ENCIKEFFENDYNEWS.com

 Makna tahun baru islam bagi umat islam pasti memiliki kesan mendalam tersendiri. Tahun baru Islam dirayakan pada 1 Muharram tahun Hijriyah. Tahun baru Islam 1444 Hijriyah kali ini akan jatuh pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Berbeda dengan merayakan tahun baru masehi, umat muslim mempunyai cara sendiri dalam memaknai dan menyongsong tahun baru Islam.

Dengan banyak berdoa dan beristighfar kepada Allah swt, seraya bermunajat dengan harapan menjadi Muslim the best dalam kehidupan ini. Semoga !  aamiin. *EA

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sesungguhnya jabatan itu amanah. Sesungguhnya pada hari kiamat ia menyebabkan kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang dapat mengembangkan dengan baik dan menunaikan tugas amanahnya itu (HR Muslim).

              Sahabat Nabi Abu Dzar Al Ghifary, bertanya kepada Nabi, mengapa ia tidak diangkat beliau untuk sesuatu jabatan. Jawaban Nabi adalah hadist yang di atas, seperti yang dikutib Syekh Ahman al Basyuni dalam kitab syarah hadisnya, Qabasaat min al Sunnah al Nabawiyyah (Cuplikan Sunnah Nabi Muhammad Saw).

              Makna yang terkandung dalam hadist Nabi tersebut akan membentuk persepsi seseorang mengenai jabatan. Jabatan adalah suatu kemuliaan, sebab jabatan adalah amanah atau kepercayaan. Apabila seseorang diberi jabatan pada hakikatnya ia dipercaya dank arena itu ia dimuliakan. Tapi, amanah juga adalah tanggungjawab untuk melaksanakan dengan baik seluruh tugas yang ada dalam kewenangan jabatan tersebut. Bila hal itu tidak dipenuhi dengan baik, apalagi bila disalahgunakan, maka dihari kemudian ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan.

              Sebenarnya cukup bukti menunjukkan, mereka yang pernah  menyalahgunakan jabatan, sudah merasakan kesedihan dan penyesalan itu di dunia. Mungkin kesedihan dan penyesalan akibat ia dihukum karena terjerat oleh hukum manusia. Mungkin  kesedihan dan penyesalan yang dipendamnya sendiri akibat “hukuman” hati nuraninya.

              Tapi sayang, kebanyakan manusia dewasa ini, tidak berpikir panjang berkenaan dengan jabatan. Yang terbayang dibalik jabatan hanyalah kemuliaan dan segala fasilitas yang bisa dinikmati karenanya. Fasilitas tersebut ada yang memang menurut aturan bisa diperolehnya karena jabatan itu. Ada pula “fasilitas” yang diperolehnya dengan pemanfaatan yang salah, misalnya dengan cara kolusi atau korupsi.

              Banyak orang tergiur akan jabatan. Banyak kenyataan menunjukkan bahwa tak lama setelah seseorang memegang suatu jabatan, kehidupan materialnya segera meningkat. Itulah sebabnya jabatan menjadi sesuatu yang diperebutkan.

              Di suatu negara yang ketegasannya dalam menindak penyalahgunaan jabatan rendah, akan tercipta budaya memperkaya diri melalui jabatan. Semakin menjadi-jadilah perlombaan dalam memperebutkan jabatan. Yang aneh adalah bila gejala seperti itu ditunjukkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya beriman. Hadist Nabi di atas mengingatkan bahwa jabatan akan menjadi kehinaan  dan penyesalan abadi apabila tidak dilaksanakan dengan baik dan jujur.

              Makna hadist Nabi itu memang hanya bisa dihayati dan dipedulikan oleh orang yang beriman. Hadist tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu “alat ukur” keimanan pada diri sendiri. Adakah seseorang beriman jika pada saat yang sama berebut jabatan dengan pamrih keuntungan?

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Di dunia ini sebenarnya tidak pernah sepi dari perjuangan. Yaitu gerakan kaum idealis untuk menentang kezaliman dan menuntut terlaksananya keadilan serta kebebasan melaksanakan ajaran agama. Dalam hal ini, bangsa kita mengenal pepatah, gugur satu tumbuh seribu. Para pejuang itu bisa jadi para pemimpin negara dan para petingginya. Bisa juga warga biasa yang berasal dari rakyat. Mereka bisa muncul kapan saja dan dari lapisan mana pun juga. Tidak sedikit mereka adalah para alim ulama, kadang juga kaum cendekiawan dan lebih banyak lagi dari kalangan awam.

              Inti perjuangan bukan kalah atau menang. Dalam perjuangan agama, sebuah keberhasilan perjuangan tidak diukur dari kemenangan yang diraih, juga tidak kekuasaan yang didapat. Sebab jika demikian, maka tidak ada Nabi yang diusir oleh kaumnya atau nabi yang dibunuh. Al-qur’an mengisahkan berapa banyak nabi dan ulama Bani Israil yang dibunuh oleh kaumnya.

              Dalam Islam, asal seseorang sudah bertekad untuk berjuang dan melaksanakan tekadnya dengan sungguh-sungguh, andai gugur atau mati syahid, itu juga termasuk kemenangan. Allah Swt menegaskan.” Jangan kamu katakana terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadari. (QS Al-Baqarah: 154). Secara fisik mungkin kalah atau bahkan hancur, tetapi cita-cita kebenaran dan suara keadilan yang mereka serukan tetap hidup, memberi inspirasi pada  generasi di belakangnya.

              Patut kita bersyukur ditakdirkan sebagai bangsa pejuang. Diterimanya Islam dan kini berada di tengah-tengah rakyat adalah hasil perjuangan. Kemerdekaan dan membangun di alam merdeka adalah juga hasil perjuangan. Perjuangan mereka para pendahulu adalah suatu asset yang sangat berharga bagi kita. Dan dari mereka kita belajar, lalu membenahi yang masih kurang dan meneruskan yang belum sempurna.

              Kita harus bersedih jika bangsa ini tidak lagi mewarisi darah sebagai pejuang yang berani, adil, dan jujur. Kita sedih jika bangsa ini berubah menjadi egois, serakah, bakhil, dan pendendam. Dalam hal ini kita patut menghargai dua golongan yang berperan memimpin perjuangan bangsa seperti  dinyatakan Hadist Nabi Saw: “Ada dua golongan yang mempunyai peranan menentukan dalam masyarakat. Dan kalau kedua golongan itu rusak, maka hancurlah masyarakat. Kedua golongan itu ialah ulama dan umara (penguasa).” Masing-masing golongan itu kita harapkan menjalankan fungsinya sesuai kedudukannya sehingga bangsa ini terjaga kesejahteraannya.

              Umara (penguasa) harus risau makin langkanya ulama yang memiliki kesatuan sikap, antara ilmu dan amalnya, antara perkataan dan perbutannya. Nabi Saw berkata: “ Apabila tiada lagi ulama yang tinggal, maka manusia akan menjadi pemimpin-pemimpin yang jahil. Ketika ditanya, mereka menjawab tanpa ilmu, tanpa hujjah. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain. Ulama juga harus risau jika umara yang adil dan jujur dalam melaksanakan tugasnya mensejahterakan rakyat makin sulit dicari.