ENCIKEFFENDYNEWS.com

Allah dan rasul-Nya telah memberikan petunjuk yang tidak hanya menerangkan bagaimana kita harus beribadah, tetapi juga mencakup bagaimana kita semestinya bersikap dan hidup dalam kaitannya dengan hubungan antarsesama atau dalam bermuamalah, dan bahkan dengan lingkungan alam sekitarnya. Ini bukti kebenaran bahwa Islam merupakan ajaran agama dan sistem yang lengkap dan sempurna. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk melaksanakan Islam secara keseluruhan, tidak parsial. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2: 208).

Salah satu ajaran tersebut adalah petunjuk bagaimana kita agar dapat menjadi orang-orang pilihan yang dapat membawa perbaikan dan manfaat bagi masyarakat dan umat Islam pada umumnya. Rasulullah menjelaskan petunjuk tersebut dalam sabdanya, ”Orang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang-orang yang mengingatkan kalian kepada Allah jika melihatnya, perkataannya menambah giat kalian untuk beramal, dan amalnya membuat kalian semakin mencintai akhirat.” (HR Hakim dari Ibnu Umar).

Hadis tersebut secara gamblang menjelaskan kriteria orang-orang pilihan, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingatkan orang lain untuk beribadah dan memberikan contoh dalam kebaikan. Pendek kata, orang-orang pilihan adalah orang-orang yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam kaitan ini Allah berfirman, ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3: 104).

Dalam ayat berikutnya Allah mempertegas, ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3: 110).

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa setiap Muslim bisa menjadi orang-orang pilihan. Karena, tugas amar ma’ruf nahi munkar ini merupakan fitrah bagi umat Islam. Dan, dalam pelaksanaannya tidak hanya bisa dilakukan oleh setiap individu, tetapi tugas ini bisa dilaksanakan secara kolektif atau kelembagaan.

Contoh sederhana orang-orang Islam yang bekerja di lembaga sensor film, misalnya. Amar ma’ruf nahi munkar yang bisa mereka lakukan adalah dengan tidak meloloskan film-film yang tidak sesuai tuntunan dan nilai-nilai agama maupun norma masyarakat. Sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak sanggup, maka dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bishawab.

ENCIKEFFENDYNEWS.com        –       Warga Negara Indonesia (WNI) merasa senang dengan perpindahan Ibukota Negara dari Jawa ke Kalimantan, khususnya warga Kalimantan (Timur), dan sebahagian merasa sedih khususnya warga Jawa dan yang berada di luar Jawa masih ada yang pro dan kontra. Dan bahkan Presiden sudah menetapkan nama ibukota itu dengan nama NUSANTARA.

Kawasan Istana Kpresidenan sangat menakjubkan terletak sedikit lebih tinggi, dikelilingi dengan hutan taman dan sungai yang mengalir, sungguh menakjubkan. Rakyatpun terperangah melihat bangunan yang sungguh luar biasa dibangun dalam suasana pandemi, ekonomi yang sedikit sepi, rakyat berdecak darimana dana membangun semegah ini ? Ah, gak penting yang penting ibukota Negara dah pindah, melihat hiruk-pikuknya Jakarta yang sudah luar biasa padatnya. NUSANTARA itulah nama ibukota Negara ini, mudah-mudahan menjadi spirit, Indonesia menjadi lebih maju lagi, aamin ! (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com


Dikisahkan, pada suatu hari, beberapa Arab desa datang kepada Rasulullah SAW. Mereka bertanya kepada para sahabat, ”Apakah kamu pernah memeluk anak-anak kecil kamu?” Para sahabat menjawab, ”Ya.” Orang-orang kampung itu berkata, ”Akan tetapi, demi Allah, kami belum pernah memeluknya.” Rasulullah SAW lalu bersabda, ”Aku tidak boleh berbuat apa-apa sekiranya Allah mencabut rahmat dari kamu.” (HR Muslim).

Hadis di atas merupakan peringatan dari Rasulullah bahwa betapa pentingnya kasih sayang kepada anak-anak. Kasih sayang kepada anak-anak tidak hanya merupakan wujud dari rasa cinta, tetapi yang lebih penting adalah kasih sayang merupakan bagian dari peranan orang tua dalam mendidik mereka. Kasih sayang merupakan fondasi terbentuknya hubungan yang erat antara orang tua dan anak-anak.

Dalam kaitan ini, Deborah Stipek–seorang pakar motivasi dari Stanford University–mengatakan hubungan yang erat antara orang tua dan anak sedikitnya mempunyai tiga komponen utama.

Pertama, penerimaan. Dalam konteks ini orang tua harus menerima keberadaan anak apa adanya, tanpa syarat apa pun. Penerimaan total orang tua terhadap anak-anak memberikan rasa percaya diri yang tinggi kepada anak-anak dan mempercepat anak dalam proses pembelajaran dan perkembangan dirinya.Sebaliknya, seorang anak yang tidak diterima secara penuh oleh orang tuanya menyebabkan mereka lambat dalam perkembangannya. Bahkan, penerimaan bersyarat tersebut menyebabkan anak memiliki sifat-sifat yang negatif, seperti pembangkang dan pemarah.

Kedua, adanya hubungan/ikatan batin. Hubungan/ikatan batin yang kuat antara orang tua dan anak-anak menciptakan rasa aman secara emosi, tenteram, dan mereka bahagia menjadi dirinya. Hubungan/ikatan batin ini akan terbentuk jika orang tua memberikan kehangatan dan terlibat dalam kehidupan anak-anaknya.

Selain itu, hubungan/ikatan batin yang kuat terbentuk pula dengan adanya rasa saling percaya, keterbukaan dan saling menghargai. Orang tua yang menanamkan rasa percaya pada anak menyebabkan mereka lebih berani mencoba, meskipun mereka memiliki keraguan sebelumnya. Adanya keterbukaan artinya ada komunikasi dua arah yang menyebabkan orang tua mudah mengikuti perkembangan anak, di dalam maupun di luar rumah. Sedangkan anak yang dihargai, maka mereka akan mengapresiasikan hal yang sama terhadap orang tuanya.

Ketiga, dukungan. Orang tua harus menghargai dan menghormati anak sebagai pribadi yang unik, sehingga mengembangkan segala potensinya untuk menjadi diri sendiri dan mandiri. Dan, bukan dipaksakan untuk menjadi seperti orang tuanya. Dalam kaitan ini, John Bowlby–seorang ahli jiwa anak–menegaskan seorang anak akan efektif jika minimal ada satu orang yang ”berdiri di belakang mereka”. Maksudnya, selalu ada orang yang siap memberikan dukungan apapun kondisinya.

Semoga kita dapat membangun dan memberikan kasih sayang kepada anak-anak kita, sehingga keluarga kita termasuk golongan orang-orang yang pengasih dan penyayang. Dan, semoga anak-anak kita menjadi anak yang membanggakan orang tua, bangsa, dan agamanya. Wallahu a’lam bishawab.