ENCIKEFFENDYNEWS.com

Apa yang terjadi bila sebuah negara dihuni oleh orang-orang egois yang mementingkan diri sendiri? Di Indonesia, sekelompok kecil orang egois telah menyebabkan Rp 1,3 trilliun uang negara amblas dalam kasus Eddy Tansil. Dan ketika menyaksikan peristiwa ini, seorang ulul albab tentu tidak akan hanya berkata, “Que serra-serra, apa yang telah terjadi, ya sudahlah tak usah dipikir.” Bagi hamba yang berakal akan merenung pasti mengandung hikmah. Bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu sia-sia (QS 3: 190-191).

              Apa hikmah dibalik kasus Eddy Tansil? Banyak. Salah satunya ialah bahwa kita perlu mengembangkan budaya malu bersikap egois, malu mementingkan diri sendiri.

              Bagaimana caranya? Kita dapat belajar dari sekelompok anak kecil Jepang yang sempat mengejutkan Dr. Asif F. Hadipranata (pakar psikologi konsumen dari Fakultas Psikologi UGM) sewaktu menjadi konselor di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT).

              Pada saat itu diadakan lomba yang meliputi kebersihan, kejujuran, kerja sama, dan kepemimpinan antar sekolah. Sekelompok demi sekelompok siswa Taman Kanak-kanak peserta lomba tersebut dimasukkan secara bergiliran ke dalam suatu ruangan. Ruangan itu berisi berbagai alat permainan yang jumlahnya terbatas dan sejumlah kursi bagi penunggu giliran yang tidak kebagian mainan.

              Lantai ruangan sengaja dikotori dengan sobekan-sobekan kertas dan kotoran-kotoran lain. Disamping itu disediakan juga sebuah kulkas kecil berisi  makanan dan minuman dengan harga yang telah dicantumkan di atasnya, serta uang receh bagi yang memerlukan kembalian.

              Ketika anak-anak SRIT dimasukkan, mereka langsung berebut mainan tanpa mempedulikan kebersihan ruangan tersebut. Mereka bertengkar, bahkan ada yang sampai mengangis. Saat mengambil makanan dan minuman, mereka juga berebut dan tidak membayar uang seperti harga yang tertera.

              Sedangkan anak-anak Jepang, begitu masuk ruangan, secara spontan mereka membersihkan ruangan tersebut bersama-sama. Setelah itu secara tertib mereka mendekati mainan-mainan yang ada, yang tidak kebagian duduk antri dikursi. Ketika mereka haus atau lapar secara tertib mereka mendekati lemari pendingin satu demi satu melayani kebutuhan sendiri dan membayarkan uang sesuai harga. Tentu saja pemenang lomba tersebut adalah anak-anak Jepang ini.

              Alasan mereka bersikap jujur ialah, “Kalau kami tak membayar makanan yang kami ambil, maka paman penjual akan rugi (mereka bisa menyebut paman kepada para pedagang), dan kalau paman penjual rugi maka mereka tidak akan bisa berdagang lagi, kami harus beli dari siapa coba?”.

              Demikianlah rasa malu bersikap egois dapat ditumbuhkan dalam diri setiap orang sejak dini, sejak masa kanak-kanak. Dengan menanamkan kesadaran bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri. Bahwa apa pun yang dilakukan oleh seseorang, baik atau buruk akan membawa dampak kepada diri sendiri dan orang lain.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

 “Barang siapa mengejar kemegahan dunia dan kemasyhurannya, Kami beri ganjaran atas perbuatannya dan mereka tidak dirugikan di dalamnya. Tetapi di akhirat, bagian mereka tinggalah api neraka. Tidak berguna hasil pekerjaannya di dunia. Dan sia-sialah amalnya.” (QS Huud: 15-16)

              Perjalanan ibadah haji dikatakan juga perjalanan untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim atas perintah Allah (QS Al Hajj: 27). Panggilan itu diteruskan oleh Nabi kita Muhammad Saw, “Wahai manusia, Allah telah mewajibkanmu untuk melaksanakan ibadah haji. Kalian harus melaksanakannya,” (HR Muslim). Mengingat beratnya ibadah ini dan terbatasnya medan  haji, kewajiban itu dibatasi hanya satu kali dalam seumur hidup. Apabila seseorang melakukannya lebih dari satu kali, maka sifat ibadah itu menduduki hukum sunat.

              Seseorang yang bersiap pergi haji, disamping menghindari ketergantungan keuangan kepada orang lain (kesiapan material), seyogyanya juga telah mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah haji dan memahami persoalan-persoalan penting secara mendalam (kesiapan spiritual).  Ia harus menetapkan dalam hatinya bahwa tujuan ibadah ini semata-mata memperoleh  kebahagiaan ilahiyah serta anugerah yang akan diraihnya di Hari Kemudian. Tidak pada tempatnya seorang haji memiliki motif-motif lain, misalnya mencari kemasyhuran, bangga diri, dan menempatkan dirinya pada jalan yang buruk. Allah telah berfirman dalam QS Huud: 15-16, “Bahwa orang yang hanya mengharapkan dunia dan perhiasannya dari hajinya maka Allah hanya akan memberi kekayaan dunia. Dan mereka tak akan mendapatkan apa-apa di akhirat.”

              Kita harus menempatkan perjalanan  haji sebagai panggilan ketakwaan yang diharapkan setelah pulang haji menjadi semakin takwa dalam cara hidupnya. Dan cara hidup itu, kita pahami sekarang ini adalah kebudayaan.

              Pembudayaan takwa itu menjadi relevan kita angkat untuk mendorong terciptanya situasi kemasyarakatan kita yang lebih bermoral. Membudayakan berarti dimulai dari kesadaran dan pemahaman kita masing-masing. Budaya takwa tidak dapat dipaksakan terhadap siapapun, melainkan hanya dapat dimasyarakatkan agar hidup dan tumbuh subur dalam masyarakat, menjadi pandangan yang dihayati dalam sikap dan perilaku. Intinya adalah bersikap dan berakhlak mulia.

              Ketakwaan sebagai ajaran dan cita-cita perlu kita kembangkan secara konsisten, dan para hujjaj (orang  yang berhaji) sebagai lapisan masyarakat yang relative tergolong lebih mampu dari yang lain tentunya diharapkan tampil sebagai pelopornya. Yaitu mempelopori tradisi-tradisi mulia ditengah-tengah masyarakatnya.

              Format pergerakannya telah diajarkan oleh Al-Qur’an yaitu, “ta’awanu ‘alal birri wat-taqwa” (QS Al-Maidah: 2) mendorong terciptanya iklim kerja sama di atas dasar kebaikan dan takwa, sehingga kehidupan social, budaya, dan ekonomi berjalan dengan lebih baik, penuh dengan nuansa kejujuran, keadilan, dan penghargaan terhadap ilmu.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ketika kiamat terjadi, seseorang yang mengangkat makanan ke mulutnya, tidak sempat lagi memakannya.

(ungkap Rasul saw).

              Sudah banyak para jemaah calon haji di Tanah Suci meninggal dunia sebelum melaksanakan wukuf di Padang Arafah, Subhanallah. Mereka terbujur susul menyusul, betapa indah mulianya orang-orang tua yang berjalan saja sudah tidak tegak lagi, dengan ikhlas melaksanakan ibadah haji untuk memenuhi panggilan Tuhan. Sungguh jauh dan jauh, perjalanan perlu ditempuh, mencari ridha Allah. Dengan pesawat terbang belum cukup, masih disambung dengan bus. Itu pun belum cukup. Masih disambung dengan berjalan kaki yang jaraknya bisa satu atau dua kilometer dari penginapan ke Masjidil Haram yang perlu pulang balik paling tidak tiga kali sehari, subuh, dhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya. Kalian telah berusaha keras untuk bertemu Allah  dan kamu semua akan bertemu dengan-Nya. Begitu janji Tuhan dan Tuhan tak pernah ingkar janji.

              Jika boleh diibaratkan dengan perempuan, ibadah haji begitu elok bagai paras perempuan yang ayu lahir batin. Dan para jemaah calon haji yang merasa selangit dosanya (bukankah ini mengunggul-unggulkan diri sendiri yang menganggap orang lain bersih dan suci?) terpikat erat dengan kesempurnaan wajah itu, ritual rukun-rukun haji yang berat dan bermacam-macam itu, sehingga lupa akan dosa-dosanya. Apa boleh buat, orang-orang pun berbondong-bondong kembali ke Tanah Suci karena kangen Masjidil Haram dengan Ka’bahnya, Masjid Nabawi yang menyimpan jasad Nabi, Padang Arafah, kurma, delima (Masya Allah, delima Mekah begitu digigit, nyus, seger tentulah buah ini dari surga)  dan Al-qur’an.

              Hadist riwayat Bukhari di atas mengingatkan kita bahwa sewaktu-waktu kita diambil Allah tanpa kita sadari. Untuk hal itu, kita wajib berkemas-kemas supaya ketika hari itu tiba,kita sudah siap, diantaranya kita telah berangkat menunaikan ibadah haji. Hari-hari ibadah haji adalah hari-hari yang indah. Kita lupa segalanya karena kita menyatu dengan keindahan itu yang tinggal hanyalah cinta dan pasrah kepada Allah Yang Maha Suci yang merangkum kesegenap kehidupan makhluk-Nya.

              Satu juta jemaah yang melaksanakan ibadah haji tahun ini (setelah 2 tahun kita) tak berangkat haji gara-gara pandemi corona. Tak ketinggalan jemaah dari Amerika, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Cina dan masih banyak lagi. Berjubel sampai disudut-sudut sempit tembok Masjidil Haram yang mampu menampung satu juta jemaah. Alangkah nikmatnya bersujud sedalam-dalamnya seolah kening ini tak mau lepas dari karpet Masjidil Haram. Subhanallah !