ENCIKEFFENDYNEWS.com

Yang lebih mendekatkan seorang   hamba kepada Allah Azza wa Jalla            ialah apabila ia sujud,                          lalu memperbanyak doa ketika itu.

(Nabi Muhammad Saw)

              Hari ini, mulai berdatangan kembali para jamaah haji kita. Semoga semuanya dikaruniai Allah Azza wa Jalla, haji mabrur. Itulah haji yang diterima, yang tak ada imbalannya yang lebih pantas kecuali surga.

              Haji mabrur, secara rohaniah akan tampak pada getaran tauhidnya. Yang secara lahiriah akan tampak pada perilakunya. Kepadatan ibadahnya, kasih sayang kepada sesamanya, kedermawanannya, kesederhanaannya, kerendahhatiannya, semuanya itu bermuara pada sublimasi tauhidnya. Semakin menebal, semakin menghayati, semakin dipraktikkan, semakin memikat menjadi suri-tauladan masyarakatnya. Ketika mereka turun dari tangga pesawat satu persatu, mereka merupakan jiwa-jiwa baru di tanah kelahirannya. Allahu Akbar.

              Hadist riwayat Abu Hurairah di atas mengajak kita untuk semakin memperbanyak ibadah. Sujud, secara fisikal, merupakan perlambang yang menggambarkan pengagungan, pensucian, dan pemahakuasaan Allah.

              Dan banyaknya doa yang kita lantunkan menjadi cahaya tauhid yang semakin membimbing ke jalan lempang, menyisihkan berbagai penghalang. Kemusyrikan, sebagai penghalang, adalah pelanggaran terberat. Hukumannya neraka jahanam. Memang, menduakan Tuhan (syirik) merupakan gejala yang lembut merasuk ke dalam hati sanubari tanpa disadari siapa pun. Tiba-tiba kita mendapati hati kita sudah tidak nyaman lagi, karena disitu, di samping Tuhan, bertahta “kekuatan lain” yang sangat kuat yang juga minta kita sembah. Meski telah haji, kita sewaktu-waktu juga bisa terperosok menjadi seorang musyrik.

              Sebenarnya perasaan kita cukup peka dalam mendeteksi hati kita, apakah kita mendapatkan haji mabrur atau tidak. Rasa plong (lega) mendapat kemudahan dalam beribadah, dan ilmu pengetahuan yang bertambah, semua itu kita dapatkan ketika kita menyandang haji mabrur. Memang, ibadah haji juga merupakan sekolah, di mana kita mendapatkan ilmu pengetahuan (baru), yang sebelumnya tidak kita mengerti dan tidak kita miliki. Kita semakin mengerti dan menafsirkan agama lebih lurus, yang membawa langkah kita semakin mantap. Haji mabrur menjadi praktik sehari-hari, yang nyata dirasakan dan menjadi rahmat bagi masyarakat.

              Haji mabrur adalah suatu sikap yang setiap saat mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan membenahi tata cara beribadah menjadi lebih baik dan lebih benar. Dalam perilaku sehari-harinya, haji mabrur memperlihatkan sikap dan kehidupan yang islami, artinya baik, benar, berguna, dan luhur.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Kalau kita mencermati cara Alqur’an meminta perhatian kita terhadap waktu, akan kita dapat beberapa bentuk pernyataan. Adakalanya dalam bentuk kalimat sumpah yang sangat fenomenal, misalnya: “Demi waktu sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”. (QS. Ad-Dhuha), atau “Demi fajar dan malam sepuluh” (QS Al Fajr).

              Menurut para ahli tafsir, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu ciptaan-Nya, maka itu untuk menjadikan pandangan manusia tertuju kepadanya dan mengingatkan mereka akan manfaatnya yang besar dan pengaruhnya yang terus menerus.

              Adakalanya Alqur’an menyebut perjalanan waktu itu dalam bentuk yang langsung berkaitan dengan siklus kehidupan seseorang. Allah Swt berfirman,”Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, lantas Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan berubah. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar-Rum: 54).

              Dan adakalanya Alqur’an membangkitkan kesadaran dan perhatian manusia terhadap pentingnya waktu itu dengan gerak bumi dan peredarannya, perjalanan matahari dan bintang-bintang, serta pergantian siang dan malam. Kata Allah, “Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS Al-Furqaan: 62).

              Semua metode yang disampaikan Alqur’an itu bertujuan untuk meyakinkan pentingnya setiap orang menjaga akhlaqnya terhadap waktu.

              Dalam hal ini paling tidak ada empat kondisi yang berkaitan dengan waktu untuk setiap manusia, yaitu kenikmatan, kesengsaraan, ketaatan, dan kemaksiatan. Masing-masing dari empat kondisi tersebut, setiap manusia yang berada didalamnya mempunyai kewajiban sendiri-sendiri. Pertama, bagi mereka yang berada dalam kenikmatan berkewajiban untuk bersyukur kepada Allah Swt.

              Kedua, bagi mereka yang sengsara, punya kewajiban untuk rela dan sabar terhadap ujian Allah, tetap istiqomah dalam kebenaran. Ketiga bagi mereka yang berada dalam ketaatan, berkewajiban untuk memohon bertambahnya taufik dan hidayah dari Allah agar dapat selalu terus menerus taat kepada-Nya.

              Keempat, bagi mereka yang berbuat maksiat, berkewajiban untuk bertobat kepada Allah, memohon ampunan-Nya seraya bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan-perbuatan maksiatnya itu.

              Perjalanan waktu, dan khususnya dengan tibanya tahun baru hijriyah ini, kiranya dapat menjadi pelajaran untuk kita lebih menghargai waktu dimasa datang dengan prestasi-prestasi amal saleh. Hanya dengan cara demikian kemajuan-kemajuan dapat diharapkan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa spektakuler itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnay aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Aa-saffat: 102)

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, datanglah setan sambil berkata, “Ibrahim, kamu orang tua macam apa kata orang nanti, anak saja disembelih?” “Apa kata orang nanti?” “Apa tidak malu? Tega sekali, anak satu-satunya disembeli!” “Coba lihat, anaknya lincah seperti itu!” “Anaknya pintar lagi, enak dipandang, anaknya patuh seperti itu kok dipotong!” “Tidak punya lagi nanti setelah itu, tidak punya lagi yang seperti itu! Belum tentu nanti ada lagi seperti dia.” Nabi Ibrahim sudah mempunya tekat. Ia mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Batu itu dilempar. Akhirnya seluruh jamaah haji sekarang mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim ini di dalam mengusir setan dengan melempar batu sambil mengatakan, “Bismillahi Allahu akbar”. Dan hal ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

Ketika sang ayah belum juga mengayunkan pisau di leher putranya. Ismail mengira ayahnya ragu, seraya ia melepaskan tali pengikat tali dan tangannya, agar tidak muncul suatu kesan atau image dalam sejarah bahwa sang anak menurut untuk dibaringkan karena dipaksa ia meminta ayahnya mengayunkan pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, seperti ayahnya yang telah tawakkal. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.”

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar. Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail diatas, bagi kita harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung pembelajaran paling tidak pada tiga hal;

Pertama, ketakwaan. Pengertian taqwa terkait dengan ketaatan seorang hamba pada Sang Khalik dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Nya. Koridor agama (Islam) mengemas kehidupan secara harmoni seperti halnya kehidupan dunia-akherat. Bahwa mereaih kehidupan baik (hasanah) di akhierat kelak perlu melalui kehidupan di dunia yang merupakan ladang untuk memperbanyak kebajikan dan memohon ridho Nya agar tercapai kehidupan dunia dan akherat yang hasanah. Sehingga kehidupan di dunia tidak terpisah dari upaya meraih kehidupan hasanah di akherat nanti. Tingkat ketakwaan seseorang dengan demikian dapat diukur dari kepeduliannya terhadap sesamanya. Contoh seorang wakil rakyat yang memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi tentu tidak akan memanfaatkan wewenang yang dimiliki untuk memperkaya dirinya sendiri bahkan orang seperti ini akan merasa malu jika kehiudpannya lebih mewah dari pada rakyat yang diwakilinya. Kesiapsediaan Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya atas perintah Allah menandakan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, sehingga tidak terjerumus dalam kehidupan hedonis sesaat yang sesat. Lalu dengan kuasa Allah ternyata yang disembelih bukan Ismail melainkan domba. Peristiwa ini pun mencerminkan Islam sangat menghargai nyawa dan kehidupan manusia, Islam menjunjung tinggi peradaban manusia.

Kedua, hubungan antar manusia. Ibadah-ibadah umat Islam yang diperintahkan Tuhan senantiasa mengandung dua aspek tak terpisahkan yakni kaitannya dengan hubungan kepada Allah (hablumminnalah) dan hubungan dengan sesama manusia atau hablumminannas. Ajaran Islam sangat memerhatikan solidaritas sosial dan mengejawantahkan sikap kepekaan sosialnya melalui media ritual tersebut. Saat kita berpuasa tentu merasakan bagaimana susahnya hidup seorang dhua’afa yang memenuhi kebutuhan poangannya sehari-hari saja sulit. Lalu dengan menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada kaum tak berpunya itu merupakan salah satu bentuk kepedualian sosial seoarng muslim kepada sesamanya yang tidak mampu. Kehidupan saling tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam. Hikmah yang dapat dipetik dalam konteks ini adalah seorang Muslim diingatkan untuk siap sedia berkurban demi kebahagiaan orang lain khususnya mereka yang kurang beruntung, waspada atas godaan dunia agar tidak terjerembab perilaku tidak terpuji seperti keserakahan, mementingkan diri sendiri, dan kelalaian dalam beribadah kepada sang Pencipta.

Ketiga, peningkatan kualitas diri. Hikmah ketiga dari ritual keagaamaan ini adalah memperkukuh empati, kesadaran diri, pengendalian dan pengelolaan diri yang merupakan cikal bakal akhlak terpuji seorang Muslim. Akhlak terpuji dicontohkan Nabi seperti membantu sesama manusia dalam kebaikan, kebajikan, memuliakan tamu, mementingkani orang lain (altruism) dan senantiasa sigap dalam menjalankan segala perintah agama dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Dalam Al Quran disebutkan bahwa Nabi Muhammad memiliki akhlak yang agung (QS Al-Qalam: 4). Dalam Islam kedudukan akhlak sangat penting merupakan “buah” dari pohon Islam berakarkan akidah dan berdaun syari”ah. Segala aktivitas manusia tidak terlepas dari sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia. Sebaliknya, akhlak tercela dipastikan berasal dari orang yang bermasalah dalam keimanan merupakan manisfestasi dari sifat-sifat syetan dan iblis.
Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahunan yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang paling sabar dan tabah yaitu Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail.

Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan dipadang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.