ENCIKEFFENDYNEWS.com

Menjelang para calon haji berangkat ke Tanah Suci, biasanya kita lepas mereka dengan doa semoga menjadi haji mabrur (haji yang diterima Allah). Sebab dengan memperoleh martabat haji mabrur, segala pengorbanan dan biaya yang dikeluarkan akan dibayar berlipat ganda oleh Allah Swt, antara lain dengan surge yang penuh kenikmatan. Sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi Saw, “Bagi haji mabrur tak ada balasan yang setimpal kecuali surga.”

              Namun sepatutnya kita perhatikan pula segi-segi yang pahit dari perjalanan haji. Terutama jika tidak menyandang niat semata-mata karena Allah. Semua kesulitan yang mereka alami akan sia-sia belaka. Bahkan bukan martabat haji mabrur yang mereka peroleh, melainkan haji mardud, yaitu ibadah yang ditolak oleh Allah Swt.

              Kata Nabi Muhammad Saw, :Sayakti ‘ala ummati zamanun, yahijju aghniya-u ummati li an-nuzhati, wa aushathuhum littijarati, waqurra-uhum lissum ‘ati wa riya-I, wa fuqara-uhum li masalati (akan datang suatu zaman menimpa umatku, kaum hartawan pergi haji untuk bertamasya, kaum menengah pergi haji  untuk mencari keuntungan, kaum penggede pergi haji untuk gengsi, dan kaum miskin pergi haji untuk meminta-minta).

              Barangkali menghindari kesia-siaan itulah yang  harus lebih intens dibenahi, setelah Alhamdulillah penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih teratur dibandingkan masa-masa lalu. Dan tugas itu layak dipikul oleh para ulama dan pembimbing haji, dalam arti factor keikhlasan hendaknya ditanamkan sejak dini. Bukankah Allah Swt sendiri selalu mengingatkan agar dalam menunaikan Rukun Islam kelima itu umat senantiasa melandasinya dengan niat “hanya untuk Allah Ta’ala”. (QS2:196)

              Hal-hal di atas menjadi penting kita perhatikan, mengingat potensi para haji kita diakui vital untuk ikut mempelopori uapya-upaya positif menuju terciptanya umat Islam yang sadar agama. Gambaran masyarakat awam bahwa haji merupakan kelompok yang jauh lebih baik ketimbang yang  bukan haji, tak dapat dikesampingkan tanpa peduli. Gambaran itu seharusnya mewujud dalam kiprah keseharian dan kemasyarakatan jemaah haji, khususnya sesudah ada wadah IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) dan kumpulan-kumpulan kehajian lainnya.

              Semua itu takkan terlaksana apabila jamaah haji terdiri dari haji-haji mardud, yang menjalankan ibadah dengan niat yang tidak tulus. Untuk itu, jika kemampuan dibidang materi dan lain-lain sudah bukan masalah lagi, seyogyanya setiap orang yang akan berangkat haji menyeleksi diri untuk lebih menekankan keikhlasan dan kesungguhan beribadah dalam memenuhi panggilan Allah.

              Allah berfirman,” Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah hajiku, hidupku, dan  matiku, semata-mata untuk Allah penguasa alam semesta.” (QS 6:163).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Insya Allah seminggu lagi jamaah haji kita akan Kembali ke tanah air. Berarti berangsur-angsur kembali ke kampung halaman masing-masing. Kita turut menyambut kedatangan mereka dengan iringan doa, semoga mereka memperoleh haji mabrur. Kata Nabi Saw, “haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

              Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Menurut para ulama, haji mabrur itu adalah haji yang tidak tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa kebaikan haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa (ma’ashi) dan berbagai tindak kejahatan (munkarat) baik kecil  maupun besar.

              Dalam bahasa yang lebih simple, Imam Nawawi memberikan definisi yang lebih konkret tentang haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain adalah menguatnya iman dan meningkatnya ibadah dan amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, lanjut nawawi, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

              Bertolak dari pemikiran Nawawi di atas, dapat dipahami bahwa mendapatkan haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi adalah mempertahankan dan memelihara kemabruran haji itu. Kemabruran haji itu memang harus terus dijaga an dipelihara sepanjang waktu dalam hidup kita.

              Menjaga dan memelihara kemabruran haji itu dapat dilakukan dengan mengupayakan peningkatan kualitas keberagaman itu sendiri, baik dalam tataran iman, ibadah, amal saleh, maupun akhlak.

              Peningkatan iman diwujudkan antara lain dalam bentuk menguatnya kesadaran seseorang tentang kebesaran dan keagungan Allah Swt. peningkatan ibadah dibuktikan dalam bentuk pelaksanaan ibadah secara sempurna dan istiqamah, terutama shalat lima waktu. Peningkatan amal saleh diwujudkan, antara lain dalam bentuk kepedulian social dan keberpihakan orang yang bersangkutan terhadap orang-orang lemah dan kaum dhuafa.

              Sementara peningkatan moral atau akhlak harus diupayakan melalui dua proses. Pertama, menghilangkan dan membersihkan diri dari berbagai sifat dan akhlak buruk. menurut Al-Baqarah ayat 194  sifat yang buruk itu ada 3 yaitu berkata kotor (rafats), berbuat jahat (fusuq), dan membikin permusuhan (jadal).

              Kedua, menghiasi diri dengan berbagai akhlak yang mulia dan terpuji. Dalam kaitan ini, Rasulullah Saw menyebut beberapa diantaranya. Pertama, bertutur kata yang baik. Kedua, dermawan dan santun yang dibuktikan dengan memberi makan kepada fakir miskin. Ketiga, sabar dan syukur serta ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah.

              Meski haji mabrur itu menjadi rahasia Tuhan, dalam arti tak seorang pun dapat mengetahuinya secara pasti, apakah seorang haji memperoleh haji mabrur atau tidak, namun dari indicator-indikator  yang disebutkan di atas tampaknya cukup jelas siapa dari para hujjaj yang berhasil meraih haji mabrur dan yang mampu memelihara dan mempertahankan kemabruran hajinya.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ibadah haji, yang merupakan rukun Islam yang kelima, pada hakikatnya wajib ditegakkan oleh setiap Muslim. Namun karena ibadah ini mempunyai kekhususan, yakni harus dilakukan di suatu tempat di Arab Saudi, maka kewajibannya dibatasi hanya bagi mereka yang mampu baik moril maupun material. Sama seperti ibadah yang lain, melaksanakan ibadah haji adalah panggilan ketakwaan. Tentu saja setelah menunaikannya orang seharusnya  menjadi semakin takwa dalam cara hidupnya.

              Sebagaimana dijelaskan oleh Al-qur’an, implikasi takwa intinya adalah pembudayaan tradisi-tradisi mulia. Takwa dalam pandangan Al-qur’an adalah sebuah dasar kemanusiaan yang menyatukan berbagai warna  kulit, rasa atau keturunan dalam satu keluarga Allah (iyalullah). Dalam kaitan ini Allah berfirman:” Kami menciptakan kamu dari pria dan wanita, dan membuat kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah itu adalah yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujarat, 13).

              Di sini Al-qur’an meletakkan criteria paling objektif dalam hubungan antarabangsa, ras, suku maupun hubungan antar individu, yaitu takwa. Criteria ini menjadikan hidup lebih dinamis, karena membuat orang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (fastabiqul-khoirat).

              Jika implikasi cita-cita ketakwaan ini secara konsisten dapat kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari, maka para hujjaj akan dapat melanjutkan tradisi-tradisi mulia sebagai pelopor pencerahan kehidupan masyarakat sekitarnya. Sebagaimana kita ketahui, para hujjaj dalam masyarakat bangsa ini dalam sejarah kebangkitan nasional telah memperlihatkan peranannya yang monumental. Didorong oleh rasa keprihatinannya yang dalam terhadap ekonomi rakyat, mereka mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) dengan ketuanya Haji Samanhudi. Organisasi inlah menjadi cikal bakal tumbuhnya organisasi pergerakan yang bersifat nasional yaitu Syarekat Islam (ISI) yang dalam kiprahnya, pemimpin organisasi ini yaitu HOS Cokroaminoto berhasil mengkader banyak tokoh pergerakan nasional yang mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

              Pada Pembangunan Jangka Panjang II ini, kepeloporan para hujjaj mendapat tantangan baru untuk ta’awanu ‘alal birri wat-taqwa mendorong semua pihak (termasuk pemerintah) mau menciptakan iklim kerja sama di atas kebaikan dan takwa sehingga kehidupan social, budaya,,dan ekonomi politik berjalan dengan lebih baik, penuh dengan nuansa kejujuran, keadilan dan penghargaan terhadap ilmu.