ENCIKEFFENDYNEWS.com     –     Dalam ajaran kerohanian Islam, hati diibaratkan “cermin”. Sebagai cermin, hati adalah alat untuk mengenali diri sendiri. Hati itu ada 2 (dua) macam, ada yang bersih dan terang serta ada pula yang kotor dan gelap. Menurut Imam al-Ghazali, kualitas hati, bersih atau kotor, terang atau gelap sangat bergantung dan ditentukan oleh prilaku manusia itu sendiri. Dikatakan, jika ia cinta agama dan suka berbuat kebajikan, maka hatinya bersih dan terang. Semakin ia suka berbuat kebaikan, hatinya semakin terang dan bertambah terang, bahkan berkilau-kilau (yatala’la’). Dalam keadaan demikian, hati dapat menangkap dengan baik sinyal- sinyal ketuhanan (Tajalliyyat al-Ilahiyyah) dan dapat mencapai ma’rifah dengan sempurna.

Sebaliknya, bila ia suka berbuat dosa dan keburukan, maka hatinya buram dan gelap. Dosa-dosa itu ibarat kepulan asap yang menghitam dan menutupi hati. Setiap kali orang berbuat dosa, maka timbul noktah hitam di hatinya. Semakin sering ia berbuat dosa, maka semakin banyak pula noktah hitam sampai akhirnya menutupi seluruh hatinya. Dalam keadaan demikian hati menjadi hitam pekat dan gelap.

Sebagai cermin diri, hati perlu dibersihkan dari dosa-dosa dengan tobat. Tobat membuat hati menjadi bersih dan terang kembali, meskipun tidak seterang hati orang yang selalu menjaga diri dari dosa-dosa dan maksiat. Selanjutnya, hati perlu banyak berdzikir dan mengingat Allah. Bagi kaum sufi, dzikir adalah pintu ma’rifah, sedangkan ma’rifah adalah pintu kebahagiaan. Semoga kita masih punya waktu untuk becermin dan membersihkan cermin kita, sehingga kita bisa mengenali dengan baik kerut-kerut dan borok-borok yang ada di ”wajah” kita. Wallahu a’lam. (EA)*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation