ENCIKEFFENDYNEWS.com

Ucapan ibarat dua sisi dari sebilah pisau. Dengan ucapan, seseorang bisa menjadi mulia dan dihargai. Dengan ucapan pula, ia bisa menjadi hina dan dibenci. Pendek kata, ucapan yang dikeluarkan seseorang akan menentukan nilainya di mata orang lain. Sebuah kata hikmah menyatakan, ”Keselamatan manusia terletak pada penjagaan terhadap lisannya.”

Sebagai agama yang bertujuan memuliakan manusia, Islam memerintahkan setiap manusia selalu membiasakan ucapan yang baik. Artinya, setiap ucapan yang dikeluarkan hendaknya selalu mengandung unsur kebaikan dan kemaslahatan. Dalam Alquran, Allah berfirman, ”Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki pula kepada jalan Allah yang terpuji.” (QS 22: 24).
Dalam Islam, ucapan yang baik bukan sekadar kata-kata dari mulut, tapi juga bentuk sedekah yang bermanfaat untuk keharmonisan hidup bermasyarakat dan kemaslahatan di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda, ”…. Dan ucapan yang mulia itu adalah sedekah.” (HR Bukhari Muslim).

Ucapan yang baik juga merupakan ciri hamba-hamba Allah yang saleh yang nanti akan mendapatkan martabat yang tinggi di surga. Ucapan yang baik adalah salah satu syarat meraih kenikmatan surga yang abadi.

Allah berfirman, ”Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS 25: 63).

Rasulullah SAW menegaskan, ucapan yang baik mempunyai nilai yang sama dengan amal saleh lain yang bersifat materi. Beliau bersabda, ”Jagalah diri kamu sekalian dari siksa neraka walaupun hanya dengan memberikan sebutir kurma. Maka, barang siapa yang tidak mampu, hendaklah ia menggantinya dengan ucapan yang mulia.” (HR Bukhari Muslim).

Kebiasaan mengucapkan kata-kata yang baik, sejatinya menjadi karakter setiap manusia. Ucapan yang baik adalah perwujudan rasa syukur kepada Allah atas nikmat pancaindera yang telah dianugerahkan. Realitas kehidupan masyarakat menunjukkan bahwa konflik, sengketa, dan problematika sosial lainnya tidak sedikit yang terjadi akibat ucapan-ucapan yang melanggar etika dan kesopanan.

Ini membuktikan bahwa ucapan yang baik penting untuk dibudayakan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ucapan yang baik bukan hanya monopoli kegiatan-kegiatan yang bersifat religius. Ucapan yang baik juga harus dikedepankan dalam menyampaikan gagasan atau pendapat, menuntut hak, bermusyawarah, bahkan dalam berdemonstrasi.

Bagi seorang mukmin, ucapan yang baik adalah media untuk mengajak orang lain mengabdi kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan berserah diri kepada-Nya. Itulah sebaik-baik ucapan dalam pandangan Allah. Allah berfirman, ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri’?” (QS 41: 33). Wallahu a’lam.

ENCIKEFENDYNEWS.com

Salah satu ayat yang menjelaskan tentang keberadaan Allah dan pentingnya berdoa dijelaskan dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah ibadah puasa. Firman tersebut adalah, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2: 186).

Ini menunjukkan bahwa Allah dekat dengan setiap hamba-hamba-Nya dan Allah akan mengabulkan doa dari setiap hamba-hamba-Nya, terlebih-lebih pada bulan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan keterangan Rasulullah bahwa salah satu doa yang dikabulkan Allah adalah doa orang-orang yang berpuasa.

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW menegaskan, ”Inilah (Ramadhan) bulan yang ketika engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doa dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah, Rabb-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.” Karenanya, pada sisa Ramadhan ini, mari kita senantiasa terus bermohon dan berdoa kepada Allah. Salah satu doa yang Rasulullah ajarkan adalah, ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari golongan mereka yang empat macam itu.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Doa di atas merupakan doa yang merepresentasikan sifat atau keadaan yang mungkin dialami oleh setiap manusia. Hati yang tidak khusyuk dapat menyebabkan setiap ibadah yang dijalani tidak memberikan dampak pada kondisi keimanan kita. Ruh atau makna dari ibadah yang dilaksanakan tidak dapat diraih atau dipahami. Akibatnya, ibadah yang dilaksanakan hanya bernilai sekadar ritual dan di sisi Allah pun dapat menyebabkan tidak memiliki nilai ibadah.

Allah mencontohkan dalam firman-Nya bahwa shalat yang tidak khusyuk akan mengantarkan seseorang kepada siksa. Allah SWT berfirman, ”Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS 107: 4 – 7). Sebaliknya, khusyuk dalam beribadah merupakan salah satu tanda orang-orang beriman (perhatikan QS 23: 1-2).

Doa yang tidak didengar Allah merupakan kerugian bagi manusia. Doa yang tidak didengar, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (QS 2: 186) di atas, salah satunya disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan kepada Allah. Selain itu, doa yang tidak didengar bisa juga disebabkan oleh ketidakkhusyukan dalam berdoa.

Jiwa yang tidak puas menyebabkan kesengsaraan di dunia yang berkepanjangan. Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat menyebabkan ilmu yang diperoleh tidak berguna bagi dirinya dan tidak membawa kebaikan baginya. Uraian di atas menunjukkan betapa banyak keburukan yang diakibatkan oleh keempat golongan sifat di atas. Karenanya, mari kita berdoa agar kita terhindar dari keempat golongan orang tersebut. Wallahu a’lam bis-shawab.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Barangkali pekerjaan paling enak selain tidur itu adalah mengeluh. Lho? Iya, soalnya dengan mengeluh, kita akan mengeluarkan semua unek-unek kita, melampiaskan apa yang sedang bercokol di hati kita saat ini. Dan kita akan merasa plong setelah mengeluh itu. Lho itu kan curhat? Beda dong sama mengeluh? Nah, inilah yang kadang saya sendiri tidak bisa membedakan antara curhat, mengeluh, konsultasi, ato… nah ini yang berbahaya, kalo ternyata perbuatan yang dilakukan itu dilandasi oleh ketidaksyukuran kita terhadap apa yang kita dapatkan saat ini, yang bisa membawa kita kepada apa yang disebut kufur nikmat.

Kalau kita curhat, atau konsultasi, menurut ana kita memang sedang berada dalam masalah dan kita dalam kondisi ingin menghadapi masalah itu dan menyelesaikannya serta dilandasi oleh pemahaman bahwa apa yang kita hadapi adalah bagian dari kehidupan, bagian dari skenario Allah terhadap diri kita. Sedangkan kalo mengeluh, menurut saya, itu lebih disebabkan oleh kelemahan mental kita dalam menghadapi hidup, ketidakmampuan kita dalam mengatasi problem yang ada, keinginan agar persoalan itu hilang tanpa ada usaha, bukan menyelesaikannya, dan juga bisa jadi karena ketidaksyukuran kita terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada kita. Dan mengeluh biasanya itu disebabkan oleh masalah-masalah keduniawian. Gak punya mobil lah, gak punya hape keren kayak teman lah, gak punya perabot kayak tetangga lah, dan laen laen.

Siapa yang repot coba kalo gitu? Ya orang yang dikeluhi, kalo yang dikeluhkesahi adalah hal itu-itu saja, yang nampak bukan sebuah ketegaran hidup, tapi keinginan agar hidupnya berubah sekejap mata, tanpa ada usaha. Kita bisa bayangkan, bagaimana kalo tiap hari kita bertemu dengan orang yang omongannya gitu-gitu aja, mengelug terus. Katanya orang surabaya, “Gak onok syukure, ngersulo thok” alias gak pernah bersyukur, mengeluh terus.
Masalahnya kalo yang dikeluhkesahi adalah sama-sama gak bisa menyelesaikan masalah, maka hal itu bisa berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Sehingga, kita yang seharusnya berfikir bagaimana bermanfaat bagi orang lain, mencari penyelesaian masalah orang lain, malah sebaliknya.
Karena itulah, kita harus benar-benar memahami, hakikat dari kehidupan ini. Hakikat bahwa Allah-lah tempat kita bergantung. Hakikat bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Hakikat akan dunia yang fana. Hakikat akan hidup yang sebenarnya. Sehingga kita akan mendapat kebahagiaan yang hakiki, bukan kebahagiaan yang semu.