ENCIKEFFENDYNEWS.com

Amirul Mukminin Umar bin Khattab sedang berpidato tentang jihad. Tiba-tiba Salman Al Farisi menginterupsi, ‘Jangan didengar, jangan ditaati”.
Umar mencoba bersabar dan bertanya, ”Mengapa?”
”Karena engkau berbuat curang dan mencuri kain Yaman yang dibagikan kemarin masing-masing selembar per orang. Bagaimana engkau bisa menjahitnya menjadi baju dan sekarang memakainya.”

Umar kembali bersabar, dan bertanya kepada hadirin, ”Mana Abdullah?” Tak ada yang menyahut, termasuk putranya, Abdullah bin Umar, karena mungkin menyangka maksudnya adalah hamba Allah (abdullah). Untuk ketiga kalinya Umar bersabar dan bertanya lebih konkret, ”Mana Abdullah bin Umar?” Setelah anaknya menyahut, Umar memerintahkan menjelaskan asal muasal bajunya.

Penjelasannya memuaskan Salman dan hadirin. Mereka pun kembali bersedia mendengarkan dan menaati. Bayangkan, Umar tetap bersikap lapang dada, sabar dan ramah tamah, meski kritik itu salah. Inilah salah satu penyebab keberhasilan pemerintahannya. Beliau sukses memakmurkan masyarakat, menghindarkan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan kelaparan. Bahkan, menjauhkan mereka dari berbagai bencana, baik di dunia apalagi di akhirat. Umar pun jujur, adil, dan tidak pernah menyelewengkan aset rakyat dan negara yang diamanahkan padanya. Distribusi bantuan negara sangat cepat, yang ditunjang oleh kontrol dan administrasi negara yang rapi.

Namun, bila setiap ada kritik, tudingan dan nasihat, Umar selalu mendahulukan kekuasaan dan kekuatan, sekalipun dia benar, maka takkan muncul ridla rakyat. Mereka jadi takut menyampaikan kebenaran, sehingga bisa saja timbul kekeliruan pemimpin karena mereka bukan nabi dan rasul. Padahal, ridla Allah turun bila ada ridla rakyat.

Tentu saja bila kritik dan nasihat itu benar, terlepas dari cara dan tutur kata penyampaian, Umar akan lebih melapangkan dadanya dan langsung menerima tanpa merasa dipermalukan. Misalnya, beliau pernah mencoba membatasi jumlah mahar perempuan sebesar 400 dirham, yang langsung diprotes kaum Muslimah. Umar seketika membatalkan keputusannya.

Umar tidak pernah merasa nasihat orang akan merendahkan derajatnya. Ketakwaan yang menentukannya, bukan harta, kekuasaan, atau kekuatan. Jika kritik itu benar, maka selamatlah yang dikritik dari dosa dan neraka, bila diterimanya dengan baik. Bila kritik itu salah, maka selamat pula yang dikritik karena dosanya berkurang, bertambah pahalanya, juga ridla rakyat dan wibawanya jika dia seorang pemimpin.

Firman Allah, ”Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, juga tidak dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang memiliki keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat 41:34-35).

CERMIN DIRI ENCIKEFFENDYNEWS.com   Dalam ajaran kerohanian Islam, hati diibaratkan cermin. Sebagai cermin, hati adalah alat untuk mengenali diri sendiri. Seperti halnya cermin, hati ada dua macam: ada yang bersih dan terang serta ada pula yang kotor dan gelap. Menurut Imam Ghazali, kualitas hati, bersih atau kotor, terang atau gelap, sangat bergantung dan ditentukan oleh perilaku manusia itu sendiri.

Dikatakan, jika ia cinta agama dan suka berbuat kebajikan, maka hatinya bersih dan terang. Semakin ia suka berbuat kebaikan, hatinya semakin terang dan bertambah terang, bahkan berkilau-kilau (yatala’la’). Dalam keadaan demikian, hati dapat menangkap dengan baik sinyal-sinyal ketuhanan (Tajalliyyat al-Ilahiyyah) dan dapat mencapai ma’rifah dengan sempurna.

Sebaliknya, bila ia suka berbuat dosa dan keburukan, maka hatinya buram dan gelap. Dosa-dosa itu ibarat kepulan asap yang menghitam dan menutupi hati. Setiap kali orang berbuat dosa, maka timbul noktah hitam di hatinya. Semakin sering ia berbuat dosa, maka semakin banyak pula noktah hitam sampai akhirnya menutupi seluruh hatinya. Dalam keadaan demikian hati menjadi hitam pekat dan gelap.

Inilah kegelapan hati lantaran dosa-dosa yang dalam Alquran dinamakan rin. Firman Allah SWT, ”Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14). Apa yang dimaksud dengan rin dalam ayat di atas tak lain adalah dosa-dosa. Jadi, rin adalah dosa-dosa yang dilakukan secara terus-menerus sehingga membuat hati menjadi gelap dan mati.

Menurut pakar tafsir al-Razi, penutup hati ada tiga tingkatan. Pertama, rin, yaitu dosa-dosa seperti disebutkan di atas. Kedua, thab-‘i, yaitu watak yang terjadi karena rin. Jelasnya, kalau dosa-dosa terus dilakukan, maka hal itu menjadi kebiasaan dan akan berkembang menjadi watak. Dan inilah yang dinamakan thab-‘i. Ketiga, iqfal, yaitu hati menjadi terkunci mati. Ini berarti, thab-‘i lebih berat dari rin, dan iqfal lebih berat lagi dari thab-‘i.

Pada tingkat yang terakhir ini, hati tidak saja gelap, tetapi benar-benar tertutup rapat. Dalam keadaan demikian, hati tidak dapat menerima kebenaran dan petunjuk Allah. Bahkan, ia benci dan alergi dengan agama dan nasihat. Inilah makna firman Allah, ”Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (Al-Baqarah: 6).

Sebagai cermin diri, hati perlu dibersihkan dari dosa-dosa dengan tobat. Tobat membuat hati menjadi bersih dan terang kembali, meskipun tidak seterang hati orang yang selalu menjaga diri dari dosa-dosa dan maksiat. Selanjutnya, hati perlu banyak berdzikir dan mengingat Allah. Bagi kaum sufi, dzikir adalah pintu ma’rifah, sedangkan ma’rifah adalah pintu kebahagiaan. Semoga kita masih punya waktu untuk becermin dan membersihkan cermin kita, sehingga kita bisa mengenali dengan baik kerut-kerut dan borok-borok yang ada di ”wajah” kita. Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sufi berasal dari berbagai kata sehingga maknanya pun beragam. Ada yang mengatakan bahwa kata itu berasal dari shuf (bulu dombal/wol). Ada juga yang mengatakan bahwa kaum sufi berhubungan dengan serambi (as-shffah). Kelompok lain mengatakan itu diambil dari kata ash-shafa’ yang mempunyai arti kejernihan atau ketulusan.Sebagian ulama berpendapat bahwa kata sufi berasal dari madli dan mudlari’ صفا يصفو yang mempunyai arti jernih, bersih.

Hal ini menaruh penekanan pada pemurnian hati dan jiwa. Dapat diambil kesimpulan dari dua pengertian di atas bahwa seorang sufi atau sufisme yaitu orang yang hidup sederhana, menjauhi urusan dunia (zuhud) dan memurnikan hati hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tafsir sufi adalah penafsiran Alquran yang berlainan dengan zahirnya ayat karena adanya petunjuk-petunjuk yang tersirat.

Dan hal itu dilakukan oleh orang-orang Sufi, orang yang berbudi luhur dan terlatih jiwanya (Mujahadah), diberi sinar oleh Allah SWT sehingga dapat menjangkau rahasia-rahasia Alquran. Mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan pembahasan dan pemikiran mereka yang berhubungan dengan kesufian yang justru kadang-kadang berlawanan dengan “Syari’at Islam” dan kadang-kadang pemikiran mereka tertuju pada hal yang bukan-bukan tentang Islam.

Timbulnya tasawuf dalam Islam salah satunya dikarenakan adanya segolongan umat Islam yang belum merasa puas dengan pendekatan diri kepada Tuhan melalui ibadat, puasa dan haji. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Tuhan dengan cara hidup menuju Allah dan membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi, sehingga tidak diperbudak harta atau tahta, atau kesenangan dunia lainnya.

Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Al-Dzahabi membenarkan bahwa praktik tasawuf semacam di atas telah dikenal sejak masa awal Islam, banyak di antara sahabat yang melakukan praktik tasawuf yaitu hidup dalam zuhud dan ibadah dan yang lainnya, tetapi masa itu tidak dikenal istilah tasawuf.

Selain itu pada generasi berikutnya sekitar abad ke-2 H, secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan dunia menjadi lebih berat. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhan lebih dikenal dengan kaum sufiyah. Pada masa ini pulalah istilah tasawuf mulai dikenal. Dan orang yang dianggap pertama kali menggunakan istilah sufi adalah Hasyim al-Sufi yang wafat tahun 150 H.