ENCIKEFFENDYNEWS.com

Training Centre (TC) MTQ Kabupaten Lingga dimulai pada tanggal 26 – 31 Mei 2022, bertempat di Gapura Hotel Dabo Singkep, dibuka oleh Staff Ahli Kesra dan Tenaga Kerja  Bupati Lingga, dihadiri oleh Kekankemanag Kabupaten Lingga, seluruh Camat dan Tokoh Masyarakat Kabupeten Lingga. Juga oleh Pelatih Provinsi dan Kabupaten Lingga.

TC diharapkan dapat memaksimalkan seluruh peserta pada focus kegiatan masing-masing dan berharap Lingga bisa mempertahankan diri sebagai juara III nanti di provinsi.

Dengan melihat antusias dan semangat seluruh peserta peluang itu akan dapat diraih, sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, semoga ! aamiin.   (EA)*

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Hampir setiap orang bisa dipastikan ingin meraih kesempurnaan hidup. Dunia dapat, akhirat tidak tertinggal. Dalam paham komunisme pun, sekalipun mereka tidak meyakini adanya kehidupan sesudah mati, mereka tetap memimpikan adanya kesempurnaan hidup, yaitu dengan pencapaian kebahagiaan dunia. Untuk meraih tujuan yang satu ini, caranya bermacam-macam. Salah satu di antaranya adalah menumbuhkan segala potensi yang kita miliki.

Memupuk potensi yang ada, tidak mudah. Namun juga bukan persoalan yang sulit. Potensi, menurut Webster’s Dictionary, berasal dari kata ‘potent’ yang berarti ‘to be powerful’ atau menjadi kuat. Sedangkan kata ‘potency’ berarti ‘the ability or capacity to achieve or bring about a particular result’, yaitu kemampuan menghasilkan atau melahirkan suatu produk tertentu. Lawan katanya tentu saja impotent alias ketidakmampuan, atau ketidakberdayaan.

Tidak satupun di antara kita, sebagai umat Islam, mau disebut sebagai orang yang tidak berdaya. Karena orang-orang yang masuk kategori ini hanyalah orang-orang yang malas. Di rumah sakit jiwa (RSJ) saja, pasien-pasien dengan gangguan dan sakit jiwa ini dibekali dengan berbagai aktivitas positif. Malah di unit rehabilitasinya, mereka ini mampu menghasilkan uang. Hasil karya pasien-pasien RSJ kemudian, tentu dengan bantuan manajemen rumah sakit, dijual hingga dipamerkan. Demikian pula di panti-panti anak-anak cacat, orang jompo, dan lain-lain. Mereka tidak jarang menghasilkan karya-karya, hasil buah tangan yang membuat orang normal kagum. Pemberdayaan segala potensi yang ada ini, jika diupayakan dengan sungguh-sungguh, bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

bersambung,…

ENCIKEFFENDYNEWS.com

Di dalam Alquran surat Maryam ayat 2-6 digambarkan kerinduan Nabi Zakaria AS untuk mendapatkan anak keturunan (walaupun usia beliau sudah lanjut dan istrinya mandul). Kerinduannya ini didorong oleh keinginan kuatnya terhadap pewarisan nilai-nilai perjuangan yang dimiliki keluarganya, yaitu keluarga Nabi Yakub AS yang menjadi nenek moyangnya.

Hal yang sama dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS dan nabi-nabi yang lainnya, seperti dikemukakan dalam surat al-Baqarah ayat 132-133. Para Nabi Allah tersebut (semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepada mereka) selalu berwasiat kepada anak keturunannya tentang siapa yang akan mereka sembah (yang diibadahi) setelah mereka meninggal dunia. Hal ini sekaligus memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga bahwa posisi keluarga sangat strategis dan menentukan dalam upaya pembentukan karakter sebuah generasi. Generasi yang baik pada umumnya lahir dari keluarga yang baik. Sebaliknya, dari keluarga yang rusak tidak banyak diharapkan munculnya generasi yang memiliki watak dan kepribadian yang baik dan bertanggung jawab pula.

Allah SWT berfirman dalam surat at-Tahrim ayat 6, ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka (perbuatan yang akan mencelakakan) yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Juga firman-Nya dalam surat Thaha ayat 132, ”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Dalam membangun keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan yang kuat dan mendasar, peran kedua orang tua sangat menentukan. Yaitu, terutama menjadi contoh dan suri teladan bagi anak-anaknya. Bahasa teladan dan amal perbuatan ternyata jauh lebih efektif daripada bahasa lisan serta suruhan yang bersifat verbal. Anak-anak melihat apa yang dilakukan, bukan semata-mata mendengar apa yang diperintahkan. Dan terlebih lagi, akan sangat berbahaya bagi pembentukan karakter anak apabila selalu terjadi kontradiksi antara perkataan dengan perbuatan.

Hal yang penting lagi adalah pemenuhan kebutuhan hidup keluarga selalu diusahakan seoptimal mungkin dengan rezeki yang halal dan baik, di samping doa dan permohonan pada Allah SWT. Sebab, rezeki yang halal akan mendorong pada perilaku yang baik. Sebaliknya, rezeki yang haram akan mendorong pada perilaku yang buruk dan merusak. Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap daging yang tumbuh dari rezeki yang haram, maka neraka akan lebih utama baginya.” Artinya, rezeki yang haram akan selalu mengakibatkan perilaku yang mencelakakan kehidupan di dunia maupun di akhirat.