ENCIKEFFENDYNEWS.com

Insya Allah seminggu lagi jamaah haji kita akan Kembali ke tanah air. Berarti berangsur-angsur kembali ke kampung halaman masing-masing. Kita turut menyambut kedatangan mereka dengan iringan doa, semoga mereka memperoleh haji mabrur. Kata Nabi Saw, “haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

              Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Menurut para ulama, haji mabrur itu adalah haji yang tidak tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa kebaikan haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa (ma’ashi) dan berbagai tindak kejahatan (munkarat) baik kecil  maupun besar.

              Dalam bahasa yang lebih simple, Imam Nawawi memberikan definisi yang lebih konkret tentang haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain adalah menguatnya iman dan meningkatnya ibadah dan amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, lanjut nawawi, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

              Bertolak dari pemikiran Nawawi di atas, dapat dipahami bahwa mendapatkan haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi adalah mempertahankan dan memelihara kemabruran haji itu. Kemabruran haji itu memang harus terus dijaga an dipelihara sepanjang waktu dalam hidup kita.

              Menjaga dan memelihara kemabruran haji itu dapat dilakukan dengan mengupayakan peningkatan kualitas keberagaman itu sendiri, baik dalam tataran iman, ibadah, amal saleh, maupun akhlak.

              Peningkatan iman diwujudkan antara lain dalam bentuk menguatnya kesadaran seseorang tentang kebesaran dan keagungan Allah Swt. peningkatan ibadah dibuktikan dalam bentuk pelaksanaan ibadah secara sempurna dan istiqamah, terutama shalat lima waktu. Peningkatan amal saleh diwujudkan, antara lain dalam bentuk kepedulian social dan keberpihakan orang yang bersangkutan terhadap orang-orang lemah dan kaum dhuafa.

              Sementara peningkatan moral atau akhlak harus diupayakan melalui dua proses. Pertama, menghilangkan dan membersihkan diri dari berbagai sifat dan akhlak buruk. menurut Al-Baqarah ayat 194  sifat yang buruk itu ada 3 yaitu berkata kotor (rafats), berbuat jahat (fusuq), dan membikin permusuhan (jadal).

              Kedua, menghiasi diri dengan berbagai akhlak yang mulia dan terpuji. Dalam kaitan ini, Rasulullah Saw menyebut beberapa diantaranya. Pertama, bertutur kata yang baik. Kedua, dermawan dan santun yang dibuktikan dengan memberi makan kepada fakir miskin. Ketiga, sabar dan syukur serta ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah.

              Meski haji mabrur itu menjadi rahasia Tuhan, dalam arti tak seorang pun dapat mengetahuinya secara pasti, apakah seorang haji memperoleh haji mabrur atau tidak, namun dari indicator-indikator  yang disebutkan di atas tampaknya cukup jelas siapa dari para hujjaj yang berhasil meraih haji mabrur dan yang mampu memelihara dan mempertahankan kemabruran hajinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation