ENCIKEFFENDYNEWS.com

Dalam suatu kesempatan, Nabi Muhammad pernah ditanya oleh sahabatnya tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab, ”Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu apa lagi? Nabi menjawab, ”Jihad fi sabilillah.” Lalu apa? ”Haji mabrur.” (HR Bukhari).

Dalam kesempatan lain Nabi ditanya Aisyah, istrinya, ”Wahai Rasulullah, kami berpendapat bahwa jihad merupakan sebaik-baik amal, apakah kami tidak turut berjihad?” Nabi menjawab, ”Tidak. Ketahuilah bahwa sebaik-baik jihad adalah haji mabrur.” (HR Bukhari).

Di samping itu, ada sebuah riwayat bahwa Nabi didatangi seorang faqir yang berkata, ”Orang yang berharta memiliki kedudukan dan kenikmatan melebihi kami, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa, tapi mereka berhaji, berumrah, bersedekah, sementara kami tidak.”

Menanggapi hal itu, Nabi berkata, ”Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang melebihi mereka bila kalian lakukan, yaitu bertasbih, bertahmid dan bertakbir 33 kali seusai shalat.” (HR Bukhari). Dalam riwayat yang lain Nabi juga pernah menyatakan, ”Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan haji bersamaku.” (HR Bukhari-Muslim).

Hadis-hadis tersebut menunjukkan kebajikan yang utama di satu sisi adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun di sisi lain jihad di jalan Allah, haji mabrur, umrah di bulan Ramadhan, bertasbih, bertahmid, dan bertakbir sebanyak 33 kali sesudah shalat. Lantas mana yang paling utama?

Di sinilah letak perbedaan statistik keduniaan dan statistik kebajikan. Dalam statistik keduniaan orang yang bisa mencapai tujuan maksimal dianggap berhasil. Akan tetapi, tidak demikian dengan masalah amal kebajikan di sisi Allah di mana aspek kemampuan individu menjadi pertimbangan dalam penilaian.

Memperhatikan maksud hadis, sesungguhnya Nabi menunjukkan bahwa dalam beramal kebajikan hendaklah manusia berbuat sesuai kemampuan, karena dalam agama tidak dikenal adanya taklif di luar kemampuan manusia. Oleh sebab itu, siapa saja yang hanya sanggup mencapai titik B tentunya tidak boleh memaksakan untuk mencapai titik A. Sebaliknya orang yang bisa mencapai titik A tidak boleh berhenti di titik B. Itulah maksud Nabi, agar manusia berbuat sesuai kemampuan guna menghindari tindakan takalluf di luar kemampuannya.

Maka, siapa saja yang bisa berjihad dengan harta hendaklah berjihad dengan hartanya, siapa yang bisa berhaji hendaklah berhaji, dan siapa saja yang hanya sampai membaca tasbih, tahmid, dan takbir sesudah shalat, maka hendaklah melakukannya dengan niat yang tulus ikhlas semata-mata mencapai ridha Allah SWT.

Dengan demikian, setiap amal kebajikan mempunyai nilainya sendiri sesuai kemampuan orang yang akan melakukannya. Namun, yang paling penting di sisi Allah, tingkatan pahala yang dicapai tiap-tiap orang sesuai kemampuannya itu adalah sama, sehingga orang yang mampu secara minimalis tidak perlu risau selama melakukannya dengan penuh ikhlas semata-mata mencari ridha Allah SWT. Wallahu a’lam bi al-shawab.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ulama besar, Ibnul Qayyim berkata :

“Pertahankanlah bisikan yang berdetak agar tetap di hatimu, kalau tidak hal itu akan berubah menjadi buah pikiran. Bila telah berubah, pertahankanlah semampumu agar ia tetap berada dalam pikiranmu. Dan kalau tidak mampu, ia akan menjadi nafsu birahi.

Kendalikan nafsu agar ia tertundukkan, dan jika tidak akan lahir rencana buruk dalam bentuk kehendak. Jagalah kehendak itu, karena kalau tidak dijaga niscaya akan menjadi perbuatan maksiat.

Kalau perbuatan maksiat tidak bisa dicegah, ia akan menjadi temanmu sebagai suatu kebiasaan dan adalah sulit bagi manusia meninggalkan suatu kebiasaan.”

AMANAT KEHIDUPAN ENCIKEFFENDYNEWS.com     Perjalanan bangsa ini –dan juga bangsa-bangsa lain– selalu memberikan pelajaran bahwa tidak ada satu pun yang abadi. Jabatan dan kekuasaan yang dimiliki seseorang selalu ada batasnya. Orang yang sebelumnya dihormati dan dimuliakan dengan sangat cepat dapat menjadi orang yang hina dan pesakitan. Orang yang kaya pun dapat dengan sangat tiba-tiba menjadi miskin. Begitu juga sebaliknya, orang yang beberapa bulan atau tahun lalu bukan ”siapa-siapa”, bisa jadi kini sudah menjadi ”orang hebat”.

Hal ini sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya, ”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang Mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)’.” (QS 3: 26-27).

Demikian pula dengan diri kita. Kita pun berputar dan mengalami pertumbuhan dari asalnya tidak ada menjadi ada dan kemudian kembali kepada-Nya. Dari anak-anak, remaja, dewasa dan menjadi tua. Allah SWT berfirman, ”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS 2: 28).

Dalam ayat lainnya dijelaskan, ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami-(nya).” (QS 40: 67).

Itulah yang disebut sunnatullah. Semuanya berjalan dan berputar sesuai dengan kehendak Yang Kuasa, Allah SWT. Allah yang memberikan amanah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan, Allah pula yang mencabut amanah tersebut.

Dalam konteks ini, maka apa pun yang kita miliki dan bahkan diri kita adalah amanah kehidupan dari Allah. Kita harus menjaga dan menjalankan amanah tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Karenanya, janganlah kita terlena dengan segala apa yang kita miliki, terutama jabatan (kedudukan) dan kekayaan. Sebab, semua itu adalah cobaan dan amanat.

Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS 8: 27). Wallahu a’lam bis-shawab