ENCIKEFFENDYNEWS.com

Setelah Ramadhan kita akhiri, bukan berarti berakhir sudah suasana ketaqwaan kepada Allah swt, tapi justeru tugas berat kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt, karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.

Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak hingga Ramadhan tahun yang akan datang.

Pertama, tidak gampang berbuat dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Dengan demikian, jangan sampai dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang dalam beberapa waktu kemudian. Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah swt, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٤٠

 “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit[540] dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum[541]. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS.Al-A’raaf: 40)

Kedua nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selama beribadah Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia dengan sebab kekeliruan yang kita lakukan. Secara harfiyah, Ramadhan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah bisa membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya, seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.

Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah swt, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya, Allah swt berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”(QS.Al-Isra’: 36).

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Tidak terasa Ramadhan 1443 H akan berlalu, dan Idul Fitri pun bakal segera dirayakan menandai selesainya ibadah puasa kita tahun ini. Memang ada dua hal ynag kontradiktif yang berkecamuk di hati orang yang beriman menghadapi saat-saat berakhirnya Ramadhan. Di satu sisi ada rasa kegembiraan karena telah hampir menyelesaikan kewajiban berpuasa yang diperintahkan Allah SWT namun di sudut hati yang lain ada rasa sedih dan haru berbaur dengan kekhawatiran, apakah masih akan bertemu kembali dengan bulan yang mulia ini di tahun yang akan datang? Ataukah ini Ramadhan terakhir yang kita temui karena maut keburu datang menjemput?

Mungkin pada sebagian orang akan menganggap datang dan perginya Ramadhan adalah hal yang biasa-biasa saja sebagaimana datang dan perginya bulan-bulan yang lain, tetapi bagi orang yang beriman yang mengetahui benar akan kelebihan dan keistimewaan bulan Ramadhan, perpisahan ini adalah hal yang berat sebab ia tidak tahu apakah masih berkesempatan bertemu lagi. Wahai betapa bahagianya, andaikan semua bulan dalam setahuh itu Ramadhan semuanya, sehingga dapatlah lebih banyak memperoleh pahala berlipat ganda dari amal shaleh yang dikerjakan.

Inilah yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya:”Lau ta’lamu ummatiy maa fii ramadhaana latamannau an-takuuna-ssanatu kulluhaa ramadhaana lianna-lhasanatu fiihi mujtami’atun wa liththaa’atan maqbuulatun wa-dda’awaati mustajaabatun wa-ldzdzunuuba maghfuurotun wa-ljannata mustaaqatun lahum”,. Artinya:”Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar semua tahun itu menjadi bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya semua kebaikan berkumpul di bulan Ramadhan, keta’atan diterima oleh Allah SWT), segala do’a dikabulkan, segala dosa diampuni dan surga merindukan mereka”.

Selama bulan Ramadhan, seandainya umat islam telah melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keta’atan dan kepatuhan, maka insya Allah, kehidupan dirinya baik secara fisik jasmaniah maupun mental rohaniahnya akan selalu memantulkan nilai-nilai yang Islami. Secara fisik, ibadah puasa telah membentuk tubuhnya sehat dan kuat, dan secara batiniah, jiwanya bertambah teguh, memiliki daya tahan dan daya juang serta disiplin yang tinggi, disamping juga jiwa yang lembut, kesabaran yang tangguh, dan juga semangat hidup yang tinggi, serta bermacam-macam kelebihan lainnya yang mengangkat derajat manusia Muslim menjadi orang yang muttaqin, yakni orang yang baik dan memancarkan kebaikan kepada apa dan siapa saja dalam lingkungan hidupnya. Ibarat pejuang yang pulang dari medan jihad dengan penuh kemenangan, demikianlah layaknya setiap Muslim yang sudah berhasil menempa dirinya selama bulan Ramadhan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Bangun kembali ekonomi umat dengan menyalurkan zakat fitrah lebih awal, bantu saudara prasejahtera penuhi pangan mereka!“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau saw memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR Bukhari- Muslim)

Setelah Ramadhan, lalu apa?

Sahabat, selain untuk mensucikan diri setelah menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan, saatnya kita sempurnakan iman dengan menunaikan zakat fitrah. Hal ini sebagai bentuk kepedulian, membagi rasa bahagia dan kemenangan saat Idhul Fitri terhadap saudara Muslim Prasejahtera.

Qadarullah, Ramadhan tahun ini pun masih diuji dengan pandemi yang belum usai. Sehingga sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang semakin sulit setiap harinya. Beras sebagai bahan pangan pokok sangat dibutuhkan saudara-saudara Muslim Prasejahtera. Oleh karena itu, tahun ini zakat fitrah kita di awal bulan akan jadi penyelamat bagi saudara sebangsa.


Selain itu, zakat fitrah wajib ditunaikan bagi setiap jiwa, dengan syarat beragama Islam, hidup pada saat bulan Ramadhan, dan memiliki kelebihan rejeki atau kebutuhan pokok untuk malam dan Idul Fitri. Besarannya adalah beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa.

Syekh Yusuf Qaradawi membolehkan zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk uang yang setara dengan 1 sha’ gandum, kurma atau beras. Nominal zakat fitrah yang ditunaikan dalam bentuk uang, menyesuaikan dengan harga beras yang dikonsumsi.

Yuk,  dengan menunaikan zakat fitrah selain menyucikan harta kita juga berikhtiar untuk membangun kembali ekonomi umat. Berikan bekal pangan saudara prasejahtera kita biar bersama kita Bahagia menikmati suasana hari raya, semoga !