PEDOMAN KTIQ
ENCIKEFFENDYNEWS.com
PEDOMAN PENULISAN KTIQ
A. Pilihlah Thema terlebih dahulu, kemudian tentukan judul yang menarik dan up date.
B. Prinsip penulisan :
a. Objektif, logis, empiris, lugas, jelas dan konsisten.
b. Rasional, kritis & reserved
c. Pengutipan sumber jelas disertai Daftar Pustaka.
C. Struktur penulisan :
a. Pendahuluan //tapi cendrung tidak ditulis biasanya di awali dengan kutipan Al-Qur’an
b. Pembahasan/ Isi //juga tidak termaktub tapi bahasan/kupasan jelas meliputi ;

  1. Al-Qur’an bil Qur’an
  2. Al-Qur’an bil Hadits
  3. Al-Qur’an bil Ijma’
  4. Al-Qur’an bil Qiyas
  5. Hal-hal update yang terjadi
  6. Bir-Ra’yi
    c. Kesimpulan // cendrung tidak tulis
    Kesimpulan bukanlah khulashah dari tulisan tapi merupakan pendapat dan hal yang
    dianggap penting penulis.
    d. Penutup. // cenderung tidak ditulis
    e. Referensi / Daftar Pustaka
  1. KETENTUAN LAIN :
    A. BJudul tulisan mengacu kepada 2 (dua) thema besar : ( tahun 2022 )
  2. Moderasi Beragama
  3. Pemberdayaan Ekonomi Umat
    B. Waktu pembuatan tulisan selama 9 (Sembilan) jam, termasuk ishoma
    C. Alat yang dipakai laptop yang dibawa oleh peserta / dengan terlebih dahulu diperiksa panitia/DH
    D. Panjang tulisan antara 10 -15 halaman kuarto dengan spasi 1,5
    E. Jenis font times new roman atau yang lainnya
    F. Size font : 12
    G. Kertas A4
    H. Tatacara ukuran penulisan di kertas sebagaimana tulisan ilmiah.
  1. PENILAIAN KTIQ
  2. Bobot Materi :
    a. Relevansi judul dengan thema
    b. Bobot & kebaruan gagasan
    c. Eksplorasi kandungan Al-Qur’an
    d. Keluasan wawasan
    e. Kekayaan referensi
  3. Kaidah & Gaya Bahasa :
    a. Ketepatan tata Bahasa
    b. Ketepatan tanda baca
    c. Ketepatan ragam Bahasa
    d. Pilihan kata (diksi) dan ungkapan.
  4. Logika dan Organisasi :
    a. Keteraturan berpikir (coherence and consistence)
    b. Mutu berpikir
    c. Sistematika gagasan
    d. Alur tulisan

PRESENTASI / BABAK FINAL

a. Kualitas paparan
b. Kualitas jawaban
c. Etika & kematangan Emosi


Bersama Prof. Dr. Asep Saepul Muhtadi
(Pencetus MMQ)

 ENCIKEFFENDYNEWS.com

Rasulullah SAW bersabda, ”Perbaruilah imanmu.” Ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?” Beliau menjawab, ”Perbanyaklah dengan mengucapkan laa ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah).” (HR Ahmad).

Di hadis lain, Nabi menyatakan iman seseorang bisa usang, sebagaimana pakaian. ”Maka, mohonlah kepada Allah Taala untuk memperbarui iman yang ada di hatimu.” (HR Thabraani dan Al Hakiim).

Demikianlah, seperangkat panduan pembaruan (tajdid). Bahwa, kekuatan iman dapat naik-turun sehingga kita kadang gagal menghadapi ujian, apakah berupa kenikmatan atau kesulitan. Relasi iman dengan sikap dan tindakan sehari-hari juga bisa tak jernih lagi sehingga tidak konsisten menjalani kehidupan dengan berbasis petunjuk Allah semata. Kecemerlangan iman juga bisa memudar hingga kian sulit mencerahkan kehidupan, apalagi menyebarkan rahmat ke seantero alam. Ketika iman memudar, apalagi rusak dan sesat, mustahil mampu mencerahkan umat dan semua manusia.

Pembaruan iman memang disebutkan dengan memperbanyak dzikir (tahlil). Namun, yang dimaksud tidaklah sebatas menggerakkan bibir menggemakan keyakinan dan kenyataan bahwa tiada yang disembah dan patut disembah, selain Allah. Memperbanyak tahlil bermakna memperbanyak perenungan dan pemahaman bahwa tiada tuhan selain Allah dalam soal ibadah, pemikiran dan perasaan, hubungan pribadi, keluarga, makanan dan minuman, akhlak, pemerintahan, perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan semua aspek kehidupan lainnya.

Bagaimanapun, tanpa memperkuat pemahaman akan sumber-sumber Islam, maka kondisi keimanan dan pengamalan kita akan stagnan, bahkan bisa jadi hari ini lebih buruk dari kemarin. Hanya dengan terus menambah ilmu-ilmu keislaman, maka iman akan menguat. Semangat beramal pun meningkat, selain juga karena lebih memahami mana-mana yang harus dilakukan dan ditinggalkan. Memperbanyak tahlil juga berarti memperbanyak amalan-amalan yang sepenuhnya didasari tauhid. Sebab, ucapan berelasi erat dengan amalan, sebagaimana firman-Nya, ”Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff, 61: 3).

Adalah tidak pantas, bahkan disebut munafik, bila rajin bertahlil, namun tidak menghindarkan diri dari perbuatan syirik atau bid’ah dalam ibadah. Tajdid baru terjadi jika jumlah dan kualitas amal kita yang lurus dan ikhlas bertambah setiap hari. Selain itu, mencegah menghambakan diri dan mengikuti segala hal dari orang dan sistem apa pun selain yang diturunkan Allah, apakah itu kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme-komunisme, dan segala turunannya.

Bagaimanapun, orang-orang yang mengikuti apa pun kehendak selain Allah pada hakikatnya telah menuhankannya, sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani disebut menyembah pemuka dan rahib mereka karena mematuhi ajarannya meski mengajak kemaksiatan (lihat tafsir QS At-Taubah, 9: 31).

Akhirnya, tanpa berdoa dan ridha Allah, mustahil melakukan tajdid setiap hari di setiap detik kehidupan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Suatu hari Ibnu Abbas RA sedang iktikaf di Masjid Rasulullah SAW. Kemudian masuk seorang laki-laki dan menghampirinya. Ibnu Abbas bertanya, ”Hai Fulan, aku melihat kamu murung sekali. Apa yang terjadi padamu?” Orang itu menjawab, ”Benar, wahai putra paman Rasulullah. Saya mempunyai kewajiban kepada seseorang yang harus saya penuhi (mungkin utang), tetapi demi Allah, saya belum sanggup memenuhinya.”

Ibnu Abbas menawarkan pertolongan, ”Bolehkah saya menemui orang yang dimaksud untuk menyelesaikan urusanmu dengannya?” Dia menjawab, ”Silakan jika Anda berkenan. Tetapi, apakah karena ingin menolong saya lantas Anda hendak meninggalkan iktikaf?”

Ketika itu Ibnu Abbas berlinang air mata, lalu berkata, ”Masih terngiang di telingaku, penghuni kubur ini (yakni Rasulullah yang dimakamkan di sisi Masjid Nabawi) bersabda, ‘Barangsiapa berjalan memenuhi keperluan saudaranya dan menyampaikan keinginannya, maka itu lebih besar (pahalanya) daripada iktikaf di masjid selama 10 tahun, sedangkan orang yang iktikaf satu hari untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan jadikan penghalang antara ia dan neraka tiga parit yang jauhnya lebih dari dua ufuk Timur dan Barat’.” (HR Al Baihaqi).

Dalam Islam, hubungan manusia sebagai makhluk dengan Al-Khaliq (Allah Maha Pencipta) diatur pelaksanaannya melalui hukum ibadah, khususnya ibadah mahdhah yang telah ditentukan bentuk, cara, dan waktunya. Sedangkan hubungan antara manusia dan sesamanya diatur melalui hukum muamalat yang ruang lingkupnya lebih luas karena berpatokan pada kemaslahatan.

Pada kedua tataran hubungan tersebut terdapat muatan nilai ibadah yang sama pentingnya, yakni ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah sosial. Ibadah sosial, seperti menolong orang yang dalam kesulitan, meringankan derita sesama, memberantas kemungkaran dan kezaliman di dalam masyarakat, dan sebagainya, mendapat ganjaran pahala yang setara dengan ibadah ritual. Menurut sebuah hadis, ”Barang siapa bangun di waktu pagi dan berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam, maka baginya ganjaran seperti haji mabrur.” (HR Ibnu Hajar al-Asqalani).

Dalam hadis lain, ”Membantu mengangkat beban orang yang lemah mendatangkan pahala sama seperti pahala shalat, dan menyingkirkan gangguan dari jalan umum mendatangkan pahala seperti pahala orang yang menunaikan shalat.” (HR Khuzaimah).

Alquran dan hadis menegaskan tentang orang-orang yang tidak mau memberi makan orang miskin, enggan memberi pertolongan, tidak baik dengan tetangga, memutuskan silaturahim, merampas hak orang lain, dianggap tidak beriman dan mendustakan agama.

Untuk menjadi seorang Muslim yang baik, kita harus memahami makna pelaksanaan ibadah dalam konteks hablum minallah dan hablum minannaas. Pada kondisi tertentu, malahan ibadah sosial memiliki keutamaan dibanding ibadah ritual. Wallahu a’lam bishawab.