ENCIKEFFENDYNEWS.com     –      Musyawarah Daerah IV Majelis Ulama Indonesia (Musda IV MUI) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2021 berlangsung di hotel Golden View Bengkong – Batam /Jumat/17/09/ bertepatan /10/02/43 Hijriyah,  dibuka oleh Gubkepri pukul 19.30 di hadiri oleh seluruh Ketua MUI Kab/Kota se-Kepri plus undangan. Musda ini bertujuan menyusun program kerja dan memilih Ketua Umum dan Pengurus MUI Provinsi Kepri masa Khidmah 2021 – 2026 / 1443 – 1448 H.

Thema Musda kali ini “ MUI KEPRI BERKHIDMAT TANPA HENTI”

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dilanjutkan pembacaan Doa Ketua Umum MUI Kota Batam, laporan Panitia oleh Prof.Dr.Ir. H. Chablullah Wibisono, MM, sambutan Iftitah Ketua Umum MUI Kepri K.H.Bambang Maryono, M.Pd.I tentang entitas kelembagaan MUI dilanjutkan sambutan Ketua DPP MUI Dr. Yusnar, MS yang merupakan Ketua yang membidangi bagian Sumatera tentang perjuangan MUI dan harapan kepada Pemerintah Daerah untuk selalu bersinergi dalam mewujudkan bersama kesejahtraan  dan MUI adalah as-syaqiq pemerintah untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dilanjutkan sambutan Gupkepri mengatakan peran besar MUI dalam membangun dan mengawal masyarakat khususnya masyarakat Muslim di provinsi ini. Dan beberapa pandangan visi – misi provinsi Kepri serta harapan terhadap MUI di masa mendatang.

Suasana peserta pada saat pembukaan Musda IV MUI Provinsi Kepri di Hotel Golden View Bengkong Batam. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com     –      Doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Doa juga merupakan sebuah ikhtiar kita sebagai wujud munajat/permintaan seorang abid kepada Khaliq dalam menghadapi berbagai dilematik kehidupan ini. Sebagai senjata pemungkas orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah swt.

Orang-orang cerdas kata Rasul saw selalu berdoa memohon kepada Allah, agar akhir dari kehidupannya menjadi “husnul khatimah” dan kita berharap /ar-raja’ kepada Allah “ happy dunia and happy akhirat” dalam bahasa Nabi “ sa’idun fiddunya wa sa’idun fil akhirah” atau bahasa Al-Qur’an “ rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar “.

Begitu dahsyat doa ini, kecepatan doa ini melebihi kecepatan cahaya, kita bermunajat di bumi tapi begitu lantang terdengar di langit, karena berdoa tentu dibarengi dengan usaha dan ikhtiar serta tawakkal yang mendalam kepada Allah swt serta dilandasi keikhlasan yang mendalam kepada-Nya. Dan Rabb-pun sangat suka kepada hambanya yang berdoa : ….”berdoalah kepada-Ku maka akan Aku kabulkan”…. Oleh sebab itu seluruh aktivitas dalam agama kita penuh dengan doa, keluar rumah berdoa, masuk dan keluar kamar kecil juga berdoa hatta hubungan suami – istri juga berdoa, semua aktivitas kita dibarengi dengan doa, itulah tanda kita beriman kepada-Nya dan melambangkan bahwa kita amat dhaif perlu pertolongan Allah rabbul alamin. Dan jadikanlah doa sebagai senjata utama kita dan doa adalah “mukh-khul ibadah” otak/induk utama ibadah, insya Allah ! (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com     –      Kutitipkan mimpiku padamu karena rasa risau yang mendalam terhadap dinamika kehidupan yang semakin hari semakin menjadikan kita menepuk dada lantaran kehidupan kita dalam bidang keagamaan semakin hari kita lihat kualitas umat semakin menurun. Melihat Pendidikan kita yang semakin hari kurikulum agamanya diotak-atik hingga dangkal dan ada upaya menghapuskan pembelajaran agama. Orang yang pandai Bahasa Arab dan mau belajar Bahasa arab dianggap awal munculnya gerakan  terorisme. Para politisi sudah tidak mengindahkan lagi etika politik dan bahkan mencampur aduk antara munkar-fakhsya- dengan makruf dan berlomba-lomba menggodoknya menjadi Gerakan politik baru dan dianggap “fastabiqul khairat”. Habis itu penatku semakin Lelah dan tak terasa aku tertidur “qailulah” di depan komputerku dan dalam tidur itu aku bermimpi ; Melihat negeri ini rukun, steakholder daerahnya rukun dengan wakilnya, anggota dewan begitu santun dan agamis tatkala menjalankan amanahnya, yudikatifnya begitu tegas akhlaknya menjalankan tugasnya/tidak ada udang di balik bakwan, masyarakatnya begitu makmur dan merdeka dalam kehidupannya, para pengusaha begitu agamisnya dalam berbisnis, anak-anak mudanya sangat gendrung mempelajari sains dan ilmu agamanya, pendidikan begitu bersahajanya, benar-benar negeri ini “madany” – baldatun thayyibatun warabbun ghafur-  gemah ripah loh jinawi- aha, benar-benar seperti untaian syurga yang menjelma di dunia.

Dan tak terasa waktu sudah menjelang dhuhur rupanya, terdengar suara azan yang begitu merdu seperti suara muazin “bilal bin rabah” yang membangunkan aku dari tidurku dan masih terngiang mimpi itu begitu dahsyat mempengaruhi imajinasiku yang melahirkan sungging senyuman rupanya itu hanya mimpi, maka aku berujar kepada generasiku “kutitipkan mimpiku padamu” untuk diwujudkan di masa yang akan datang, insya Allah. (EA)*