ENCIKEFFENDYNEWS.com

Suatu hari Ibnu Abbas RA sedang iktikaf di Masjid Rasulullah SAW. Kemudian masuk seorang laki-laki dan menghampirinya. Ibnu Abbas bertanya, ”Hai Fulan, aku melihat kamu murung sekali. Apa yang terjadi padamu?” Orang itu menjawab, ”Benar, wahai putra paman Rasulullah. Saya mempunyai kewajiban kepada seseorang yang harus saya penuhi (mungkin utang), tetapi demi Allah, saya belum sanggup memenuhinya.”

Ibnu Abbas menawarkan pertolongan, ”Bolehkah saya menemui orang yang dimaksud untuk menyelesaikan urusanmu dengannya?” Dia menjawab, ”Silakan jika Anda berkenan. Tetapi, apakah karena ingin menolong saya lantas Anda hendak meninggalkan iktikaf?”

Ketika itu Ibnu Abbas berlinang air mata, lalu berkata, ”Masih terngiang di telingaku, penghuni kubur ini (yakni Rasulullah yang dimakamkan di sisi Masjid Nabawi) bersabda, ‘Barangsiapa berjalan memenuhi keperluan saudaranya dan menyampaikan keinginannya, maka itu lebih besar (pahalanya) daripada iktikaf di masjid selama 10 tahun, sedangkan orang yang iktikaf satu hari untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan jadikan penghalang antara ia dan neraka tiga parit yang jauhnya lebih dari dua ufuk Timur dan Barat’.” (HR Al Baihaqi).

Dalam Islam, hubungan manusia sebagai makhluk dengan Al-Khaliq (Allah Maha Pencipta) diatur pelaksanaannya melalui hukum ibadah, khususnya ibadah mahdhah yang telah ditentukan bentuk, cara, dan waktunya. Sedangkan hubungan antara manusia dan sesamanya diatur melalui hukum muamalat yang ruang lingkupnya lebih luas karena berpatokan pada kemaslahatan.

Pada kedua tataran hubungan tersebut terdapat muatan nilai ibadah yang sama pentingnya, yakni ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah sosial. Ibadah sosial, seperti menolong orang yang dalam kesulitan, meringankan derita sesama, memberantas kemungkaran dan kezaliman di dalam masyarakat, dan sebagainya, mendapat ganjaran pahala yang setara dengan ibadah ritual. Menurut sebuah hadis, ”Barang siapa bangun di waktu pagi dan berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam, maka baginya ganjaran seperti haji mabrur.” (HR Ibnu Hajar al-Asqalani).

Dalam hadis lain, ”Membantu mengangkat beban orang yang lemah mendatangkan pahala sama seperti pahala shalat, dan menyingkirkan gangguan dari jalan umum mendatangkan pahala seperti pahala orang yang menunaikan shalat.” (HR Khuzaimah).

Alquran dan hadis menegaskan tentang orang-orang yang tidak mau memberi makan orang miskin, enggan memberi pertolongan, tidak baik dengan tetangga, memutuskan silaturahim, merampas hak orang lain, dianggap tidak beriman dan mendustakan agama.

Untuk menjadi seorang Muslim yang baik, kita harus memahami makna pelaksanaan ibadah dalam konteks hablum minallah dan hablum minannaas. Pada kondisi tertentu, malahan ibadah sosial memiliki keutamaan dibanding ibadah ritual. Wallahu a’lam bishawab.

ENCUKEFFENDYNEWS.com

Salah satu ayat yang menjelaskan tentang keberadaan Allah dan pentingnya berdoa dijelaskan dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah ibadah puasa. Firman tersebut adalah, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2: 186).

Ini menunjukkan bahwa Allah dekat dengan setiap hamba-hamba-Nya dan Allah akan mengabulkan doa dari setiap hamba-hamba-Nya, terlebih-lebih pada bulan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan keterangan Rasulullah bahwa salah satu doa yang dikabulkan Allah adalah doa orang-orang yang berpuasa.
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW menegaskan, ”Inilah (Ramadhan) bulan yang ketika engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doa dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah, Rabb-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.” Karenanya, pada sisa Ramadhan ini, mari kita senantiasa terus bermohon dan berdoa kepada Allah. Salah satu doa yang Rasulullah ajarkan adalah, ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari golongan mereka yang empat macam itu.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Doa di atas merupakan doa yang merepresentasikan sifat atau keadaan yang mungkin dialami oleh setiap manusia. Hati yang tidak khusyuk dapat menyebabkan setiap ibadah yang dijalani tidak memberikan dampak pada kondisi keimanan kita. Ruh atau makna dari ibadah yang dilaksanakan tidak dapat diraih atau dipahami. Akibatnya, ibadah yang dilaksanakan hanya bernilai sekadar ritual dan di sisi Allah pun dapat menyebabkan tidak memiliki nilai ibadah.

Allah mencontohkan dalam firman-Nya bahwa shalat yang tidak khusyuk akan mengantarkan seseorang kepada siksa. Allah SWT berfirman, ”Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS 107: 4 – 7). Sebaliknya, khusyuk dalam beribadah merupakan salah satu tanda orang-orang beriman (perhatikan QS 23: 1-2).

Doa yang tidak didengar Allah merupakan kerugian bagi manusia. Doa yang tidak didengar, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (QS 2: 186) di atas, salah satunya disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan kepada Allah. Selain itu, doa yang tidak didengar bisa juga disebabkan oleh ketidakkhusyukan dalam berdoa.

Jiwa yang tidak puas menyebabkan kesengsaraan di dunia yang berkepanjangan. Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat menyebabkan ilmu yang diperoleh tidak berguna bagi dirinya dan tidak membawa kebaikan baginya. Uraian di atas menunjukkan betapa banyak keburukan yang diakibatkan oleh keempat golongan sifat di atas. Karenanya, mari kita berdoa agar kita terhindar dari keempat golongan orang tersebut. Wallahu a’lam bis-shawab.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

PEDOMAN PENULISAN KTIQ

  1. Pilihlah Thema terlebih dahulu, kemudian tentukan judul yang menarik dan up date.
  2. Prinsip penulisan :
  • Objektif, logis, empiris, lugas, jelas dan konsisten.
  • Rasional, kritis & reserved
  • Pengutipan sumber jelas disertai Daftar Pustaka.
  • 3. Struktur penulisan :
  • Pendahuluan //tapi cendrung tidak ditulis biasanya di awali dengan kutipan Al-Qur’an
  • Pembahasan/ Isi //juga tidak termaktub tapi bahasan/kupasan jelas meliputi ;
  • Al-Qur’an bil Qur’an
  • Al-Qur’an bil Hadits
  • Al-Qur’an bil Ijma’
  • Al-Qur’an bil Qiyas
  • Hal-hal update yang terjadi
  • Bir-Ra’yi
  • Kesimpulan // cendrung tidak tulis
    Kesimpulan bukanlah khulashah dari tulisan tapi merupakan pendapat dan hal yang
    dianggap penting penulis.
  • Penutup. // cenderung tidak ditulis
  • Referensi / Daftar Pustaka
    KETENTUAN LAIN :

  • Judul tulisan mengacu kepada 2 (dua) thema besar : ( tahun 2022 )
  1. Moderasi Beragama
  2. Pemberdayaan Ekonomi Umat
  • Waktu pembuatan tulisan selama 9 (Sembilan) jam, termasuk ishoma
  • Alat yang dipakai laptop yang dibawa oleh peserta / dengan terlebih dahulu diperiksa
    panitia/DH
  • Panjang tulisan antara 10 -15 halaman kuarto dengan spasi 1,5
  • Jenis font times new roman atau yang lainnya
  • Size font : 12
  • Kertas A4
  • Tatacara ukuran penulisan di kertas sebagaimana tulisan ilmiah.

  • PENILAIAN KTIQ
  1. Bobot Materi :
    a. Relevansi judul dengan thema
    b. Bobot & kebaruan gagasan
    c. Eksplorasi kandungan Al-Qur’an
    d. Keluasan wawasan
    e. Kekayaan referensi
  2. Kaidah & Gaya Bahasa :
    a. Ketepatan tata Bahasa
    b. Ketepatan tanda baca
    c. Ketepatan ragam Bahasa
    d. Pilihan kata (diksi) dan ungkapan.
  3. Logika dan Organisasi :
    a. Keteraturan berpikir (coherence and consistence)
    b. Mutu berpikir
    c. Sistematika gagasan
    d. Alur tulisan
Bersama Prof. Dr. Asep Saepul Muhtadi
(Pencetus MMQ)

PRESENTASI / BABAK FINAL

a. Kualitas paparan
b. Kualitas jawaban
c. Etika & kematangan Emosi

SELAMAT MENULIS