ENCIKEFFENDYNEWS.com        –         Hari Ahad/16/01, jalan-jalan sambil melihat dinamika persiapan Kota Batam dalam menyongsong menjadikan Batam distinasi wisata perlu lagi berbenah diri. Dari beberapa kunjungan memang masih ada tempat wisata yang belum diurus secara professional. Rumah Limas di Kampung Melayu Batu Besar kini kurang terawat, hallo Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Batam, bagaimana kinerja dan entitas objek-objek wisata yang belum terawat dan perlu mendapat stimulus agar tempat-tempat ini kembali difungsikan sebagaimana yang diharapkan.

Banyak tempat di Batam ini yang bisa dijadikan objek wisata yang menarik, tapi belum dikelola secara optimal, pengelolaan masih sambilan dan belum dikelola secara baik dan serius. Mudah-mudahan tempat objek wisata ini diharapkan dapat menarik dan dikelola secara baik. Semoga ! (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com       –       Jalan-jalan atau menjadi touris sangat menyenangkan, lebih-lebih melihat sesuatu yang baru atau daerah baru tentu sangat menyenangkan, bukan hanya sebagai spiritisme tapi juga dapat memberikan nuansa tersendiri di hati kita.

Kali ini berkunjung ke gurun yang berada di Kabupaten Bintan, sungguh menarik di samping gurunnya juga ada binatang gurun pasir yakni unta.

Jadi gurun tidak hanya ada di Arab, tapi di Kepri-pun ada yakni di kabupaten Bintan, ini adalah bekas galian pasir yang belum tuntas karena dilarang oleh pemerintah hingga seperti ini jadinya.

Bekas galian itu ada yang membentuk telaga atau danau dan airnya biru kalau diterpa matahari, sungguh menarik dan ini sebuah phenomena alam yang luar biasa. Selamat jalan-jalan alias menjadi touris untuk menambah cakrawala  dan menghilangkan kejenuhan kita. Semoga !  (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com
Ada teman yang pernah bertanya, “apa sih yang membuat kamu senang membantu orang lain?”

Saya berikan dia dua jawaban, pertama, karena Allah senang dengan orang-orang yang suka membantu saudaranya. Allah akan memberikan kemudahan bagi orang yang memudahkan orang lain. Kedua, saya berjanji kepada seseorang untuk terus berbuat baik membantu orang lain.

“Seseorang …?” teman saya makin bingung.

Baiklah, saya akan perjelas. Beberapa tahun lalu saya pernah berada dalam kesulitan keuangan. Kuliah saya terancam berantakan karena saya tak mampu mengumpulkan uang kuliah dari sisa-sisa gaji saya yang memang kecil. Saya nyaris putus asa dan berpikir akan mengakhiri kuliah saya dan berhenti di tingkat dua saja. Biarlah tinggal mimpi, pikir saya.

Disaat kebingungan dan putus asa melanda itulah, ada seorang sahabat yang datang menanyakan kabar saya dan juga studi saya. Karena kami biasa berterus terang tentang segala hal, saya katakan kondisi saya baik-baik saja. Tapi kuliah saya yang terancam gagal. Mendengar pengakuan saya, sahabat tersebut kemudian menawarkan bantuan sejumlah uang untuk membayar uang kuliah saya yang tertunggak.

Tanpa basa-basi, saya langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir terlebih dulu bagaimana nanti menggantinya.

Di akhir semester empat, saya sempat bertanya kepadanya perihal bantuan yang diberikan kepada saya. Ada yang membuat saya heran dengan jawabannya, “Saya hanya berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain”

Kemudian ia memperjelas, Ia pernah mendapati ibunya yang sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Namun tak sepeser pun uang yang ia dan anggota keluarga lainnya miliki saat itu. demi kesembuhan ibunya, ia nekat menghubungi satu persatu orang yang dikenalnya yang mungkin bisa membantu biaya pengobatan. Hingga akhirnya, ada seorang sahabat lamanya yang dengan cuma-cuma membiayai seluruh biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan sang ibu.

Terheran sahabat itu bertanya, “Kenapa kamu mau membantu saya?”

Jawabnya, “Karena saya telah berjanji kepada seseorang untuk senantiasa berbuat baik membantu orang lain”

Menurut cerita sahabat saya, sahabat lamanya itu pernah pula mendapati kesulitan dalam hidupnya. Ia hampir tak tahu kemana lagi meminta bantuan hingga ia bertemu dengan seseorang yang tak dikenal sebelumnya. Setelah berterus terang, orang tak dikenal itu pun memberikan apa yang dibutuhkan sahabat lama itu. kepada orang itu ia bertanya, “Anda sebelumnya tidak mengenal saya, kenapa Anda mau membantu saya?”

Anda sudah bisa menduga jawabnya bukan? Tapi ada pertanyaan kedua dari sahabat lama sahabat saya itu, “Bagaimana saya mengganti kebaikan Anda ini?”

Orang tak dikenal itu menjawab, “Berjanjilah untuk melakukan banyak hal untuk membantu kesulitan orang lain. Itu lebih baik nilainya daripada mengganti apa yang telah saya berikan”

Begitulah seterusnya hingga saya tak pernah tahu siapa yang pertama kali menyulam jaringan amal kebaikan ini. Sungguh, saya tak pernah tahu. Hanya saja yang pasti akan saya lakukan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain, saya akan berkata, “Berjanjilah untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap orang lain yang membutuhkan”.