ENCIKEFFENDYNEWS.com

Di negeri kita, perubahan besar segera terjadi dan kita rasakan di bulan Ramadhan. Tiba-tiba suasana menjadi lebih relijius. Tiba-tiba iklim agamis menyelimuti masyarakat kita. Bahkan sampai pada acara TV dan iklan. Bahkan sampai pada artis dan selebritis yang mendadak berjilbab.

Di masyarakat, pengajian menjadi marak. Kebaikan menjadi mendominasi, dan kemaksiatan terusir pergi. Seakan-akan kondisi ini menggambarkan hadits Rasulullah SAW:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila telah masuk bulan Ramadhan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan pun terbelenggu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Iklim agamis ini, akankah kembali menjadi sekedar rutinitas saja; hanya berlaku satu bulan saat Ramadhan kemudian nantinya ia akan berganti, kembali seperti bulan-bulan sebelum Ramadhan tiba? Kita mungkin tidak bisa memaksa orang lain atau menuntut masyarakat kita secara makro untuk mempertahankannya. Namun, kita sebagai pribadi bisa memulainya dengan mengubah dan memperbaiki diri kita. Ibda’ binafsik. Mulailah dari dirimu.

Iklim agamis pada bulan Ramadhan ini, sesungguhya adalah momentum yang tepat bagi kita untuk membuat hidup kita berubah, menuju Islam yang kaffah. Ramadhan menghadirkan suasana yang kondusif bagi kita untuk lebih dekat kepada Allah dan mengamalkan Islam lebih dalam, tinggal bagaimana hal itu kita optimalkan, kita jaga dan kita kembangkan di luar Ramadhan nanti. Ramadhan, adalah kesempatan emas bagi kita untuk berupaya menerapkan Islam kaffah.

Islam kaffah, yang artinya adalah ber-Islam secara total, tidak setengah-setengah, merupakan perintah dari Allah SWT. Seorang Mukmin diseru Allah untuk mengarah ke sana.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 208)

Masuk Islam secara kaffah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah masuk Islam secara keseluruhan. Menyeluruh, bukan setengah-setengah. Ibnu Abbas menuturkan bahwa asbabun nuzul QS. Al Baqarah ayat 208 ini terkait dengan Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, mantan Yahudi yang telah masuk Islam. Mereka telah beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan syariat Islam yang dibawa beliau, akan tetapi tetap mempertahankan keyakinan mereka kepada sebagian syariat Nabi Musa AS. Misalnya, mereka tetap menghormati dan mengagungkan hari Sabtu serta membenci daging dan susu unta. Hal ini telah diingkari oleh shahabat-shahabat Rasulullah SAW lainnya. Abdulah bin Salam dan kawan-kawannya berkata kepada Nabi SAW, “Sesungguhnya Taurat adalah kitabullah. Maka biarkanlah kami mengamalkannya”. Setelah itu, turunlah firman Allah tersebut.

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa lafadz kaaffah adalah sebagai haal (penjelasan keadaan) dari lafadz “al-silmi” atau dari dhamir “mu’minin”. Sedangkan pengertian kaaffah adalah jamii’an (menyeluruh) atau ‘aamatan (umum). Bila kedudukan lafadz kaaffah sebagai haal dari lafadz “al-silmi” maka tafsir dari ayat tersebut adalah Allah SWT menuntut orang-orang yang masuk Islam untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, tanpa memilih maupun memilah sebagian hukum Islam untuk tidak diamalkan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 

‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (tulis baca), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS.Al-‘Alaq: 1-5)

Mengapa Iqra’ yang menjadi perintah pertama yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, padahal beliau tidak pandai membaca dan menulis? Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti “menghimpun”, sehingga tidak selalu harus diartikan dengan membaca teks tertulis dengan aksra tertentu. Dari kata “menghimpun” lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menela’ah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik itu teks yang tertulis ataupun  yang tidak tertulis.

Iqra’ berarti “bacalah”. Tetapi apa yang harus dibaca? “Maa aqra’?” tanya Nabi saw. – dalam satu riwayat – setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintahkan membaca oleh Malaikat Jibrial as. Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah SWT menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan itu “Bismi Rabbika” dalam arti yang bermanfa’at untuk kemanusiaan.

Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, baca sejarah manusia dan diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Alhasil obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya. Demikian terpadu dalam perintah ini, yang mencakup segala macam cara yang mungkin dapat ditempuh oleh manusia untuk meningkatkan kemampuannya.

Pengulangan perintah membaca yang menurut riwayat sampai tiga kali berturut-turut dalam wahyu pertama tersebut bukanlah sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali dengan mengulang-ulangi membacanya, tetapi juga mengisyaratkan bahwa dengan mengulang-ulang membacanya akan menghasilkan pengetahuan, pemahaman dan wawasan baru, walaupun yang dibaca itu-itu juga.

Mengulang-ulang membaca ayat-ayat al-Qur’an akan memperluas pemahaman, menimbulkan penafsiran baru, mengembangkan gagasan, dan akan menambah kesucian jiwa serta ketenteraman batin. Demikian juga dengan berulang-ulang “membaca” alam raya, akan membuka tabir berbagai rahasia alam, memperluas wawasan, serta menemukan berbagai penemuan yang berguna untuk mensejahterakan manusia.

Ayat-ayat al-Qur’an yang kita baca dewasa ini tidak berbeda sedikitpun dengan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah saw dan generasi terdahulu, demikian juga alam semesta raya ini. Namun demikian, pemahaman, wawasannya, penemuan rahasianya dan sebagainya terus berkembang. Dan itulah pesan yang terkandung dalam “Iqra’ wa Rabbukal akrom”, “bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah”. Dan atas kemurahan Allah SWT, semakin terbukalah wawasan dan rahasia  isi dari al-Qur’an dan alam semesta untuk tercapainya keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.

Sungguh, perintah membaca merupakan perintah yang sangat penting dan berharga untuk perkembangan dan kemajuan manusia itu sendiri. Justru itu setiap umat wajib wajib dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Sungguh tidak pantas sama sekali jika kitab yang menjadi pegangan dan pedoman hidup umat islam itu, justru ada umatnya yang tidak tahu membacanya. Oleh karena itu, bagi yang masih belum bisa membacanya, maka Ramadhan ini dapat dijadikan momentum untuk mempelajari dan mengkaji al-Qur’an tersebut.

ENCIKEFFENDTNEWS.com

Kedudukan Aqidah Orang Awam Menurut Imam Al-Ghazali

Keimanan adalah cahaya yang Allah anugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki. Keimanan dapat diberikan kepada orang awam dan orang alim. Oleh karena itu, siapa saja yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka ia mendapatkan cahaya tersebut meski ia meyakini rukun iman tanpa memahami materi ilmu kalam atau ilmu aqidah yang mendakik-dakik. Hal ini diisyaratkan dalam Surat Az-Zumar ayat 22 sebagai berikut:

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٖ مِّن رَّبِّهِۦۚ فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ

Artinya, “Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (Surat Az-Zumar ayat 22).

Kewajiban pertama dan mendasar bagi manusia adalah makrifatullah atau mengenal Allah dengan yakin. Keyakinan dalam mengenal Allah dapat terjadi pada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah.   “Kewajiban awal bagi manusia adalah makrifatul ilah atau mengenal tuhan dengan yakin,” (Ibnu Ruslan, Zubad).

Makrifatullah adalah fondasi keberagamaan seseorang. Oleh karena itu, keyakinan itu menjadi penting sebagai dasar pijakan pengamalan beragama yang menjadi turunan aqidah. Secara sederhana, keyakinan dalam makrifatullah adalah mengenal perbedaan sifat Allah dan sifat makhluk. “Kewajiban pertama manusia baligh, aqil, sekalipun budak yang dimaksud terhadap zat-Nya adalah makrifatullah atau mengenal Allah dengan yakin berdasarkan firman Allah ‘Fa‘lam annahū lā ilāha illallāh’ dan ‘wa li ya‘lamū annamā huwa ilāun wāhid.’ Ia (makrifatullah) adalah fondasi atas semua kewajiban karena tanpa makrifat ibadah wajib dan sunnah tidak sah.

Yang dimaksud dengan makrifat adalah mengenal wujud Allah dan apa yang wajib padanya berupa penetapan beberapa sifat dan penafian beberapa sifat lainnya. Ia adalah makrifat imaniyah atau makrifat burhaniyah, bukan jangkauan atau capaian atas inti hakikat (zat Tuhan) karena terlarang secara syar’I dan aqli.” (Ar-Ramli, Ghayatul Bayan, Syarah Zubad bin Ruslan).

Keimanan adalah kepercayaan (tashdiqul qalbi) terhadap kabar yang bersifat dharuri Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT yaitu tauhid kenabian, kebangkitan, pembalasan, kewajiban sembahyang lima waktu, zakat, puasa, dan haji.

Yang dimaksud dengan kepercayaan di sini adalah ketundukan dan penerimaan hati. Ketika kepercayaan itu bersifat ghaib di batin yang tidak dapat kita lihat, maka syariat menjadikannya tampak melalui dua kalimat syahadat. (Ar-Ramli, Ghayatul Bayan, Syarah Zubad bin Ruslan).

Keyakinan dalam makrifatullah merupakan keharusan pertama bagi manusia. Hal ini juga disampaikan oleh Imam Al-Junaid Al-Baghdadi agar manusia menisbahkan keagungan dan kekuasaan kepada yang berhak menerimanya.  “Imam Al-Junaid mengatakan, ‘Hikmah yang pertama kali dibutuhkan hamba adalah makrifat makhluk atas khalik-nya dan makrifat si makhluk bagaimana penciptaan-Nya sehingga ia mengetahui mana sifat khalik dan mana sifat makhluk, mana sifat qadim dan mana sifat muhdats (zat baru) bagaimana ia diciptakan. Ia tunduk pada seruan-Nya dan mengakui kewajiban ketaatan pada-Nya.