ENCIKEFFENDYNEWS.COM

Abu Rayhan Bairuni, seorang fisikawan yang hidup pada abad ke 4 Hijriah, banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu. Suatu ketika, saat ia menjelang ajalnya, seorang ahli fikih, sahabatnya, menjenguknya. Bagi bairuni, ini merupakan kesempatan yang baik untuk menanyakan tentang berbagai masalah hukum. Ahli fikih itu terkejut dan berkata,”Saya pikir saat ini bukan waktunya Anda bertanya dan membahas ilmu pengetahuan.”Bairuni langsung menjawabnya, “Anda salah, saya berpikir akan lebih baik sekiranya saya mengetahui masalah ini kemudian meninggal dunia, daripada saya tak mengetahuinya lalu meninggal.”

              Ilmu pengetahuan adalah “makanan” rohani kita. Di samping memikirkan keperluan jasmani, sebaiknya kita juga harus berpikir tentang makanan rohani dan spiritualnya. Imam Hasan, cucu Nabi Muhammad Saw berkata, “Aku merasa heran dengan sekelompok orang yang hanya sibuk memikirkan apa yang harus ia makan namun sama sekali tidak berpikir tentang ilmu yang harus dia miliki.”

              Islam mewajibkan kepada umatnya baik pria maupun wanita, untuk menuntut dan mencari ilmu pengetahuan. Kata Nabi Saw, “mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim”.

              Kalau kewajiban agama, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, selalu dikaitkan dengan waktu dan mensyaratkan kedewasaan, namun mencari pengetahuan wajib sejak manusia dilahirkan sampai dia mati. “Belajarlah dari buaian hingga ke liang lahat,”sabda Nabi Saw. Menurut prinsip ini, seorang Muslim harus terus belajar sepanjang hayatnya dan menambah ilmu pengetahuannya setiap saat.

              Di dalam Al-qur’an banyak perintah untuk mempelajari dan mengadakan perenungan tentang rahasia-rahasia penciptaan alam, watak manusia, sejarah, hukum, dan seterusnya. Sejarah Islam juga mencatat, ketika beberapa orang kafir ditawan dalam perang Badar, Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk membebaskan mereka dengan tebusan. Namun, beberapa tawanan yang bisa membaca dan menulis mendapatkan perkecualian. Bagi mereka, tebusannya adalah mengajarkan ilmu kepada pemuda-pemuda Islam.

              Perhatian Islam pada ilmu, juga bisa dilihat dalam masalah jihad, dalam arti berperang di jalan agama. Bagi orang Islam yang sedang mempelajari ilmu, mereka dibebaskan dari kewajiban itu.(QS. At-Taubah: 122). Tentang tingginya kedudukan orang yang menuntut ilmu ini, Allah swt berfirman, “Katakanlah! Adakah sama orang-orang  yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya, orang-orang bijak sajalah yang bisa menerima pelajaran.”(QS. Al-Zumar: 9).

              Menurut sejumlah ahli tafsir, ilmu yang disebutkan dalam Al-qur’an itu bukan hanya dimaksudkan hanya ilmu agama, tapi juga mencakup berbagai disiplin ilmu yang dapat memberikan sumbangan bagi peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Sayid Sabiq, seorang ulama Mesir menyatakan, “Islam mengagungkan ilmu, mencarinya sebagai ibadah, belajarnya sebagai tasbih, menelitinya sebagai ijtihad, dan mengajarkannya kepada orang lain sebagai sedekah.”

ENCIKEFFENDYNEWS.com

perbuatan yang paling disukai Allah & Rasul

b.e.r.d.a.k.w.a.h

harta yang paling

menguntungkan adalah sabar

teman yang paling waspada adalah diam

bahasa yang paling manis adalah senyum dan

ibadah yang paling indah

adalah ikhlas

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ibadah dalam Islam merupakan sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Fungsi ibadah itu sendiri mengandung nilai tarbiyah yang sangat mendasar bagi para pelakunya. Hal ini dapat kita lihat dari tujuan ibadah, untuk pendidikan dan membersihkan ruh serta jiwa. Dengan riyadhah seperti itu, diharapkan potensi kebaikan yang tertanam dalam diri akan tampak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Misalnya ibadah shalat yang menurut Al-qur’an adalah untuk mencegah (kamu) dari sikap dan melakukan perbuatan-perbuatan hina dan tercela (Al-Ankabut 45). Artinya shalat yang dilakukan selama mushalli (pelaku shalat) belum atau tidak dapat mencegah terhadap kemungkaran, pelakunya dapat dikategorikan belum mendirikan shalat.

              Begitu pula dengan ibadah puasa. Bilamana setelah kita menjalankan ibadah ini di bulan Ramadhan, tapi setelah itu kualitas amal dan akhlak kita tidak meningkat ke arah kebaikan, maka hakikat ibadah puasa kita perlu dipertanyakan. Begitupun ibadah haji. Kualitas rohani dan jiwa kita seharusnya lebih tinggi dibandingkan sebelum kita menunaikan ibadah ini. Indicator haji  mabrur adalah grafik amal salehnya meningkat terus pada pasca penunaian ibadah haji.

              Jenis ibadah yang terakhir ini terkandung nilai universalitas Islam, dan sangat kentara dibandingkan dengan dua jenis ibadah lainnya. Seluruh umat manusia baik yang ada di timur maupun di barat berkumpul menjadi satu jama’ah besar bersimpuh di rumah Allah (Baitullah), dengan mengenang dan mengagungkan syiar-syiar-Nya (Al-Baqarah 158).

              Di balik nilai universalisme ibadah haji ini, terdapat nilai kesatuan dan persatuan yang sangat kental. Ibadah ini sebagai konferesi umat Islam sedunia, tempat sah apabila berbagai problema umat Islam dibicarakan dan dibahas, sebagai aktualisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Rasulullah telah memberikan suri tauladan yang baik dalam implementasi ibadah haji. Misalnya kewajiban menghormati darah dan kehormatan seseorang (hak asasi manusia), perhatian terhadap system ekonomi yang menindas dan tidak adil, berbicara hak-hak perempuan, dan berpesan kepada kaum mukmin untuk melindungi dan menghormati mereka. Inilah sebagian khutbah Nabi pada waktu melakukan Haji Wada’ (haji perpisahan) pada tahun 10 Hijriah.

              Di dalam rukun-rukun haji juga sangat sarat dengan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga. Contohnya menanggalkan kemaksiatan, sikap riya’ (suka pamer), kemunafikan, dan shubhat. Di samping itu, juga menciptakan kesatuan dan persatuan umat Islam, dengan saling menghormati hak-hak orang lain. Semoga dengan hadirnya berbagai dimensi dalam ibadah haji ini, jamaah haji menjadi haji-haji yang mabrur.