Rasulullah pun berkata kepadanya, ”Katakanlah wahai Abu Al-Walid (panggilan Uthbah), aku pasti akan mendengarkannya.” Setelah Uthbah bin Rabi’ah berbicara panjang lebar, Rasulullah SAW kembali bertanya, ”Apakah kamu telah selesai berbicara wahai Abu al-Walid?”

Ketika utusan Quraisy itu menyampaikan unek-uneknya, Rasulullah SAW mendengarkannya dengan seksama. Setelah Uthbah selesai berbicara, barulah Rasulullah memintanya agar mendengarkan beliau, yang akan membacakan surat Fushilat kepadanya. Akhirnya Uthbah pun yakin bahwa apa yang diserukan Rasulullah adalah kebenaran yang datang dari Dzat Yang Mahabenar. Surat Fushilat, antara lain, menjelaskan, Rasulullah adalah manusia biasa yang diberi wahyu yang mengajak pada kebenaran.

Begitu juga, ketika Rasulullah SAW berhadapan dengan Khaulah binti Tsa’labah, yang mengadukan tingkah laku suaminya, Aud bin Shamit. Suaminya itu tanpa sebab yang jelas ingin menjauhi Khaulah. Dengan keteduhan dan perasaan mengayomi, Rasulullah berhasil membuat Khaulah merasa keluhannya diperhatikan dan didengarkan. Keluhannya tentang sang suami ditanggapi dengan baik oleh Rasulullah. Itulah sebabnya, Khaulah tidak merasa sungkan bercerita tentang problemnya kepada Rasulullah, sehingga jelas jalan keluar dari permasalahan yang menimpanya itu.

Mendengarkan merupakan suatu proses yang menentukan, apakah hubungan akan berlanjut secara efektif dengan orang lain atau tidak. Dan, ini memerlukan kekuatan emosional. Mendengarkan memerlukan kesabaran, keterbukaan, dan keinginan untuk mengerti perasaan orang lain. Tentu saja, untuk mencapai pola ideal seperti ini diperlukan proses kelapangan dada yang harus dilakukan dan dipelajari terus-menerus hingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari akhlak keseharian.
Kalau kita perhatikan, terjadinya berbagai aksi yang sering berakhir dengan bentrokan, yang banyak memakan korban, terjadi karena adanya pihak-pihak yang mengabaikan sikap mengalah dan mau mendengarkan apa yang menjadi unek-unek pihak lain. Padahal, tindakan mendengarkan ini memiliki kekuatan emosional yang mampu meredam ketegangan. Namun, mereka mengabaikannya. Akibatnya, terjadilah apa yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Terkait dengan pentingnya kebiasaan mendengarkan ini, ulama (asy-Syahid) Abdullah Azzam dalam kitabnya Tarbiyah Jihadiyah menjelaskan bahwa hikmah karunia dua telinga dan satu mulut yang dimiliki manusia adalah agar manusia lebih banyak mendengar daripada bicara.

Esensi dari penjelasan itu adalah agar manusia, terutama para pemimpin dan tokoh masyarakat, tidak terlalu mengobral kata-kata. Dengan kata lain, agar manusia mampu mengendalikan lidahnya, di samping berupaya memfungsikan telinga untuk mau dan bersabar mendengarkan berbagai hal dari orang lain. Wallahu a’lam.