ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ketiga: jangan biarkan diri ini diam manakala sendirian. Di dalam Islam, tidur pun bisa berarti ibadah. Tapi itu bukan berarti dapat kita terjemahkan bahwa banyak tidur lantas banyak ibadah. A.B. Vajpayee saja, mantan Perdana Menteri India yang Hindu, membatasi tidurnya hanya empat jam sehari. Demikian pula rata-rata pemimpin dunia, sedikit tidur. Kita bisa mengisi waktu sehari-hari ini dengan berbagai kegiatan yang memberikan sumbangan pengetahuan dan keterampilan. Dalam kesendirian, kita bisa jadi seorang peneliti, penulis, hingga pengamat yang handal.

Penatalaksanaan salah satu aspek dari ketiga langkah ini atau kombinasi dari ketiganya, bila dilakukan terus menerus, bukan tidak mungkin akan menjadikan multi-skilled-man. Manusia yang memiliki keterampilan ganda. Tukang kayu merangkap kemampuan reparasi elektronik. Pinter masak tapi juga pandai memotong rambut. Insinyur namun juga pandai dakwah. Ahli kesehatan yang juga pandai menulis, dan lain-lain.

Ringkasnya, kita tidak butuh sederetan gelar ataupun segudang penemuan ilmiah agar dikatakan berhasil dalam hidup ini, karena poin tertinggi manusia di hadapan Allah SWT hanyalah taqwa. Kita bisa ‘besar’ karena telah mampu menemukan potensi yang ada dalam diri kita sendiri. Dari penggalian kompetensi diri insyaallah akan lahir manusia-manusia yang berkualitas, berpotensi tinggi, hingga manusia ahli.

Penggalian potensi diri yang tepat akan membuat setiap individu sadar akan perannya. Setiap pribadi yang cinta kerja, dengan landasi niat ibadah, akan menciptakan tatanan dan pola pikir masyarakat yang sehat. Yang pada akhirnya, insyaallah, bakal mampu mengeliminasi salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa kita selama ini, yakni pengangguran.

Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Setiap tanggal 1 Juni akan diperingati Hari Lahir Pancasila di Indonesia. Lahirnya Pancasila sendiri merupakan judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945 silam. Dalam pidato tersebut, untuk kali pertama konsep dan rumusan awal Pancasila dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara merdeka. Awalnya, pidato ini disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul, sampai akhirnya mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” dari mantan Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Usai menyampaikan pidatonya, isi gagasan dari Soekarno mengenai dasar negara Indonesia diterima oleh para anggota BPUPKI dalam sidang pada 1 Juni 1945. Akhirnya, Pancasila dinyatakan sah dan resmi dijadikan sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada 18 Agustus 1945. Kata Pancasila sendiri diambil dari bahasa sansekerta, di mana Panca berarti lima dan Sila yang berarti dasar atau asas.  Istilah Pancasila sudah dikenal sejak zaman majapahit pada abad ke-14, terdapat dalam buku Negarakertagama karangan Empu Prapanca. Baca juga: Sejarah Perumusan Pancasila: Pembentukan BPUPKI Sejarah Sejarah lahirnya Pancasila berawal pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, di mana Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengadakan sidang pertama untuk membahas dasar negara. Sidang tersebut dilakukan di Gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang sekarang dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada sidang pertama, para anggota masih belum menemukan titik terang mengenai dasar negara Indonesia. Kemudian, pada 1 Juni 1945, Soekarno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya mengenai dasar negara. Gagasan yang disampaikan Soekarno adalah mengenai dasar negara Indonesia merdeka, bernama Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis tersebut diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI. Baca juga: Perbedaan Demokrasi Liberal dan Demokrasi Pancasila Panitia Sembilan Setelah itu, BPUPKI membentuk Panitia Kecil atau Panitia Sembilan yang bertugas untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara berdasarkan pidato Soekarno pada.1 Juni 1945. Anggota Panitia Sembilan adalah: Soekarno- Mohammad Hatta- Mr AA Maramis- Abikoesno Tjokrosoejoso -Abdul Kahar Muzakkir- Agus Salim- Achmad Soebardjo -Wahid Hasjim & Mohammad Yamin . Setelah melalui berbagai proses persidangan, akhirnya rumusan Pancasila berhasi dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah UUD 1945. Akhirnya, Pancasila disahkan dan dinyatakan resmi sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945.



ENCIKEFFENDYNEWS.com

Jika diurut, betapa panjangnya rentetan ketidakmampuan kita, yang bukan disebabkan karena faktor luar. Terlebih, karena ketidaksungguhan diri kita. Hasan al-Banna pernah mengatakan, ‘waktu adalah kehidupan’. Itu berarti, bahwa jika kita hidup, sudah seharusnya kehidupan ini kita ‘isi’. Memanfaatkan waktu dengan kesungguhan dalam melakukan kegiatan adalah kuncinya.

Kenapa negara kita yang kaya raya dan besar ini terpuruk? Dengan Singapura yang luasnya tidak lebih dari Jawa Timur saja kalah. Apalagi dengan negara-negara Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Ini karena orang-orang kita tidak lagi melakukan pekerjaan dengan kesungguhan. Menteri Pariwisata kita beberapa waktu lalu dalam seminar di Bali, jadi bahan olokan peserta hanya karena tidak becus berbahasa Inggris. Di Nusa Tenggara Barat dan Timur kasus busung lapar merajalela, padahal tanah air kita terkenal subur. Dulu orang Malaysia belajar di pesantren-pesantren kita. Kini, pendidikan kita, dilirik saja tidak. Awal Juni tahun ini, rombongan Malaysia mempromosikan pendidikannya di Dubai dan Pakistan. Ahli pendidikan kita, akan melawat kemana?

Marilah kita mulai dari yang sederhana saja. Rasulullah SAW pernah bersabda, jika segala sesuatu tidak ditangani oleh ahlinya, tunggulah kehancurannya. Maka dari itu, kita bisa belajar dari yang kecil.

Pertama: kita coba mengidentifikasi potensi dan kemampuan diri sendiri serta memanfaatkannya dengan maksimal. Mengidentifikasi kemampuan diri berarti refleksi diri, melihat kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Kita coba berkaca, apa kemampuan yang nampak menonjol pada diri kita, apakah itu di bidang mesin, kesehatan, administrasi, teknik, pertukangan, perhotelan, perdagangan, elektronik, komunikasi, dan lain-lain. Jika langkah pertama ini tidak tercapai, lakukan langkah kedua.

Kedua: kita perluas hubungan. Membatasi pergaulan berarti menghambat perkembangan potensi. Rasulullah SAW selalu bersama dengan sahabat-sahabat beliau jika kemana-mana pergi. Demikian pula sahabat-sahabat beliau. Menjalin hubungan dengan orang lain berarti membuka pintu potensi baru yang selama ini tertutup. Kita tidak pernah tahu bagaimana nikmatnya bisa berbicara bahasa Arab atau Inggris kalau kita tidak bertemu langsung dengan pembicara aslinya. Kita tidak akan tahu bagaimana mengoperasikan telepon genggam jika kita tidak pernah kenal dengan orang yang mampu menggunakannya. Bila langkah kedua ini tidak berhasil, karena barangkali kita tergolong introvert (tertutup), lakukan langkah ketiga.

bersambung,…