ENCIKEFFENDYNEWS.com     –      Hari ini kita bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76, diproklamirkan oleh proklamator kita atas nama bangsa Indonesia Soekarno – Hatta. 76 tahun kalau dilihat usia sudah masuk lansia, sudah matang dalam pengalaman-pengalaman kehidupan, tentu bangsa ini lebih dewasa dalam mengelola kehidupan dalam makna kemerdekaan. Tapi usia 76 tahun ini tidak bisa dikiyaskan dengan usia kita manusia, kalau manusia dikelola oleh Sang Pencipta sedangkan bangsa ini dikelola oleh kita manusia. Kalau kita manusia sudah diprogram dalam Komputer Canggih (baca: lauhul mahfudz) sang Programmer Al-Khaliq rabbul alamien dan tidak ada virus dan pergantian program dengan keyakinan kita Qadha dan qadar, jelas tanpa perubahan. Sedangkan negara diprogram oleh kita manusia sang Presiden yang programnya sering berganti-ganti bahkan kadang-kadang banyak perubahannya yang kita sedikit kurang mengerti (baca: ganti presiden ganti keinginan). Maka usia dalam bernegara tidak bisa disamakan dengan usia manusia. Mungkin usia 76 tahun ini masih bayi yang perlu dibantu dengan hutang sana-sini, atau masih dalam bahasa diplomatik sering disebut “develoving countries” (baca : negara berkembang) yang dipermainkan oleh para senior (baca : develoved countries), negara yang sudah maju.

Tapi tidak mengapa, apapun yang terjadi Indonesia is my country, I love you, and Dirgahayu ke-76, Republik Indonesia Merdeka. Syabas !

Semoga pemerintahan dari masa ke masa  dapat mengantarkan Indonesia ke pintu Gerbang kesejahtraan bagi rakyatnya dan Indonesia dikenal sebagai negara “untaian dari nirwana” memberikan kesejukan dalam hidup berbangsa yang dalam untaian lagu Nusantara 4 “ tiada lagi negeri seindah Nusantara “ memberikan tuntunan dan dinamika kehidupan “ hutan rimba menghijau tempat bersemayam burung marga-satwa, penduduknya ramah tamah dan berbudi Bahasa “ itulah salah satu bait dari lagu “nusantara” itu, selalu menebarkan kesejukan dan kebahagiaan dengan politik LN bebas aktifnya, semoga Indonesia dengan ke-76 tahun ini, sedikit lebih dewasa, lebih berwibawa di mata Internasional dan di mata warganya sendiri. Dirgahayu ke-76 Bangsaku, jadilah bangsa besar yang bermartabat insya Allah. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com     –      Husnul Khatimah dalam khasanah kita adalah mengakhiri kehidupan/perpisahan jasmani & rohani yakni orang yang dapat mengucap “laa ilaaha illallaah” kalimat tauhid selalu menjadi SOP utama dalam kehidupan.

Tapi istilah ini terus berkembang, bukan lagi bermakna akhir dari kehidupan manusia,  juga seluruh aspek kehidupan kita. Jabatan menjadi “top leader” suatu instansi, daerah, perusahaan dan lain-lain di penghujungnya diperiksa KPK dan menghuni hotel kelas I tahanan. Maka kita harus dapat menjadi seluruh aktivitas kita bernilai “husnul khatimah”. Banyak berita dan realita kejadian ini berakhir dengan “su-ul khatimah”(lawan dari husnul khatimah).  Maka kalau kita runut permainan – pekerjaan – jabatan – hingga mengakhiri kehidupan  kita dengan husnul khatimah.

Maka kita dengar ada kepala sekolah yang “su-ul khatimah”, juga GM hotel, ketua RT/RW, Lurah, Camat, Bupati / walikota, Gubernur dan para Menteri berakhir su-ul khatimah. Mari kita berusaha mengakhiri seluruh jabatan kita ðengan “husnul khatimah”, aamiin. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com.     –      Maut  atau  kematian adalah sebuah misteri yang terjadi pada setiap makhluk, lebih-lebih lagi kita manusia. Manusia berharap mengakhiri kehidupan dunia ini “husnul khatimah” yakni akhir hidup yang baik. Islam memberikan sebuah metode ikhtiyari “tajdidul iman” yakni selalu memperbaharui iman, dengan mengucap “laa ilaaha illallaah” siapa yang bisa diantara kita menjelang sakarat mengucapkan kalimat tauhid itu, tidak ada ganjaran baginya, kecuali “syurga”. Oleh sebab itu pada saat sakarat diisyaratkan Rasul saw untuk ditalqinkan, yakni dibimbing dengan kalimat tauhid itu.

               Hari ini hampir disetiap rumah sakit, kalau sakarat dokternya sibuk dengan pertolongan yang luar biasa dengan berbagai perangkat alat kedokterannya berusaha maksimal memberikan pertolongan kepada pasiennya, pertolongan pisik dan tidak terpikir memberikan pertolongan “spiritual” kepada pasiennya. Oleh sebab itu banyak pasien yang memilih apabila sudah dirasa dekat dengan ilmu spiritualnya dia memilih untuk mengakhiri perpisahan jasadi dan rohi “ di rumah saja” biar dapat dibimbing oleh keluarga /talqin untuk mengingatkan, agar dia bisa melafalkan “laailaaha illallaah”.

“Kullu nafsin dza-iqatul maut” setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian, dan kematian seperti sebuah pintu yang mesti dilewati, mudah-mudahan dengan banyak mengingat entitas kematian menyadarkan kita makna kehidupan ini, sekaligus berusaha maksimal menebarkan nilai-nilai kebajikan dalam hidupnya sebagai sangu di kehidupan yang akan datang, semoga ! (EA)*