ENCIKEFFENDYNEWS.com

Lebah madu (Apis Indica, Apis millifera) termasuk makhluk kecil yang dijadikan symbol kebaikan oleh Allah dalam Al-qur’an. Salah satu surat dalam Al-qur’an dinamai Surah Lebah (An-Nahl). Bahkan Nabi Muhammad juga menjadikannya sebagai symbol sifat-sifat orang yang beriman.

              Berikut ini adalah beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari lebah. Pertama, dalam memilih makanan, lebah hanya memilihnya yang baik, yaitu saripati (nectar) dari bunga (An-Nahl:69). Untuk mendapat satu  kilogram madu, lebah harus terbang sekitar 50.000 kali dan harus menghisap jutaan bunga agar terkumpul nektarnya.

              Contoh ini menunjukkan betapa kerja keras harus ditempuh lebah untuk mendapatkan makanan yang baik. Sementara kita tahu bahwa makhluk yang namanya manusia, seringkali dengan sadar memilih makanan dan minuman, yang bukan saja merusak tubuhnya, tapi juga mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak terpuji dan tercela alias tidak halal.

              Kedua, tatkala hinggap di bunga dan menghisap nektarnya, kehadiran lebah bukan saja tidak merusak bunga, akan tetapi justru membantu bunga melakukan proses pembuahan (simbiose mutualisme). Padahal banyak manusia dalam mencari sesuap nasi bukan saja mengorbankan lingkungan, akan tetapi juga memakan korban manusia lainnya (kanibalisme modern).

              Ketiga, lebah hanya mengeluarkan sesuatu yang baik, yaitu madu. Madu tersebut bukan saja dapat dijadikan makanan oleh manusia, akan tetapi juga sekaligus dapat dijadikan obat (An-Nahl:69).

              Alangkah terpujinya apabila manusia mengikuti sifat lebah yang seperti ini. Betul, bahwa sebagian besar yang dikeluarkan oleh tubuh manusia (baik organ tubuh bagian atas ataupun bagian bawah) adalah kotoran, namun ada bagian tubuh manusia yang dapat mengeluarkan sesuatu yang bermanfaat ataupun sesuatu yang tercela, yaitu lisannya. Seperti halnya lebah, maka lisan orang yang beriman diharapkan hanyalah mengeluarkan sesuatu yang benar dan sekaligus bermanfaat (qaulan syadiid).

              Keempat, bahwa lebah itu mempunyai ciri pantang diusik. Sekali diusik, ia akan mempertaruhkan bukan saja kehormatannya, tetapi juga mempertaruhkan hidup dan matinya (sekali lebah menyengat, itu berarti ia mempertaruhkan hidupnya, karena sengatannya adalah sekaligus nyawanya).

              Demikian pula hendaknya sikap hidup orang beriman. Betul bahwa orang beriman tidak mencari-cari musuh dan tidak ingin mengusik kehidupan orang lain, namun sekali kehormatannya diusik, sekali agamanya direndahkan, maka orang beriman akan mempertaruhkan nyawanya demi harga diri dan agamanya. Lebih baik hidup berkalang tanah daripada hidup dalam kehinaan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Dalam kitabnya yang masyhur Ihya ‘Ulumuddin, Imam Al Ghazali mengisahkan bahwa Sahal bin Abdullah al Tusturi berkata, “Ketika aku masih berusia tiga tahun, aku pernah bangun malam. Ketika itu aku melihat pamanku, Muhammad bin Siwar, tengah melakukan shalat.”

              Pada suatu hari, ia berkata kepadaku,”Apakah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?” Aku  menjawab, “Bagaimana aku mengingatNya? Ia berkata, “Ucapkanlah dengan hatimu ketika engkau berbolak-balik ditempat tidurmu sebanyak 3x tanpa menggerakkan lisamu, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.”

              Aku melakukannya selama beberapa malam, lalu aku melaporkannya kepada pamanku. Ia kemudian berkata, “Ucapkanlah itu sebanyak 7x setiap malam.” Aku melakukan hal itu dan kemudian menceritakan padanya. Lalu ia menyuruhku untuk memperbanyak bilangannya menjadi 11x pada setiap malam. Aku lalu mengucapkannya, sehingga aku merasakan manisnya ucapan itu dalam hatiku.”

              Selang satu tahun pamanku berkata kepadaku,”Hafalkanlah apa yang telah kuajarkan kepadamu, biasakanlah mengucapkannya sampai engkau masuk kubur. Karena perbuatan ini akan bermanfaat bagimu dunia dan akhirat.”

              Sahal melanjutkan ceritanya,”Untuk beberapa tahun lamanya aku selalu membiasakan diri mengucapkannya, hinggaaku merasakan manisnya perbuatan itu di dalam kalbuku.” Kemudian pada suatuhari, pamanku berkata lagi padaku,”Hai Sahal, sesungguhnya orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat dan disaksikanNya tidaklah akan berbuat maksiat kepadaNya. Maka jauhilah perbuatan maksiat.”

              Cara Muhammad bin Siwar mendidik keponakannya ini sungguh bernilai tinggi. Ketika keponakannya masih balita, beliau  memberi keteladanan secara nyata, sehingga tidaklah Sahal terbangun pada malam hari selain mendapatkan pamannya tengah khusyu menegakkan shalat.

              Lisannya pun demikian bermutu, sehingga petuahnya merupakan petuah yang amat mulia. Demikian mulianya keteladanan dan nasihat yang diberikannya, sehingga mampu menerangi pribadi Sahal dari balita yang masih polos hingga tumbuh menjadi pemuda yang shaleh dan berilmu. Bukankah tak ada warisan dan wasiat yang lebih bermanfaat dan menenangkan jiwa bagi orangtua kecuali keimanan dan ilmu yang akan terus mendekatkan diri anaknya kepaa Robbnya?

              Sementara para masa kini semakin banyak orangtua yang lupa menjadikan dirinya sebagai contoh, terutama dalam hal menjadikan Allah sebagai pengawas utama perilaku sehari-hari. Rasa takut yang diajarkan pertama adalah rasa takut kepada orang tua, hantu dan binatang. Cinta utama yang diajarkannya sejak awal adalah cinta kepada manusia. Sebaliknya, rasa khouf (takut) dan hubb (cinta) kepada Allah merupakan suatu perasaan langka dan bahkan aneh ditelinga anak-anak.

              Alangkah indahnya, jika didalam hati para balita kita sejak dini sudah tertanam kalimat, “aku tidak mau melakukan ini karena Allah bakal tidak ridho padaku, Allah bakal tak sayang padaku.” Pribadi seperti ini dapat dipastikan akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang disebut Allah Ulil Albab, yang akan selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring (Surat Ali Imran: 191). Jika sudah terbentuk pribadi yang demikian, lewat jalan mana lagi setan akan membisikannya? Wallahu a’lam bisshowwab.

ENCIKEFFENDYNEWS.COM

Abu Rayhan Bairuni, seorang fisikawan yang hidup pada abad ke 4 Hijriah, banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu. Suatu ketika, saat ia menjelang ajalnya, seorang ahli fikih, sahabatnya, menjenguknya. Bagi bairuni, ini merupakan kesempatan yang baik untuk menanyakan tentang berbagai masalah hukum. Ahli fikih itu terkejut dan berkata,”Saya pikir saat ini bukan waktunya Anda bertanya dan membahas ilmu pengetahuan.”Bairuni langsung menjawabnya, “Anda salah, saya berpikir akan lebih baik sekiranya saya mengetahui masalah ini kemudian meninggal dunia, daripada saya tak mengetahuinya lalu meninggal.”

              Ilmu pengetahuan adalah “makanan” rohani kita. Di samping memikirkan keperluan jasmani, sebaiknya kita juga harus berpikir tentang makanan rohani dan spiritualnya. Imam Hasan, cucu Nabi Muhammad Saw berkata, “Aku merasa heran dengan sekelompok orang yang hanya sibuk memikirkan apa yang harus ia makan namun sama sekali tidak berpikir tentang ilmu yang harus dia miliki.”

              Islam mewajibkan kepada umatnya baik pria maupun wanita, untuk menuntut dan mencari ilmu pengetahuan. Kata Nabi Saw, “mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim”.

              Kalau kewajiban agama, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, selalu dikaitkan dengan waktu dan mensyaratkan kedewasaan, namun mencari pengetahuan wajib sejak manusia dilahirkan sampai dia mati. “Belajarlah dari buaian hingga ke liang lahat,”sabda Nabi Saw. Menurut prinsip ini, seorang Muslim harus terus belajar sepanjang hayatnya dan menambah ilmu pengetahuannya setiap saat.

              Di dalam Al-qur’an banyak perintah untuk mempelajari dan mengadakan perenungan tentang rahasia-rahasia penciptaan alam, watak manusia, sejarah, hukum, dan seterusnya. Sejarah Islam juga mencatat, ketika beberapa orang kafir ditawan dalam perang Badar, Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk membebaskan mereka dengan tebusan. Namun, beberapa tawanan yang bisa membaca dan menulis mendapatkan perkecualian. Bagi mereka, tebusannya adalah mengajarkan ilmu kepada pemuda-pemuda Islam.

              Perhatian Islam pada ilmu, juga bisa dilihat dalam masalah jihad, dalam arti berperang di jalan agama. Bagi orang Islam yang sedang mempelajari ilmu, mereka dibebaskan dari kewajiban itu.(QS. At-Taubah: 122). Tentang tingginya kedudukan orang yang menuntut ilmu ini, Allah swt berfirman, “Katakanlah! Adakah sama orang-orang  yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya, orang-orang bijak sajalah yang bisa menerima pelajaran.”(QS. Al-Zumar: 9).

              Menurut sejumlah ahli tafsir, ilmu yang disebutkan dalam Al-qur’an itu bukan hanya dimaksudkan hanya ilmu agama, tapi juga mencakup berbagai disiplin ilmu yang dapat memberikan sumbangan bagi peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Sayid Sabiq, seorang ulama Mesir menyatakan, “Islam mengagungkan ilmu, mencarinya sebagai ibadah, belajarnya sebagai tasbih, menelitinya sebagai ijtihad, dan mengajarkannya kepada orang lain sebagai sedekah.”