ENCIKEFFENDYNEWS.com

Hasanah fiddunya wal aakhirah hanya akan dapat dicapai oleh setiap mukmin dan muslim yang menjalani hidup dan kehidupannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Puasa sebagai salah satu dari rukun Islam yang lima adalah ibadah yang melatih seorang mukmin untuk mencapai sosok mukmin yang ideal, yakni mukmin yang muttaqiin, suatu tingkat atau derajat hamba Allah  yang layak untuk mendapatkan hasanah fiddunya wal aakhirah tersebut. Untuk itulah kita sebagai orang mukmin harus berusaha untuk menata jalan hidup dan kehidupan kita sesuai dengan aturan dan tuntunan Islam, dan untuk membahas hal ini maka judul hikmah Ramadhan kita kali ini adalah “Menata Hidup Bernuansa Islam”.

 Bagaimana kita menata hidup bernuansa Islam? Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam bukunya “Ruhaniatut da’iyah” menjelaskan bahwa kita harus menyadari, mengisi, dan menghiasi kehidupan ini dengan memahami dan mengamalkan lima hal yaitu, mu’aahadah, muraaqabah, muhaasabah, mu’aaqabah dan mujaahadah. Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.            Mu’aahadah.

               Mengingat “ahdullah”, yakni perjanjian dengan Allah di alam arwah. Bahwa  kita  telah berjanji, mengakui dan menyaksikan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ikrar perjanjian ini dinyatakan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya yang berbunyi: ”Dan ingatlah ketika Tuahnmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS.Al-A’raaf:172)

Kontrak tauhid ini dipertegas dengan ikrar bahwa kita hanya akan  menyembah dan memohon pertolongan  kepada-Nya. Penyaksian ini senantiasa kita ulang-ulang minimal 17 kali dalam sehari semalam dalam shalat wajib  lima waktu. “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”, ikrar ini memiliki muatan aqidah, ibadah dan akhlaq.

Bermuatan aqidah, karena ikrar itu menyatakan tiada tuhan lain yang disembah dan dimintai pertolongan selain Allah. Ini membebaskan manusia dari penyembahan dan  cinta yang berlebih-lebihan yang menjurus pemujaan kepada makhluq, kepada diri sendiri dan  materi seperti yang disindir oleh Allah dalam firman-Ny:”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya …..?” (QS.Al-Jaatsiyah : 23)

Bersambung, ……

ENCIKEFFENDYNEWS.COM

Pada zaman ini Lingga mencapai zaman keemasan, sedangkan Almarhum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II adalah anak dari Sultan Abdul Rahman Syah. Beliau diangkat menjadi Sultan tidak disetujui oleh Indra Giri Reteh selama 25 hari dan terkenalah dengan nama pemberontakan Mauhasan. Namun Reteh tunduk kembali dengan Lingga. Sultan ini sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya antara lain :

  • Mengajukan dan menukarkan sawah padi dengan sagu (Rumbia) yang di datangkan dari Borneo Serawak dan membuka industri sagu tahun 1890.
  • Membuka penambangan timah di Singkep dan Kolong-kolong Sultan dengan Mandor yang terkenal npada zaman itu La Abok dan kulinya orang-orang Cina Kek yang menurut ceritanya nama inilah nama Dabo Singkep.

Baginda mangkat pada tanggal 28 Fenruari 1814 dan dimakamkan di Bukit Cengkeh dengan gelar Marhum Keraton yang di dalam kubah. Setelah itu Sultan Muhammad Muazam Syah (1832-1841) Sultan ini sangat gemar dengan seni ukir/Arsitektur, beliau mengambil tukang dari Semarang untuk membangun istana yang disebut Keraton atau Kedaton.

Pada zaman ini seni ukir, tenun, kerajinan, Mas dan perak sudah ada. Pusat kerajinan tenun di Kampung Mentuk, kerajinan Tembaga di kampong Tembaga. Pada zaman beliau juga Bilik 44 dibangun, namun belum sempat di bangun, namun belum sempat siap bertepatan beliau mankat dan pengantinya tidak melanjutkan pembangunan gedung tersebut.

Sultan Abdul Rahman Syah 1812-1832 adalah putra Sultan Mahmud Riayat Syah III beliau terkenal sangat alim dan giat menyebarkan agama islam serta mengemari pakaian Arab. Pada masa pemerintahan beliau, saudaranya Tengku Husin dengan bantuan Inggris dilantik menjadi raja dengan gelar Sultan Husin Syah. Maka pecahlah kerajaan besar Melayu atau emporium Melayu Johor-Riau-Lingga menjadi 2 bagian. Istana Sultan Abdul Rahman Syah terletak di Kampung Pangkalan Kenanga sebelah kanan mudik sungai Daik.

Beliau mangkat malam senin 12 Rabiul awal 1243 Hijriahn (19 Agustus 1832) di Daik, dimakamkan di Bukit Cengkeh bergelar Marhum Bukit Cengkeh. Pada zaman beliau, Mesjid Jamik didirikan atau Mesjid Sultan Lingga, benteng-benteng pertahanan di Mepar, Bukit Cening, Kota Parit (Dibelakang Kantor Bupati Lama) serta Benteng Kuala Daik, Meriam pecah Piring dan Padam Pelita terdapat di mes Pemkab Lingga. Pada zaman beliau memerintah, beliau sering berperang melawan penjajahan Belanda bersama dengan Yang Dipertuan Muda Riau diantarnya Raja Haji Fisabilillah atau bergelar Marhum Ketapang. Beliau mangkat 18 Zulhijah 1226 Hijriah (12 Januari 1912) di Daik di belakang Mesjid dengan Bergelar Marhum Masjid.

Sultan Mahmud Riayat Syah adalah Sultan yang pertama kali di Daik Lingga. Beliau adalah Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga XVI yang memindahkan pusat kerajaan Melayu ke Bintan Hulu Riau ke Daik tahun 1787, dengan istrinya Raja Hamidah (Engku Putri) yang merupakan pemegang Regelia kerajaan Melayu-Riau-Lingga. Pulau penyengat Indra Sakti adalah mas kawinnya dan pulau penyegat tersebut menjadi tempat kedudukan Raja Muda bergelar Yang Dipertuan Muda Lingga yaitu dari darah keturunan Raja Melayu dan Bugis. Pada hari senin pukul 07.20 Wib tahun 1899 beliau mangkat dan dimakamkan di Makam Merah dengan Bergelar Marhum Damnah.

Dan kini Lingga menjadi sebuah kabupaten dengan luas daerah 2.267 km2 dengan penduduk 98.633 jiwa (thn 2020) dengan 13 Kecamatan  7 kelurahan, 82 desa. Berbenah diri dalam menuju dinamika tuntutan hari ini.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Pada tahun 1787 Sultan Mahmud Syah III memindahkan pusat kerajaannya ke Daik Lingga, ini diakibtakan adanya tekanan dari Kompeni Belanda. Walaupun pusat kerajaan berada di Pulau Lingga, wilayah masih meliputi Johor-Pahang dimana daerah tersebut Sultan masih diwakili oleh Datuk Temenggung untuk bagian Johor dan Singapura sedangkan Datuk Bendahara untuk daerah Pahang. Untuk tahun 1795 terjadi perkembangan politik baru di negeri Belanda, dimana kompeni Belanda harus menyerahkan beberapa daerah yang didudukinya ke Inggris. Masa ini disebut juga sebagai masa INTEREGNUM Inggris di Riau.

Tahun 1802 yang dipertuan muda V berada dipengungsian kembali di Lingga pada masa intregnum Inggris ini berlangsung Raja Ali wafat 1795-1816 di pulau Bayan. Tahun 1806 diangkat pula Raja Jakfar menjabat kedudukan sebagai yang dipertuan Muda Riau pada tahun 1806-1813. Raja Jakfar membuat tempat pemerintahannya di kota Rentang di Pulau Penyengat. Pada tahun 1811 Sultan Mahmud III memerintahkan anaknya Tengku Husein (Tengku Long pergi ke Pahang dan menikah disana dengan puteri Tun Khoris atau adik bendahara yang bernama Tun Ali. Semasa Tun Husin (Tengku long ) berada dipahang ayahandanya Sultan Mahmut Syah wafat di Daik Lingga tanggal 12 Januari 1812.

Setelah Sultan Mahmut syah III meninggal dicarilah calon pengantinya. Akhirnya yang dilantik sebagai sultan pengganti yaitu Tengku Abdul Rahman yang disetujui oleh pembesar kerajaan dan dari pihak Belanda. Ini dikuatkan oleh peraturan kerajaan Lingga Riau yang berbunyi Sultan baru harus dilantik sebelum jenazah Sultan yang wafat di kebumikan.

Setelah Tengku Abdul Rahman dilantik tahun 1812 Sultan Abdul Rahman Syah menetap di Lingga. Mulailah Lingga masa itu bertambah ramai karena telah ada tambang timah disingkep. Sedangkan Raja Ja’far menetap di Penyengat ia telah menempatkan orang-orang kepercayaannya di Daik Lingga untuk mendampingi Sultan yaitu Engku Syaid Muhammad Zain Al Qudsi. Suliwatang Ibrahim, sahbandar Muhammad Encik Abdul Manan dan bagian pertahanan dan keamanan adalah Encik Kalok. Tengku Husin tinggal di Lingga, beliau menetap di penyengat.