ENCIKEFFENDYNEWS.com

Lima tahun yang lalu, seorang sahabat pernah bilang, bahwa baginya, sahabat adalah keluarga kedua baginya, yang bernilai agung, dan takkan pernah terlepas selamanya (semoga…) Sungguh, tiada yang lebih indah dari sebuah persahabatan, yang karenanya maka terbukalah beribu cakrawala baru yang mampu mengubah segalanya dalam kehidupan seseorang.

Apalagi saat kedua belah pihak saling menyesuaikan diri dan saling menerima apa adanya. Subhanallah…Tapi, saat realitas sang sahabat tak sesuai dengan bayangan idealnya, maka hal itu bisa menorehkan kekecewaan yang teramat dalam, yang bisa mengakibatkan dirinya tak percaya lagi pada arti “SAHABAT”.

Hal itu bisa saja terjadi, karena kurangnya pemahaman seseorang terhadap konsep Ukhuwah Fillah, sebuah ikatan persahabatan, ikatan persaudaraan yang berlandaskan keridhaan Allah SWT.


Namun, kemudian timbul asa baru. Keyakinan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Kekurangan yang ada pada diri seseorang mungkin justru adalah kelebihan yang ada pada diri kita. Begitu pula sebaliknya. Dan jika itu berupa kebaikan, semoga menjadi spirit bagi kita untuk memacu diri agar kita bisa lebih baik lagi dari orang lain. Wallahu’alam.  (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com  

Indonesia, negeri yang indah dan merupakan untaian kattulistiwa yang sumber daya alamnya luar biasa, memberikan nilai tersendiri dan menggoda setiap insan wisatawan yang berkunjung ke sini. Oleh sebab itu warga di sini tidak senang bepergian, apalagi ke luar negeri memang negerinya memberikan nilai kepuasan tersendiri bagi warganya. Mereka sebenarnya mampu untuk keluar negeri, tapi tidak mau, mereka sudah dimanjakan dengan alam dan nuansa negerinya.

Ini pemandangan sunrise salah satu pantai di kota Batam, sungguh indah dengan cuacanya yang begitu menawan luar biasa menjadikan kita untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan.”hasbiyallahu lailaha illa huw, alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul arsyil adzim”.

Beautiful negeriku, keindahan ini memberikan nilai tersendiri dan melahirkan rasa syukur yang mendalam kepada-Nya. “alhamdulillahi rabbil alaimin – ala kulli hal” dan dengan menyaksikan keindahan ciptaan-Nya, memberikan refresing mental dalam memenej kehidupan kita untuk lebih banyak menebarkan kebaikan sebagai manifestasi imany kita kepada-Nya. (amalus-shalihat).

Bersyukurlah, karena dengan bersyukur, banyak melahirkan ketenangan jiwa dan kesehatan mental yang berimbas kepada kehidupan kita itu sendiri. Bersyukurlah dengan suasana dan kondisi bagaimanapun jua, insya Allah.  (EA)*

    ENCIKEFFENDYNEWS.com

Pernahkah suatu kali kita menemui bahwa ternyata secara tak sengaja telah tersakiti hati orang-orang lain di sekitar kita. Kita melangkah memulai hari tanpa mengerti bahwa kemarin, dua hari lalu, atau hari-hari sebelumnya lagi, entah berapa banyak orang yang tak berkenan dengan apa yang telah kita lakukan. Walau tanpa sadar, walau tak bermaksud demikian, namun hati yang terlanjur tersakiti, sulit tuk dipulihkan lagi.

Seorang sahabat pada jaman Rasulullah SAW pernah dijamin masuk surga sebab ia memiliki kebiasaan selalu memaafkan dan melapangkan hati bagi setiap orang yang mungkin telah menyakiti hatinya hari itu. Namun kita tak pernah bisa memastikan, apakah memang kesalahan-kesalahan kita -yang tak disadari itu- telah dimaafkan oleh orang-orang yang telah sedih, kecewa, kesal, dan marah pada kita. Kita tak pernah bisa memastikan, sampai kita harus memohon pada mereka untuk memberi maaf. Hingga tak lagi kesalahan-kesalahan itu memberatkan diri kita di akhirat kelak. Walau kita pikir itu kecil, walau sepertinya itu tak berarti banyak buat diri kita.

Kesalahan yang tak disengaja, terkadang membuat kita sendiri heran. Kapan ya saya melakukan hal itu? Benar tidak ya, saya telah bersikap kasar padanya? Ah, saya kan tidak bermaksud begitu. I didn’t mean to. Dan sekian banyak pemaafan yang kita ukir untuk diri kita sendiri, tanpa peduli apakah orang tersebut masih merasakan sakitnya hingga kini.

Tak usahlah lagi alasan itu dicari. Mari mulai memperbaiki, mulai saat ini. Sebab kita tak pernah tahu kapan diri kita pernah menyakiti.
(EA)*