ENCIKEFFENDYNEWS.com

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, ‘untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?’
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, ‘Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.’ Agak lama pemburu menunggu.

Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburu pun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, ‘Rusa!!!’ sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

***
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Peserta final musabaqah KTIQ (Selasa/15/03) dilaksanakan Auditarium lantai 2 Poltek Negeri Batam dilaksanakan cukup meriah, bersaing antar satu daan lain, memberikan warna sendiri terhadap lomba ini. Alhamdulillah, Batam tahun ini pesertanya cukup ramai hampir mewakili seluruh kecamatan yang ada di kota ini.

Persantese ini hanya sebagai uji coba mental peserta dalam memberikan sedikit pandangan terhadap tulisan/makalah yang ditulis sekaligus melihat mentalitas yang mempunyai nilai tambah hanya 20% persen yang tidak begitu berarti dalam bobot penilaian KTIQ.

Dalam perlombaan ini peserta bukan kelincahan dalam mempersantasekan, tapi yang menentukan kualitas tulisan dan tujuan sebenar dalam KTIQ agar melahirkan penulis-penulis yang berbobot dalam memaparkan isi kandungan al-Qur’an. Berbeda dengan pertandingan Syarhil Qur’an, mereka harus piawai dalam menuturkan/syarah dari makna al-Qur’an deengan lisan. Inilah perbedaan antara KTIQ dengan Syarhil Qur’an, masing-masing mempunyai bidang Garapan masing-masing.

Syabas ! musabaqah KTIQ tampil dengan cukup memberikan nilai tersendiri dalam perlombaan kali ini dan tahniah kepada para finalis dan ini pertanda kemajuan tersendiri diperlombaan ini. (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com

 MAKNA SEORANG SAHABAT     Beberapa malam terakhir aku tidak bisa memejamkan mataku. Hatiku rasanya tak menentu. Sendiri dalam keheningan malam, membuatku semakin merasa kecil, tak bermakna dalam kehidupan ini. Tapi rasanya ada sebongkah batu yang menyesakkan dadaku.

Kuambil air wudlu, ku bersujud, ku bersimpuh di hadapan Yang Maha Agung, Yang memiliki segalanya, Yang menguasai semua yang ada di dunia ini. “Adukanlah semuanya pada Allah, Dia yang akan menyelesaikan segalanya”, itu yang selalu dikatakan oleh sahabatku.

Sahabat, selalu hadir saat kita butuh pertolongan. Memang seharusnya “Cukuplah Allah sebagai penolongmu”, tapi mungkin karena ibadah kita kurang sehingga kita kurang dekat dengan Allah, maka Allah tidak langsung memberikan pertolonganNya. Atau terlalu banyak dosa yang kita perbuat, sehingga Allah menangguhkan pertolonganNya.

Pada sahabatlah tempat kita berkeluh kesah, tempat kita berbagi. Mungkin melalui sahabat pula pertolongan Allah itu selalu datang. Cinta sahabat tanpa pamrih, begitu tulus dan murni.

Kubayangkan wajah-wajah sahabat sejak kecil dulu. Berganti tempat, berganti tahun, sahabatku pun silih berganti. Banyak sekali, tapi dimanakah mereka kini? Mereka telah sibuk dengan dunianya masing-masing.

Saat ini aku benar-benar membutuhkan kehadiran sahabatku. Aku ingin mengeluarkan bongkahan batu dalam hatiku. Tapi dia telah jauh. Kadang ada kesalahfahaman yang menjauhkan kami. Karena sahabat juga adalah manusia, yang tak luput dari khilaf dan dosa. Sedih sekali rasanya jika ada kesalahfahaman, sedih jika harus kehilangan sahabat. Tak ada lagi tempat berbagi, tak ada lagi tempat berkeluh kesah. Tak ada yang mau mendengarkan sisi buruk kehidupan sekalipun.

Kembalilah sahabatku, aku akan berusaha menuliskan semua salah dan khilafmu di atas pasir. Sehingga jika angin datang berhembus, tulisan itu akan lenyap, hilang tak berbekas. Dan aku pun telah menulis semua kebaikanmu di atas batu. Sehingga semua kebaikanmu tetap terpahat dan tak kan hilang dimakan waktu.

Sahabat……….tetaplah menjadi bagian dari hidupku, tetaplah menjadi jalan pertolongan Allah untukku.