ENCIKEFFENDYNEWS.com
Tujuan utama sebagian besar umat manusia kini adalah meraih kesuksesan duniawi tanpa mempedulikan dari sumber manapun datangnya.

Hati, lidah dan seluruh anggota tubuh mereka sibuk siang malam mencari kepentingan duniawi. Karena urusan duniawi itulah seseorang mendurhakai kedua orangtuanya dan memutuskan hubungan persaudaraan meskipun dengan saudara kandungnya.

Karena urusan duniawi pula, seseorang ribut dengan tetangganya dan orang-orang yang memiliki kaitan dengannya. Urusan dan kepentingan duniawi juga menyebabkan umat manusia kini hidup dalam kegelisahan, ketakutan dan ancaman malapetaka.

Kepentingan duniawi itu kini telah melenakan manusia dari mengingat Sang Maha Pencipta dan Maha Pemberi rezeki. Apabila mereka shalat, jasad jasmaninya hadir, tetapi hatinya hanyut dalam urusan dan kepentingan duniawi.

Sebagai contoh nyata kunjungilah pengadilan-pengadilan, Anda akan menyaksikan keganjilan dan keanehan perilaku manusia. Penyebab yang paling utama ialah cinta dunia yang berlebih-lebihan sehingga mereka terjerumus dan hanyut ke dalamnya.

ENCIKEFFENDYNEWS.com
Suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba- tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum.

Kemudian orang Arab badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab badui ini. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahan ku!”

Rasulullah menjawab, ”Sewaktu ada seorang Arab badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.”

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang buruk pula. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”



ENCIKEFFENDYNEWS.com

Khalifah Umar bin Khattab melantik Atbah bin Ghazwan sebagai panglima perang pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Persia. Sebelum berangkat ke medan perang, Khalifah Umar memberikan pesan, ”Senantiasalah menjaga ketakwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan jika memberi keputusan. Kerjakan shalat pada waktu yang ditentukan dan berzikirlah (memuji) kepada Allah sebanyak-banyaknya dan selalu.”

Suatu ketika seorang tawanan Romawi dapat meloloskan diri. Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan pasukan Islam supaya seluruh kehidupan mereka tampak jelas di hadapannya. Tawanan ini menerangkan, ”Pasukan Islam adalah ahli ibadah waktu malam dan seorang ksatria siang harinya.”

Heraklius mempunyai jumlah tentara yang sangat banyak, sedangkan jumlah orang-orang Islam sangat terbatas. Panglima perang Islam Amr bin al-‘As memberi tahu Khalifah Abu Bakar Siddiq mengenai keadaan tersebut. Sebagai jawabannya, Abu Bakar menulis, ”Kalian orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kalian dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kalian terlibat di dalam dosa-dosa.”
Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, ”Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?”
Mereka menjawab, ”Ya!”
”Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?”
”Kamilah yang lebih banyak jumlahnya di manapun kami saling berhadapan.”
”Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?”

Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, ”Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran, dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzinah, melakukan hal-hal terlarang, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, dan berbuat kerusakan di bumi.”

Kisah di atas membawa pesan penting kepada umat Islam masa kini dan masa mendatang, bahwa umat kuat bukan karena senjata, bukan karena jumlah orang, melainkan karena ketaatan menjalankan ajaran agama. Umat akan kuat manakala menaati perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebaliknya, umat Islam akan rapuh, mudah ditaklukkan musuh, dan dihinakan, jika mereka mudah berbuat dosa, mengabaikan perintah dan larangan Allah serta Rasul-Nya. Umat Islam akan rapuh dan mudah dipecah-belah bila mengabaikan ajaran agama untuk bersatu padu, merasa satu nasib dan satu perjuangan.

Kejayaan Islam dan syiarnya menyebar ke berbagai penjuru dunia merupakan hasil perjuangan umat Islam terdahulu. Jumlah mereka sedikit, namun memiliki kualitas iman dan amal yang baik, sehingga Allah SWT menurunkan pertolongan dan memberikan kekuatan kepada mereka. ”Jika kalian menolong (agama) Allah maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.”(QS Muhammad: 7). Wallahu a’lam.