KRITERIA  AMAL ENCIKEFFENDYNEWS.com Secara umum ajaran agama dapat dibagi menjadi dua: al-awamir (perintah-perintah) dan an-nawahi (larangan-larangan). Kemudian para pakar hukum Islam membagi perintah-perintah itu ke dalam dua kategori, yaitu kategori wajib (al-mafrudhat) dan sunah (al-nawafil). Larangan-larangan juga dibagi dua, yaitu haram dan makruh. Di luar itu, perbuatan manusia dikembalikan pada hukum dasar, yaitu mubah alias boleh-boleh saja.

Agama pada hakikatnya adalah jalan atau perjalanan menuju Allah SWT. Untuk sampai kepada Allah di ujung perjalanan, manusia haruslah menempuh jalan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT itu sendiri, yaitu syariah. Persoalannya, ada orang yang benar-benar mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dan berusaha agar senantiasa berada di jalan-Nya. Sebaliknya, ada orang yang hanya mengaku-ngaku berada di jalan Allah dan merasa dekat dengan-Nya. Padahal, ia jauh dari petunjuk Tuhan dan menyimpang dari jalan-Nya.

Oleh sebab itu, perlu dibuat kriteria atau semacam timbangan sebagai dasar penilaian. Imam Ghazali dalam buku Mizan al-‘Amal menyampaikan dua kriteria dasar sebagai pedoman penilaian. Pertama, kriteria syariah (Alquran dan Sunah). Bagi Ghazali, semua perbuatan manusia, besar maupun kecil, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, harus ditimbang dengan timbangan syariah, karena tidak mungkin seseorang bisa sampai kepada Tuhan dan menggapai ridha-Nya tanpa melalui jalan-Nya (syariat).

Kedua, kriteria kesadaran ketuhanan (khudhur al-qalb ma’a Allah). Kesadaran ini mengandung makna bahwa orang menyadari benar bahwa Allah senantiasa menyertai hidupnya dan mengawasi semua aktivitasnya. Kesadaran ini, dengan sendirinya, membuat seseorang selalu ingat kepada Allah baik di kala sepi maupun di tengah-tengah keramaian. Kesadaran ini merupakan pangkal kebaikan dan pangkal keluhuran budi pekerti. Inilah makna sabda Rasulullah SAW, ”Seseorang tidak akan mencuri atau melakukan tindak kejahatan sedangkan ia mukmin (menyadari kehadiran Tuhan).” (HR Muslim).

Kriteria yang kedua ini merupakan kriteria yang bersifat batin (rohani). Hal ini karena agama pada hakikatnya adalah sikap batin atau komitmen manusia untuk tunduk dan patuh kepada Allah secara total, lahir dan batin. Tanpa sikap batin ini, perilaku lahiriyah belumlah merupakan hal yang sejati dalam agama. Bahkan bisa dipastikan, tanpa sikap batin yang kuat, pengamalan agama sehari-hari tidak mungkin memberikan dampak positif baik secara moral maupun sosial.

Jadi, dua kriteria ini, lahir dan batin, syariat dan hakikat, harus dibangun secara integral dalam kehidupan agama. Penekanan pada salah satunya, seperti dikatakan Imam Malik, hanya akan menimbulkan kepincangan. Katanya, ”Barangsiapa mendalami fiqih (syariat) tetapi tidak bertasawuf, maka ia sungguh telah menjadi fasik. Dan, siapa yang bertasawuf tanpa mengerti syariat Islam, maka ia sungguh telah menjadi kafir zindik. Siapa yang mampu menggabungkan keduanya, sungguh ia telah memperoleh kebenaran yang sejati.” Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Syawal merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam. Di bulan ini, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Bulan Syawal juga satu-satunya bulan dalam kalender Islam yang dianjurkan untuk berpuasa sunah, khususnya puasa 6 hari pertama bulan Syawal.

Pada bulan inilah Allah menganugerahkan perayaan Idul Fitri. Peringatan ini dianggap sebagai ganjaran Allah atas keberhasilan menyelesaikan Ramadhan. Puasa selama enam hari di bulan  Syawal adalah keutamaan yang sangat besar bagi umat Islam. Puasa di bulan Syawal juga mengkompensasi kekurangan yang mungkin dilakukan seseorang selama puasa Ramadhan.

Di bulan Syawal, dianjurkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Pada bulan ini, kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di sisi Allah SWT. Syawal juga merupakan bulan pembuktian nilai-nilai ketakwaan. 

Mengenal bulan Syawal

Syawal adalah bulan ke 10 dalam kalender Islam setelah bulan suci Ramadhan. Hari pertama di bulan Syawal dirayakan sebagai Idul Fitri. ‘Syawal’—berasal dari kata Arab Syawaal yang berarti ‘dibesarkan’. Syawal berarti naik atau meninggi.

Pada bulan Syawal ini, kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di sisi Allah SWT karena telah melewati bulan ujian dan ibadah selama Ramadan. Diyakini, penamaan Syawal diberikan untuk menandakan waktu tahun di mana unta betina akan mengandung bayinya. Ini merupakan simbol kehidupan baru dan pembaruan setelah sebulan pembersihan spiritual.

Syawal adalah bulan pertama dari tiga bulan (sebelum bulan Dzulhijjah) di mana beberapa amalan haji dapat dimulai. Periode haji juga dimulai pada bulan Syawal, yang disebut juga dengan Asyhur Al-Hajj atau bulan-bulan haji.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Setelah Ramadhan kita akhiri, bukan berarti berakhir sudah suasana ketaqwaan kepada Allah swt, tapi justeru tugas berat kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt, karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.

Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak hingga Ramadhan tahun yang akan datang.

Pertama, tidak gampang berbuat dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Dengan demikian, jangan sampai dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang dalam beberapa waktu kemudian. Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah swt, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٤٠

 “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit[540] dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum[541]. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS.Al-A’raaf: 40)

Kedua nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selama beribadah Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia dengan sebab kekeliruan yang kita lakukan. Secara harfiyah, Ramadhan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah bisa membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya, seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.

Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah swt, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya, Allah swt berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”(QS.Al-Isra’: 36).