ENCIKEFFENDYNEWS.com
perbuatan yang paling disukai Allah & Rasul
b.e.r.d.a.k.w.a.h
harta yang paling
menguntungkan adalah sabar
teman yang paling waspada adalah diam
bahasa yang paling manis adalah senyum dan
ibadah yang paling indah
adalah ikhlas
ENCIKEFFENDYNEWS.com
perbuatan yang paling disukai Allah & Rasul
b.e.r.d.a.k.w.a.h
harta yang paling
menguntungkan adalah sabar
teman yang paling waspada adalah diam
bahasa yang paling manis adalah senyum dan
ibadah yang paling indah
adalah ikhlas
ENCIKEFFENDYNEWS.com
Ibadah dalam Islam merupakan sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Fungsi ibadah itu sendiri mengandung nilai tarbiyah yang sangat mendasar bagi para pelakunya. Hal ini dapat kita lihat dari tujuan ibadah, untuk pendidikan dan membersihkan ruh serta jiwa. Dengan riyadhah seperti itu, diharapkan potensi kebaikan yang tertanam dalam diri akan tampak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Misalnya ibadah shalat yang menurut Al-qur’an adalah untuk mencegah (kamu) dari sikap dan melakukan perbuatan-perbuatan hina dan tercela (Al-Ankabut 45). Artinya shalat yang dilakukan selama mushalli (pelaku shalat) belum atau tidak dapat mencegah terhadap kemungkaran, pelakunya dapat dikategorikan belum mendirikan shalat.
Begitu pula dengan ibadah puasa. Bilamana setelah kita menjalankan ibadah ini di bulan Ramadhan, tapi setelah itu kualitas amal dan akhlak kita tidak meningkat ke arah kebaikan, maka hakikat ibadah puasa kita perlu dipertanyakan. Begitupun ibadah haji. Kualitas rohani dan jiwa kita seharusnya lebih tinggi dibandingkan sebelum kita menunaikan ibadah ini. Indicator haji mabrur adalah grafik amal salehnya meningkat terus pada pasca penunaian ibadah haji.
Jenis ibadah yang terakhir ini terkandung nilai universalitas Islam, dan sangat kentara dibandingkan dengan dua jenis ibadah lainnya. Seluruh umat manusia baik yang ada di timur maupun di barat berkumpul menjadi satu jama’ah besar bersimpuh di rumah Allah (Baitullah), dengan mengenang dan mengagungkan syiar-syiar-Nya (Al-Baqarah 158).
Di balik nilai universalisme ibadah haji ini, terdapat nilai kesatuan dan persatuan yang sangat kental. Ibadah ini sebagai konferesi umat Islam sedunia, tempat sah apabila berbagai problema umat Islam dibicarakan dan dibahas, sebagai aktualisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Rasulullah telah memberikan suri tauladan yang baik dalam implementasi ibadah haji. Misalnya kewajiban menghormati darah dan kehormatan seseorang (hak asasi manusia), perhatian terhadap system ekonomi yang menindas dan tidak adil, berbicara hak-hak perempuan, dan berpesan kepada kaum mukmin untuk melindungi dan menghormati mereka. Inilah sebagian khutbah Nabi pada waktu melakukan Haji Wada’ (haji perpisahan) pada tahun 10 Hijriah.
Di dalam rukun-rukun haji juga sangat sarat dengan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga. Contohnya menanggalkan kemaksiatan, sikap riya’ (suka pamer), kemunafikan, dan shubhat. Di samping itu, juga menciptakan kesatuan dan persatuan umat Islam, dengan saling menghormati hak-hak orang lain. Semoga dengan hadirnya berbagai dimensi dalam ibadah haji ini, jamaah haji menjadi haji-haji yang mabrur.
ENCIKEFFENDYNEWS.com
Menjelang para calon haji berangkat ke Tanah Suci, biasanya kita lepas mereka dengan doa semoga menjadi haji mabrur (haji yang diterima Allah). Sebab dengan memperoleh martabat haji mabrur, segala pengorbanan dan biaya yang dikeluarkan akan dibayar berlipat ganda oleh Allah Swt, antara lain dengan surge yang penuh kenikmatan. Sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi Saw, “Bagi haji mabrur tak ada balasan yang setimpal kecuali surga.”
Namun sepatutnya kita perhatikan pula segi-segi yang pahit dari perjalanan haji. Terutama jika tidak menyandang niat semata-mata karena Allah. Semua kesulitan yang mereka alami akan sia-sia belaka. Bahkan bukan martabat haji mabrur yang mereka peroleh, melainkan haji mardud, yaitu ibadah yang ditolak oleh Allah Swt.
Kata Nabi Muhammad Saw, :Sayakti ‘ala ummati zamanun, yahijju aghniya-u ummati li an-nuzhati, wa aushathuhum littijarati, waqurra-uhum lissum ‘ati wa riya-I, wa fuqara-uhum li masalati (akan datang suatu zaman menimpa umatku, kaum hartawan pergi haji untuk bertamasya, kaum menengah pergi haji untuk mencari keuntungan, kaum penggede pergi haji untuk gengsi, dan kaum miskin pergi haji untuk meminta-minta).
Barangkali menghindari kesia-siaan itulah yang harus lebih intens dibenahi, setelah Alhamdulillah penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih teratur dibandingkan masa-masa lalu. Dan tugas itu layak dipikul oleh para ulama dan pembimbing haji, dalam arti factor keikhlasan hendaknya ditanamkan sejak dini. Bukankah Allah Swt sendiri selalu mengingatkan agar dalam menunaikan Rukun Islam kelima itu umat senantiasa melandasinya dengan niat “hanya untuk Allah Ta’ala”. (QS2:196)
Hal-hal di atas menjadi penting kita perhatikan, mengingat potensi para haji kita diakui vital untuk ikut mempelopori uapya-upaya positif menuju terciptanya umat Islam yang sadar agama. Gambaran masyarakat awam bahwa haji merupakan kelompok yang jauh lebih baik ketimbang yang bukan haji, tak dapat dikesampingkan tanpa peduli. Gambaran itu seharusnya mewujud dalam kiprah keseharian dan kemasyarakatan jemaah haji, khususnya sesudah ada wadah IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) dan kumpulan-kumpulan kehajian lainnya.
Semua itu takkan terlaksana apabila jamaah haji terdiri dari haji-haji mardud, yang menjalankan ibadah dengan niat yang tidak tulus. Untuk itu, jika kemampuan dibidang materi dan lain-lain sudah bukan masalah lagi, seyogyanya setiap orang yang akan berangkat haji menyeleksi diri untuk lebih menekankan keikhlasan dan kesungguhan beribadah dalam memenuhi panggilan Allah.
Allah berfirman,” Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah hajiku, hidupku, dan matiku, semata-mata untuk Allah penguasa alam semesta.” (QS 6:163).