ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sejak virus corona / Covid -19 mewabah secara misterius di kota Wuhan di provinsi Hubei, China pada Desember 2019 lalu, hingga kini jumlah korban Covid-19 terus bertambah di seluruh dunia. Dalam penelitian terbaru, tingkat keparahan dalam beberapa kasus Covid-19, meniru kasus SARS-CoV yang mewabah beberapa tahun lalu di China. Seperti dilansir New England Journal of Medicine (NEJM), Jumat (3/4/2020), para peneliti mencoba menentukan analisis terbaru dari kasus yang ada di seluruh daratan China. Para peneliti mengekstraksi data dari 1.099 pasien Covid-19 yang dikonfirmasi dari 552 laboratorium rumah sakit di 30 provinsi di China, hingga 29 Januari 2020

. Para peneliti menyeleksi riwayat paparan virus corona terbaru, gejala klinis dan temuan di laboratorium tentang catatan medis elektronik. Tingkat keparahan Covid-19 berdasarkan data yang dianalisis, para peneliti mendefinisikan tingkat keparahan Covid-19 dengan menggunakan pedoman American Thoracic Society untuk pneumonia yang diperoleh dari masyarakat. Para peneliti dalam makalah ini menyimpulkan tingkat keparahan Covid-19 dikategorikan menjadi dua, yakni non-severe (tidak parah) dan parah. Pasien non-servere ada 926 pasien dan kasus infeksi virus corona dengan tingkat keparahan tinggi ada 173 pasien. Pasien dengan penyakit parah, sebagian besar berusia lebih tua. Selain itu, sekitar 38,7 persen pasien Covid-19 memiliki penyakit penyerta dengan penyakit parah. Sedangkan pasien dengan penyakit ringan atau tidak parah ada sekitar 21 persen. Selama fase awal wabah Covid-19, diagnosis penyakit dipersulit dengan keragaman gejala, hasil pencitraan radiologi serta keparahan penyakit penyerta itu sendiri.

 Demam diidentifikasi pada 43,8 persen pasien pada saat deteksi awal, namun kemudian berkembang menjadi 88,7 persen setelah mereka dirawat di rumah sakit. Penyakit parah terjadi pada 15,7 persen pasien Covid-19 setelah masuk ke rumah sakit. Sedangkan pada pemeriksaan awal, sebanyak 2,9 persen pasien dengan penyakit parah dan 17,9 persen pasien dengan penyakit non-severe, tidak menunjukkan adanya kelainan radiologis yang dicatat.

Inilah intermezo dunia yang ditakuti semua orang.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Sufi berasal dari berbagai kata sehingga maknanya pun beragam. Ada yang mengatakan bahwa kata itu berasal dari shuf (bulu dombal/wol). Ada juga yang mengatakan bahwa kaum sufi berhubungan dengan serambi (as-shffah). Kelompok lain mengatakan itu diambil dari kata ash-shafa’ yang mempunyai arti kejernihan atau ketulusan.Sebagian ulama berpendapat bahwa kata sufi berasal dari madli dan mudlari’ صفا يصفو yang mempunyai arti jernih, bersih.

Hal ini menaruh penekanan pada pemurnian hati dan jiwa. Dapat diambil kesimpulan dari dua pengertian di atas bahwa seorang sufi atau sufisme yaitu orang yang hidup sederhana, menjauhi urusan dunia (zuhud) dan memurnikan hati hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tafsir sufi adalah penafsiran Alquran yang berlainan dengan zahirnya ayat karena adanya petunjuk-petunjuk yang tersirat.

Dan hal itu dilakukan oleh orang-orang Sufi, orang yang berbudi luhur dan terlatih jiwanya (Mujahadah), diberi sinar oleh Allah SWT sehingga dapat menjangkau rahasia-rahasia Alquran. Mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan pembahasan dan pemikiran mereka yang berhubungan dengan kesufian yang justru kadang-kadang berlawanan dengan “Syari’at Islam” dan kadang-kadang pemikiran mereka tertuju pada hal yang bukan-bukan tentang Islam.

Timbulnya tasawuf dalam Islam salah satunya dikarenakan adanya segolongan umat Islam yang belum merasa puas dengan pendekatan diri kepada Tuhan melalui ibadat, puasa dan haji. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Tuhan dengan cara hidup menuju Allah dan membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi, sehingga tidak diperbudak harta atau tahta, atau kesenangan dunia lainnya.

Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Al-Dzahabi membenarkan bahwa praktik tasawuf semacam di atas telah dikenal sejak masa awal Islam, banyak di antara sahabat yang melakukan praktik tasawuf yaitu hidup dalam zuhud dan ibadah dan yang lainnya, tetapi masa itu tidak dikenal istilah tasawuf.

Selain itu pada generasi berikutnya sekitar abad ke-2 H, secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan dunia menjadi lebih berat. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhan lebih dikenal dengan kaum sufiyah. Pada masa ini pulalah istilah tasawuf mulai dikenal. Dan orang yang dianggap pertama kali menggunakan istilah sufi adalah Hasyim al-Sufi yang wafat tahun 150 H.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Hakikatnya hidup ini merupakan rangkaian proses belajar dan menempa diri agar menjadi lebih baik senantiasa. Sungguh, begitu banyak hal dapat disarikan dari perjalanan detik demi detik kehidupan kita. Hal-hal yang kita rasakan, kita lihat, kita dengar, kita keluarkan melalui lisan, semuanya bisa menjadi sesuatu yang sarat makna dan dapat memperkaya khazanah pengalaman kita untuk selanjutnya dijadikan modal bagi proses perbaikan diri, jika kita mau tentunya.

Little things mean a lot, ya, banyak hal kecil yang sesungguhnya memiliki makna yang begitu besar, jika saja kita mau sedikit lebih memperhatikan, sedikit melihat lebih ke dalam, dan sedikit saja berpikir. Ketika kita hanya memandang sesuatu dengan cara biasa, semuanya akan tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, seakan memang demikianlah seharusnya.

Ketika peristiwa-peristiwa yang kita temui atau kita jalani hanya lewat begitu saja, maka ia hanya akan menjadi masa lalu hampa nilai yang tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa. Padahal jika kita mau sedikit saja menggali lebih dalam, mungkin tidak sedikit bekas-bekas berharga yang tertinggal di sana. Sebagaimana halnya mutiara, sebelum ada yang mengeluarkannya dari cangkang sang kerang, tidak ada yang dapat merasakan pancaran keindahannya.

Menjadi pembelajar sejati, hal yang cukup sulit dilakukan saya rasa. Bagi saya, seorang pembelajar sejati akan selalu mencoba mencari celah pembelajaran dari setiap kejadian yang dialaminya maupun kejadian yang dialami oleh orang lain. Sungguh saya ingin menjadi orang seperti itu: yang senantiasa dapat memaknai hidup dari sudut pandang positif, yang mampu melihat nilai-nilai yang belum tersingkap, serta mampu memunculkan keberhargaan walaupun begitu tersembunyi adanya. Siapa yang tahu di dalam cangkang kerang yang gelap tersimpan mutiara yang begitu indah jika tidak ada yang mencoba menyelam ke dasar lautan dan mendapatkannya. Ya, mutiara itu akan tetap ada, terlepas dari apakah ada yang berusaha membuka cangkang kerang tempatnya bersemayam atau tidak.

Belajar, belajar, dan belajar, menunjukkan bahwa manusia benar-benar makhluk yang memiliki banyak kelemahan dalam dirinya. Dan proses ini belum akan berhenti sampai ajal menjelang, dan maut datang menjemput. Saat itulah kita baru dapat menunjukkan dan mengatakan “Inilah kita, kita yang seutuhnya, kita yang sesungguhnya”. (EA)*