ENCIKEFFENDYNEWS.com  

Indonesia, negeri yang indah dan merupakan untaian kattulistiwa yang sumber daya alamnya luar biasa, memberikan nilai tersendiri dan menggoda setiap insan wisatawan yang berkunjung ke sini. Oleh sebab itu warga di sini tidak senang bepergian, apalagi ke luar negeri memang negerinya memberikan nilai kepuasan tersendiri bagi warganya. Mereka sebenarnya mampu untuk keluar negeri, tapi tidak mau, mereka sudah dimanjakan dengan alam dan nuansa negerinya.

Ini pemandangan sunrise salah satu pantai di kota Batam, sungguh indah dengan cuacanya yang begitu menawan luar biasa menjadikan kita untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan.”hasbiyallahu lailaha illa huw, alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul arsyil adzim”.

Beautiful negeriku, keindahan ini memberikan nilai tersendiri dan melahirkan rasa syukur yang mendalam kepada-Nya. “alhamdulillahi rabbil alaimin – ala kulli hal” dan dengan menyaksikan keindahan ciptaan-Nya, memberikan refresing mental dalam memenej kehidupan kita untuk lebih banyak menebarkan kebaikan sebagai manifestasi imany kita kepada-Nya. (amalus-shalihat).

Bersyukurlah, karena dengan bersyukur, banyak melahirkan ketenangan jiwa dan kesehatan mental yang berimbas kepada kehidupan kita itu sendiri. Bersyukurlah dengan suasana dan kondisi bagaimanapun jua, insya Allah.  (EA)*

    ENCIKEFFENDYNEWS.com

Pernahkah suatu kali kita menemui bahwa ternyata secara tak sengaja telah tersakiti hati orang-orang lain di sekitar kita. Kita melangkah memulai hari tanpa mengerti bahwa kemarin, dua hari lalu, atau hari-hari sebelumnya lagi, entah berapa banyak orang yang tak berkenan dengan apa yang telah kita lakukan. Walau tanpa sadar, walau tak bermaksud demikian, namun hati yang terlanjur tersakiti, sulit tuk dipulihkan lagi.

Seorang sahabat pada jaman Rasulullah SAW pernah dijamin masuk surga sebab ia memiliki kebiasaan selalu memaafkan dan melapangkan hati bagi setiap orang yang mungkin telah menyakiti hatinya hari itu. Namun kita tak pernah bisa memastikan, apakah memang kesalahan-kesalahan kita -yang tak disadari itu- telah dimaafkan oleh orang-orang yang telah sedih, kecewa, kesal, dan marah pada kita. Kita tak pernah bisa memastikan, sampai kita harus memohon pada mereka untuk memberi maaf. Hingga tak lagi kesalahan-kesalahan itu memberatkan diri kita di akhirat kelak. Walau kita pikir itu kecil, walau sepertinya itu tak berarti banyak buat diri kita.

Kesalahan yang tak disengaja, terkadang membuat kita sendiri heran. Kapan ya saya melakukan hal itu? Benar tidak ya, saya telah bersikap kasar padanya? Ah, saya kan tidak bermaksud begitu. I didn’t mean to. Dan sekian banyak pemaafan yang kita ukir untuk diri kita sendiri, tanpa peduli apakah orang tersebut masih merasakan sakitnya hingga kini.

Tak usahlah lagi alasan itu dicari. Mari mulai memperbaiki, mulai saat ini. Sebab kita tak pernah tahu kapan diri kita pernah menyakiti.
(EA)*

 ENCIKEFFENDYNEWS.com Hidup ini memang sebuah keajaiban dengan berbagai dinamika dan fenomenanya.Sehingga menjadikan kita tidak perlu bersedih selama-lamanya atau bergembira sesukanya.

Kejadian di atas mengingatkan saya pada sebuah kitab yang dikarang oleh Dr. Aidh Al-Qarni yang berjudul La Tahzan yang tarjimnya diterbitkan oleh Qisthi press. Pada kitab tersebut diurai berbagai ujian yang menimpa manusia dan diberikan solusi agar tidak bersedih menghadapi semua ujian tersebut. Pada salah satu bahasannya memberikan resep agar tidak bersedih yaitu :
Percaya sepenuhnya kepada Allah. Kesadaran bahwa semua yang telah Allah takdirkan akan terjadi. Sabar adalah senjata paling ampuh yang dipergunakan oleh orang yang mendapat ujian. Jika tidak sabar lalu apa yang bisa dilakukan. Dan tidak akan terbantu hanya dengan perasaan resah. Mungkin saja akan berada dalam kondisi yang lebih jelek daripada kondisi saat ini. Dari waktu ke waktu jalan keluar akan selalu terbuka. Memang dengan menerapkan resep di atas secara ruhiyah akan terlapangkan diri ini dari heterogenitas problem kehidupan. Meletakkan setiap permasalahan pada porsi jiwa yang benar adalah obat mujarab untuk membuang rasa sedih gundah gulana. Pelajaran agar perilaku hidup yang gampang larut dalam duka terkikis habis oleh sifat sabar dan selalu memandang hari ‘tomorrow will be better’.

La Tahzan, sabar dan optimisme bahwa setiap problem pasti ada jalan keluarnya, setiap penyakit ada obatnya.

Selanjutnya marilah kita renungkan kiat-kiat bahagia yang disarikan oleh seorang Doktor hadits yang hafizh ini .

Sadarilah bahwa jika kita hidup hanya dalam batasan hari ini saja, maka akan terpecahlah pikiran kita, akan kacau semua urusan, dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri kita. Inilah makna sabda Rasulullah SAW ”Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore, dan jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi”.

Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan kegilaan. Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada di alam ghaib. Jangan mudah tergoncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri kita setara dengan kritikan tersebut.

Beriman kepada Allah dan beramal shaleh adalah kehidupan yang baik dan bahagia. Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan dan kesenangan maka dia harus berdzikir kepada Allah. Persiapkan diri kita untuk menerima kemungkinan terburuk. Berfikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah.

Kita dengan semua yang ada pada diri kita sudah lebih banyak daripada yang dimiliki orang lain. Dari waktu ke waktu selalu ada jalan keluar. Dengan musibah hati akan tergerak untuk berdo’a.

Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele. Jangan marah, jangan marah, jangan marah !!.

Dan langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. (QS Adz-Dzariyat:22).

Kebanyakan yang kita takutkan tidak pernah terjadi. Pada orang-orang yang ditimpa musibah itu ada suri tauladan. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan cobaan atas mereka. Kita harus melakukan perbuatan yang baik dan membuahkan dan tinggalkan kekosongan. Tinggalkan semua kasak-kusuk, dan jangan percaya kepada kabar burung. Kedengkian dan keinginan kita yang kuat untuk membalas dendam itu hanya akan membahayakan diri sendiri, lebih besar daripada bahaya yang menimpa pihak lawan. Semua musibah yang menimpa diri kita adalah penghapus dosa-dosa.

Hidup memang tidak untuk larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Hidup juga bukan media untuk memuja-muja kegembiran, semua telah diatur berdasarkan regulasi langit yang menjadi hak absolute dari Sang Pencipta. Sebagai makhluk, manusia dibekali dengan apa yang disebut rasa, ada rasa sedih, ada rasa gembira, ada rasa takut dan berbagai rasa lainnya. Kini yang dituntut adalah bagaimana mampu memanage rasa itu untuk stabil berada dalam ketentuan Tuhan. Maka sungguh berartinya tulisan ‘La Tahzan (Don’t be Sad) ini, semoga !   
(EA)*