ENCIKEFFENDYNEWS.com

Pada tahun 2045, Indonesia diprediksi akan menjadi satu dari lima besar kekuatan ekonomi dunia. Hal ini tentu saja hanya akan menjadi angan – angan apabila proses pembangunan bangsa dan negara terhambat. Dibutuhkan keharmonisan antara pembangunan dengan aspek lainnya, terutama aspek agama.

Agama merupakan salah satu aspek yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045, moderasi beragama diperlukan guna menjaga keharmonisan antara hak beragama dan kewajiban berbangsa dan bernegara.

 “Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara.

Moderasi beragama dalam konteks ini berbeda pengertiannya dengan moderasi agama. Agama tentu tidak dapat dimoderasikan karena sudah menjadi ketetapan dari Tuhan, tetapi kita memoderasikan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang kita peluk sesuai dengan kondisi dan situasi sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama.

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa moderasi beragama akan mendangkalkan pemahaman keagamaan. Padahal, moderasi beragama justru mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan yang sesungguhnya. Orang dengan pemahaman agama yang baik akan bersikap ramah kepada orang lain, terlebih dalam menghadapi perbedaan. Singkatnya, Moderasi beragama bukan mencampuradukkan ajaran agama, melainkan menghargai keberagaman agama.

 Indikator moderasi beragama, yaitu toleransi, anti kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan. “Apabila empat indikator tersebut terpenuhi, kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai, dan toleran menuju pada kemajuan..

Terdapat banyak tantangan besar yang harus kita hadapi demi mewujudkan bangsa yang menjunjung moderasi beragama, beberapa di antaranya adalah berkembangnya ekstremisme dalam beragama, berkembangnya tafsir keagamaan yang bersifat subjektif dan diskriminatif serta berkembangnya paham keagamaan yang tidak sejalan dengan paham berbangsa dan bernegara.

 Dalam menyadarkan masyarakat melalui kampanye mengenai moderasi beragama.  Moderasi beragama sejatinya adalah menciptakan insan-insan yang memahami agama secara baik, mendalam, dan mengekspresikannya dengan cara yang baik. Selain itu, sangat penting juga untuk mengintegrasikan moderasi beragama dengan pendidikan karakter di lingkungan masing-masing. “Melalui pendidikan, maka terlahirlah orang-orang yang memiliki ilmu atau berilmu. Sekaligus mereka yang berbudi, memahami tentang bagaimana mengekspresikan keilmuannya dalam kehidupan bermasyarakat, berhati-hati, selalu menekankan aspek keadilan dan keseimbangan, dan ekspresi di dalam kehidupannya adalah mereka yang mencintai ruang-ruang kerukunan dan kedamaian dalam sikap yang toleran yang penuh arif dalam segala hal dan tindakan.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Salah satu kewajiban hamba beriman adalah melakukan aneka macam kebaikan dalam bentuk apa pun, di manapun, dan kapan pun. Pendek kata, setiap waktu bagi orang beriman adalah ladang untuk berbuat kebaikan.
Itulah yang Allah SWT firmankan kepada para nabi-Nya, antara lain, kepada Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub. ”Sesungguhnya Kami telah menjadikan mereka (Ibrahim, Ishak, dan Yakub) sebagai para pemimpin. Mereka memberikan petunjuk kepada umat-umat mereka berdasarkan perintah Kami. Dan, Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Al-Anbiya’: 73).
Rasulullah SAW menyatakan, ”Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR Bukhari).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan lebih detail bentuk-bentuk perbuatan baik orang beriman yang bernilai sedekah. Kata beliau, ”Setiap orang Muslim diharuskan bersedekah.”
Para sahabat bertanya, ”Bagaimanakah jika ia tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan sedekah?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Jika demikian, maka segala pekerjaan yang ia lakukan dengan tangannya sendiri dan hasilnya bermanfaat baginya, maka itu bernilai sedekah.”
Para sahabat bertanya lagi, ”Lalu, bagaimanakah jika ia tidak mampu bekerja atau ia tidak melakukan sesuatu?”
Rasulullah SAW kembali menjawab, ”Pertolongannya kepada saudaranya yang sedang tertimpa musibah, itulah sedekah.”
Para sahabat masih bertanya lagi, ”Bagaimanakah jika ia tidak melakukannya pula?”
Untuk kesekian kalinya Rasulullah SAW menjawab, ”Anjuran yang ia lakukan kepada orang lain untuk berbuat kebaikan, itulah sedekah.”
Untuk terakhir kalinya, para sahabat bertanya, ”Jika itu pun tidak ia lakukan?”
Dengan sabar, Rasulullah SAW menjelaskan, ”Ia mengambil sesuatu yang mengganggu perjalanan orang dari jalanan, maka itulah sedekah.” (HR Bukhari).
Di hadis yang lain disebutkan bahwa mengucapkan kata-kata yang baik dan bermanfaat kepada orang lain juga bernilai sedekah. Apalagi sampai melakukannya. Kata Rasulullah SAW, ”Takutlah kalian dengan siksa api neraka, dengan jalan sedekah walau sebesar satu buah kurma. Jika tidak kalian temukan, maka perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR Bukhari).
Kebaikan yang dilakukan dengan tulus ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, pasti akan selalu dibalas kebaikan pula oleh Allah SWT. ”Siapa yang berbuat kebaikan, walaupun sebesar dzarrah, maka pasti akan menuai balasannya yang setimpal.” (Al-Zalzalah: 7).
Dengan demikian, kebaikan adalah investasi beharga untuk setiap orang beriman di akhirat kelak. Allah SWT memerintahkan segenap kaum beriman untuk berlomba-lomba memperbanyak berbuat kebaikan. ”Berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan, karena di manapun kalian berada Allah pasti akan mengumpulkan kalian semua.” (Al-Baqarah: 148). Wallahu a’lam.

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Judul di atas tertempel di meja kerja seorang teman. Wajahnya cerah menyimpan genangan air keikhlasan. Tatapan matanya berbinar seakan tak ada rasa letih menghadapi gelombang kehidupan. Senyuman menghiasi dan membuktikan dia adalah orang yang menyenangkan.

Aku terheran-heran, hadirku ke dia karena kabar ujian hidup yang besar. Istrinya stroke, sebelah badannya lumpuh, anak pertamanya lahir cacat dengan kaki mengecil sebelah dan jalannya harus ditopang kruk. Tiga anaknya yang lain terserang hepatitis sehingga pertumbuhannya terhambat dan bayinya yang masih merah harus menjalani terapi biru (penyinaran fototerapi dengan lampu biru) karena terindikasi adanya penumpukan bilirubin (bayi kuning).

Namun semua tak membuat dia sedih,”Kenapa kamu tidak sedikitpun nampak sedih, padahal ujian berat sedang menimpa ?” tanyaku. Dengan tersenyum dia menjawab,”Saya manusia biasa tak luput dari rasa sedih, tapi kesedihan bukan penyelesai masalah, maka aku tulis ‘La Tahzan’ dan tambahan Don’t be Sad dari istriku agar aku tidak larut dengan kesedihan dalam menghadapi ujian”.

Kejadian diatas mengingatkan saya pada sebuah kitab yang dikarang oleh Dr. Aidh Al-Qarni yang berjudul La Tahzan yang tarjimnya diterbitkan oleh Qisthi press. Pada kitab tersebut diurai berbagai ujian yang menimpa manusia dan diberikan solusi agar tidak bersedih menghadapi semua ujian tersebut. Pada salah satu bahasannya memberikan resep agar tidak bersedih yaitu : Percaya sepenuhnya kepada Allah. Kesadaran bahwa semua yang telah Allah takdirkan akan terjadi. Sabar adalah senjata paling ampuh yang dipergunakan oleh orang yang mendapat ujian. Jika tidak sabar lalu apa yang bisa dilakukan. Dan tidak akan terbantu hanya dengan perasaan resah. Mungkin saja akan berada dalam kondisi yang lebih jelek daripada kondisi saat ini. Dari waktu ke waktu jalan keluar akan selalu terbuka. Memang dengan menerapkan resep diatas secara ruhiyah akan terlapangkan diri ini dari heterogenitas problem kehidupan. Meletakkan setiap permasalahan pada porsi jiwa yang benar adalah obat mujarab untuk membuang rasa sedih gundah gulana. Pelajaran agar perilaku hidup yang gampang larut dalam duka terkikis habis oleh sifat sabar dan selalu memandang hari ‘tomorrow will be better’.

La Tahzan, sabar dan optimisme bahwa setiap problem pasti ada jalan keluarnya, setiap penyakit ada obatnya.